Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kartini dan Perempuan Modern Dalam Ilusi Kebebasan

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Ada satu lapisan yang sering luput ketika kita membaca R.A. Kartini. Ia bukan hanya penulis, tetapi juga teks yang terus ditulis ulang. Surat-suratnya, yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, tidak hadir kepada kita sebagai suara yang murni, melainkan sebagai suara yang telah melewati proses seleksi, penyuntingan, dan pembingkaian. Di titik ini, Kartini bukan lagi sekadar subjek yang berbicara, tetapi objek yang direpresentasikan.

Maka pertanyaannya bergeser, bukan hanya apa yang dikatakan Kartini, tetapi bagaimana Kartini dihadirkan kepada kita.

Sejarah tidak pernah bekerja sebagai cermin yang jujur; ia lebih mirip panggung yang memilih adegan mana yang layak ditampilkan. Kartini yang kita kenal hari ini adalah Kartini yang telah “rapi” menjadi tokoh emansipasi, simbol pendidikan, figur yang terang. Sementara sisi-sisi lain (keraguan, ambiguitas, bahkan kelelahan batin) sering kali disisihkan agar narasi tetap utuh dan mudah diterima. Dalam proses ini, Kartini tidak hanya dikenang, tetapi juga disusun ulang agar sesuai dengan kebutuhan zaman.

Apa yang terjadi pada Kartini, secara diam-diam, juga terjadi pada perempuan modern. Mereka tidak lagi sekadar hidup, tetapi juga terus-menerus direpresentasikan. Di media sosial, dalam iklan, dalam wacana publik, perempuan hadir sebagai citra yang dikurasi. Mereka tidak hanya menjadi diri sendiri, tetapi juga menjadi versi yang bisa dilihat, disukai, dan diterima.

Perempuan modern hidup dalam dua lapisan sekaligus, yaitu sebagai subjek yang mengalami, dan sebagai objek yang ditampilkan.

Di sinilah politik representasi bekerja paling halus. Ia tidak melarang perempuan untuk berbicara, tetapi menentukan bagaimana mereka harus terlihat ketika berbicara. Ia tidak membungkam, tetapi menyaring. Dalam dunia yang dipenuhi layar, perempuan bisa sangat hadir secara visual, tetapi tetap jauh dari kontrol atas makna dirinya sendiri.

Sastra menjadi ruang yang unik dalam membaca ketegangan ini. Di satu sisi, ia bisa mereproduksi representasi yang sama, yaitu menjadikan perempuan sebagai karakter yang ditulis dari luar dirinya. Namun di sisi lain, sastra juga membuka kemungkinan perlawanan, yakni memberi ruang bagi perempuan untuk menulis dirinya sendiri, bahkan untuk merusak cara dirinya selama ini dituliskan.

Dalam karya Leila S. Chudori, misalnya, kita melihat bagaimana tokoh-tokoh perempuan tidak sekadar hadir sebagai pelengkap sejarah, tetapi sebagai kesadaran yang ikut membentuk narasi sejarah itu sendiri. Mereka tidak hanya ditampilkan, tetapi juga memahami bagaimana mereka ditampilkan. Sementara Ratih Kumala melalui Gadis Kretek menghadirkan perempuan yang berada di tengah arus sejarah dan industri, tetapi tetap memiliki suara yang tidak sepenuhnya tunduk pada konstruksi yang mengitarinya.

Namun, pertanyaan epistemologis tetap tersisa, “Apakah mereka benar-benar telah keluar dari sistem representasi, atau hanya menempati posisi yang lebih strategis di dalamnya?”

Perempuan modern mungkin telah memperoleh ruang untuk tampil, tetapi ruang itu tidak selalu netral. Ia diatur oleh selera pasar, logika algoritma, dan ekspektasi sosial yang terus berubah. Dalam kondisi ini, menjadi “terlihat” tidak selalu berarti menjadi “bebas”. Justru kadang, semakin terlihat seseorang, semakin ia harus menyesuaikan dirinya dengan cara pandang yang mengamatinya.

Kartini, dalam pembacaan ini, menjadi cermin yang tidak nyaman. Ia mengingatkan bahwa setiap suara berisiko menjadi teks yang disunting, setiap pengalaman berisiko menjadi narasi yang disederhanakan. Ia tidak hanya berbicara tentang kebebasan, tetapi juga tentang bagaimana kebebasan itu bisa direpresentasikan secara terbatas.

Dan mungkin, kita mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam bahwa perjuangan perempuan bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk menjaga agar suaranya tidak sepenuhnya diambil alih oleh cara orang lain mendengarnya.

Kartini telah menulis, tetapi juga telah ditulis ulang. Perempuan modern juga hidup, tetapi sekaligus terus ditampilkan.

Di antara keduanya, ada satu pertanyaan tajam, “Apakah kita benar-benar sedang menjadi diri kita sendiri, atau sedang memainkan peran yang telah disiapkan jauh sebelum kita sempat memilih?”

Bandung, 21 April 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *