
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Siti Fatimah Azzahra
Rindu yang Membawa Kita Kembali kepada Diri Sendiri
Refleksi atas Antologi Cerpen Sajak-Sajak tentang Lie karya Heri Isnaini
Membaca antologi cerpen Sajak-Sajak tentang Lie karya Heri Isnaini membuat saya memikirkan kembali arti kerinduan dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini, rindu sering dipahami sebagai perasaan yang muncul ketika kita berjauhan dengan seseorang yang disayangi. Namun, setelah membaca buku ini, saya merasa bahwa rindu memiliki wilayah yang jauh lebih luas. Kita dapat merindukan keluarga, rumah, masa kecil, suasana yang pernah akrab, bahkan pengalaman sederhana yang dahulu tidak pernah dianggap istimewa. Rindu kadang baru terasa setelah waktu mengubah keadaan dan kita menyadari bahwa sesuatu yang pernah dekat ternyata tidak lagi dapat dijangkau dengan cara yang sama.
Hal yang menarik perhatian saya adalah kehadiran sosok Lie yang tidak hanya berfungsi sebagai tokoh dalam cerita, tetapi juga membuka kemungkinan pemaknaan tentang ingatan dan pencarian diri. Lie seolah mengajak pembaca memikirkan hubungan antara manusia dan bagian dirinya yang mungkin terlupakan. Dalam perjalanan hidup, kita mengalami perubahan, bertemu banyak orang, menghadapi berbagai keadaan, dan mengambil keputusan yang perlahan membentuk kepribadian. Di tengah semua itu, tidak jarang kita menjauh dari diri sendiri tanpa benar-benar menyadarinya. Karena itu, pencarian terhadap Lie dapat dibaca sebagai kesempatan untuk menengok kembali pengalaman yang membentuk diri kita, termasuk pengalaman yang selama ini tersimpan jauh di dalam ingatan.
Bagi saya, kekuatan sastra terletak pada kemampuannya membuat sesuatu yang akrab terasa berbeda ketika kita membacanya kembali. Pengalaman kehilangan, misalnya, tidak selalu datang melalui perpisahan yang besar. Kehilangan dapat muncul ketika kita menyadari bahwa rumah masa kecil telah berubah, orang tua semakin menua, teman lama tidak lagi hadir dalam keseharian, atau kebiasaan yang dahulu menemani hidup kini hanya tersisa sebagai kenangan. Hal-hal semacam itu sering berlangsung tanpa banyak perhatian. Kita menjalani hari demi hari, sampai suatu peristiwa kecil membangkitkan ingatan dan membuat kita memahami bahwa waktu telah membawa perubahan yang tidak seluruhnya dapat kita kembalikan.
Saya juga melihat bahwa ingatan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang utuh. Ada bagian masa lalu yang masih dapat kita ceritakan dengan jelas, tetapi ada pula yang hanya tersisa sebagai suasana, suara, bayangan, atau perasaan yang sulit dijelaskan. Terkadang, sebuah lagu mengingatkan kita pada seseorang; aroma makanan membawa kita kembali ke rumah; atau sebuah tempat membuat kita teringat pada percakapan yang telah lama berlalu. Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa ingatan bukan sekadar kumpulan peristiwa yang disimpan dalam pikiran. Ingatan juga berkelindan dengan perasaan dan cara kita memahami kehidupan. Dalam pembacaan saya, Sajak-Sajak tentang Lie memberi ruang untuk merenungkan bagaimana sesuatu yang tampaknya telah berlalu masih dapat memengaruhi kehidupan kita hari ini.
Hal lain yang saya pelajari dari buku ini ialah bahwa karya sastra tidak selalu harus memberikan jawaban yang pasti. Ada cerita yang selesai dengan penjelasan yang terang, tetapi ada pula cerita yang meninggalkan pertanyaan untuk dibawa pulang oleh pembacanya. Bagi saya, pengalaman membaca menjadi menarik ketika sebuah cerita tidak memaksa kita menerima satu kesimpulan, melainkan memberi kesempatan untuk menghubungkan kisah di dalam buku dengan pengalaman pribadi. Setiap pembaca mungkin menemukan makna yang berbeda karena masing-masing membawa ingatan, kehilangan, dan harapan yang tidak sama. Dengan demikian, membaca bukan hanya kegiatan memahami cerita orang lain, tetapi juga kegiatan mengenali kembali pengalaman yang selama ini membentuk diri kita.
Melalui buku ini, saya semakin menyadari bahwa masa lalu tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang perlu terus-menerus kita datangi. Masa lalu memang tidak dapat diulang, tetapi pengalaman yang tersimpan di dalamnya dapat membantu kita memahami keadaan sekarang. Kenangan tentang keluarga, misalnya, dapat membuat kita lebih menghargai waktu bersama orang-orang yang masih hadir dalam kehidupan. Pengalaman masa kecil dapat mengingatkan kita pada kesederhanaan yang mungkin mulai hilang ketika tanggung jawab semakin banyak. Bahkan pengalaman yang menyakitkan dapat memberi pemahaman tentang batas diri, pilihan, dan cara kita memperlakukan orang lain. Masa lalu tidak selalu menyediakan jawaban, tetapi ia dapat menjadi bahan perenungan untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih baik.
Pada akhirnya, membaca Sajak-Sajak tentang Lie membuat saya berpikir bahwa rindu bukan semata-mata keinginan untuk kembali kepada sesuatu yang telah hilang. Rindu juga dapat menjadi jalan untuk memahami apa yang masih tinggal dalam diri kita setelah waktu berlalu. Buku ini mengingatkan saya agar tidak terlalu cepat menganggap remeh orang-orang, pengalaman, dan hal-hal sederhana yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang terasa biasa hari ini mungkin kelak menjadi bagian dari ingatan yang paling berharga. Barangkali, yang perlu kita lakukan bukan berusaha mengembalikan seluruh masa lalu, melainkan belajar mengenali maknanya dan merawat apa yang masih dapat kita temui hari ini. Sebab, dalam perjalanan memahami apa yang kita rindukan, kita mungkin sedang belajar memahami diri sendiri.












Tinggalkan Balasan