Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menurunnya Sopan Santun Siswa di Era Digital: Saatnya Inovasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Ai Maryati

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak, termasuk siswa sekolah dasar. Kehadiran gawai, media sosial, dan berbagai platform digital memberikan banyak manfaat sebagai sumber informasi dan media pembelajaran. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan, yaitu menurunnya sikap sopan santun, adab, dan rasa hormat anak terhadap orang lain. Fenomena ini semakin dirasakan oleh guru maupun orang tua, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Gejala tersebut tampak dalam berbagai perilaku sehari-hari. Tidak sedikit siswa yang terbiasa menggunakan kata-kata kasar saat berbicara dengan teman, saling mengejek, kurang menghargai pendapat orang lain, bahkan berani membantah guru. Di dalam kelas, sebagian siswa masih bercanda secara berlebihan ketika guru sedang menjelaskan materi. Ada pula yang berbicara dengan bahasa yang kurang santun tanpa merasa sungkan meskipun berada di hadapan guru. Di lingkungan keluarga, intensitas penggunaan gawai yang tinggi juga menyebabkan interaksi anak dengan orang tua semakin berkurang. Anak lebih asyik menatap layar dibandingkan membangun komunikasi dengan anggota keluarga.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun tumbuh kembang anak agar memiliki kecerdasan, budi pekerti, dan kepribadian yang baik. Oleh sebab itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran di sekolah. Sayangnya, derasnya arus informasi digital yang tidak diimbangi dengan pendampingan dan pembiasaan nilai-nilai positif membuat anak lebih mudah meniru perilaku negatif yang mereka lihat di media sosial maupun lingkungan sekitar.

Penggunaan gawai yang berlebihan juga berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak. Mereka cenderung lebih mudah marah, kurang sabar, sulit berkonsentrasi, dan cepat merasa bosan ketika menghadapi aktivitas yang memerlukan proses, seperti membaca, berdiskusi, atau menyimak penjelasan guru. Akibatnya, kemampuan bersosialisasi pun ikut menurun. Anak menjadi lebih individualis, kurang peka terhadap perasaan teman, dan semakin rendah rasa empatinya.

Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi guru sekolah dasar. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam aktivitas belajar sehari-hari.

Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah program “Sekolah Berkarakter dan Hari Berbahasa Santun.” Program ini bertujuan membiasakan siswa menggunakan bahasa yang sopan, santun, dan penuh penghargaan kepada orang lain. Guru dapat mengawali setiap kegiatan pembelajaran dengan membiasakan siswa mengucapkan salam, menyapa dengan ramah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, serta menggunakan tutur kata yang baik kepada guru maupun teman. Selain itu, sekolah dapat menetapkan satu hari khusus sebagai Hari Berbahasa Santun, yaitu hari ketika seluruh warga sekolah berkomitmen menggunakan bahasa yang santun dalam setiap interaksi.

Pembelajaran karakter juga dapat dilakukan melalui metode role play atau bermain peran. Dalam kegiatan ini, siswa diajak memeragakan berbagai situasi yang sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara meminta izin, menghormati guru, meminta maaf kepada teman, atau menyelesaikan konflik tanpa menggunakan kata-kata kasar. Melalui pengalaman langsung tersebut, siswa tidak hanya memahami konsep sopan santun secara teoritis, tetapi juga belajar menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Inovasi lainnya adalah menghadirkan Pojok Karakter di setiap kelas. Sudut kelas ini dapat diisi dengan kutipan inspiratif, kisah teladan tentang akhlak mulia, serta papan apresiasi bagi siswa yang menunjukkan perilaku terpuji. Guru dapat memberikan penghargaan sederhana kepada siswa yang konsisten menunjukkan sikap positif, seperti membantu teman, berbicara dengan sopan, menjaga kebersihan kelas, atau menghormati guru. Apresiasi tersebut bukan semata-mata sebagai hadiah, melainkan sebagai bentuk penguatan agar perilaku baik menjadi kebiasaan.

Keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah. Peran orang tua sangat menentukan karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Orang tua perlu menjadi teladan dalam bertutur kata, bersikap santun, serta membatasi penggunaan gawai secara bijaksana. Komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua juga perlu dibangun agar pembinaan karakter anak berlangsung secara berkesinambungan, baik di sekolah maupun di rumah.

Pada akhirnya, pendidikan karakter merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkaya pembelajaran, bukan menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kesopanan. Melalui pembiasaan yang konsisten, keteladanan guru dan orang tua, serta inovasi pembelajaran yang menarik, sekolah dapat melahirkan generasi yang santun, disiplin, peduli terhadap sesama, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari tingginya nilai rapor, melainkan juga dari kualitas karakter yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Bionarasi Penulis

Nama saya Ai Maryati merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) semester 4 di IKIP Siliwangi. Selain aktif sebagai mahasiswa, saya juga berperan sebagai ibu rumah tangga dan ibu dari tiga anak perempuan. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa dan ibu rumah tangga saya juga mengajar di sebuah PAUD dan sekolah dasar sehingga memiliki pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan anak-anak setiap hari.

Melalui pengalaman di dunia pendidikan, saya melihat bahwa perkembangan teknologi yang semakin modern membawa pengaruh besar terhadap perilaku anak. Banyak anak mulai kurang menunjukkan sikap sopan santun, rasa hormat, dan empati terhadap guru maupun teman sebaya. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena kemajuan zaman tidak selalu diimbangi dengan perkembangan akhlak dan adab anak.

Berangkat dari pengalaman tersebut, saya memiliki ketertarikan pada inovasi pembelajaran karakter yang mampu menyeimbangkan perkembangan teknologi dengan pendidikan moral dan etika. saya berharap pendidikan di sekolah tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang santun, berakhlak baik, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *