
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Karlina Yulianti
Di tengah derasnya arus teknologi yang kian menguasai kehidupan anak-anak masa kini, ada satu kenangan yang perlahan memudar, tetapi menyimpan nilai yang tak ternilai harganya. Kenangan itu bukan tentang ponsel pintar, permainan daring, atau media sosial. Kenangan itu adalah suara riuh tawa di halaman sekolah, debu yang beterbangan saat kaki berlari, dan semangat yang menyala ketika bermain bersama teman-teman tanpa mengenal lelah.
Saya masih mengingat jelas masa-masa sekolah dasar. Teriknya matahari siang tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermain. Begitu bel istirahat berbunyi, kami berhamburan keluar kelas menuju lapangan. Tidak ada layar yang menyita perhatian, tidak ada notifikasi yang mengganggu kebersamaan, dan tidak ada dunia maya yang membuat kami lupa akan dunia nyata. Yang ada hanyalah keringat, tawa yang lepas, dan kebersamaan yang tumbuh begitu alami.
Masa SD bagi saya bukan sekadar belajar membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, masa tersebut adalah ruang belajar kehidupan. Lapangan sekolah menjadi kelas kedua yang mengajarkan arti persahabatan, kerja sama, sportivitas, dan rasa saling menghargai. Di sanalah kami belajar bahwa kemenangan bukanlah tujuan utama, melainkan proses untuk tumbuh bersama.
Permainan tradisional bukan sekadar cara mengisi waktu istirahat. Permainan itu adalah budaya yang hidup di tengah anak-anak. Tidak ada syarat khusus untuk bergabung. Tidak ada pertanyaan tentang latar belakang keluarga, agama, suku, ataupun kondisi ekonomi. Kalimat sederhana, “Ayo, ikut main!” sudah cukup menjadi undangan yang menghapus semua sekat. Lapangan sekolah menjadi ruang sosial yang paling demokratis, tempat setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tertawa dan bermain.
Salah satu permainan yang paling membekas dalam ingatan saya adalah galah asin. Permainan ini membutuhkan keberanian, strategi, serta kerja sama tim. Garis-garis lapangan menjadi batas wilayah yang harus dijaga dengan penuh konsentrasi. Ketika menjadi penjaga, tubuh harus bergerak cepat mengikuti setiap gerakan lawan. Sebaliknya, ketika bertugas melewati penjagaan, kami saling memberikan kode melalui tatapan mata atau gerakan kecil agar strategi berjalan dengan baik. Dari permainan sederhana ini saya belajar bahwa keberhasilan tidak pernah diraih sendirian. Setiap langkah menuju garis akhir selalu membutuhkan dukungan dan kepercayaan dari teman.
Permainan lain yang tidak kalah berkesan adalah boi-boian. Permainan ini menggunakan tumpukan genteng atau pecahan keramik yang disusun rapi, kemudian dirobohkan dengan bola kasti. Setelah tumpukan itu berserakan, tugas kami adalah menyusunnya kembali sambil menghindari lemparan bola dari tim lawan. Di balik keseruannya, permainan ini mengajarkan pelajaran hidup yang begitu dalam. Tidak semua yang runtuh harus disesali. Ada kalanya kita harus bangkit, menyusun kembali apa yang telah berantakan, dan tetap tenang meski berada di bawah tekanan. Nilai-nilai seperti ketangguhan, kerja sama, dan ketekunan tumbuh tanpa kami sadari.
Begitu pula dengan lompat tali yang dibuat dari rangkaian karet gelang. Permainan ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan harus dilalui secara bertahap. Kami memulai dari ketinggian lutut, lalu naik ke pinggang, dada, bahu, hingga mencapai level “merdeka” di atas kepala. Tidak ada jalan pintas menuju lompatan tertinggi. Semua harus melalui proses. Menariknya, anak yang memegang tali pun memiliki peran yang sama pentingnya dengan anak yang melompat. Mereka belajar membantu tanpa harus menjadi pusat perhatian. Dari sini saya memahami bahwa keberhasilan seseorang sering kali lahir dari dukungan orang lain yang bekerja dalam diam.
Jika direnungkan lebih dalam, permainan tradisional sesungguhnya merupakan pendidikan karakter yang berlangsung secara alami. Anak-anak belajar disiplin melalui aturan permainan, belajar jujur ketika mengakui kesalahan, belajar bertanggung jawab atas perannya, serta belajar menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. Semua nilai tersebut tumbuh bukan melalui ceramah, melainkan melalui pengalaman yang menyenangkan.
Sayangnya, permainan-permainan itu kini semakin jarang ditemui. Lapangan sekolah yang dahulu dipenuhi suara tawa perlahan berganti dengan anak-anak yang duduk berjejer sambil menatap layar gawai. Jempol mereka lebih aktif daripada kaki mereka. Percakapan berubah menjadi pesan singkat, dan pertemanan perlahan bergeser menjadi hubungan virtual. Teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi jika digunakan tanpa keseimbangan, ia dapat mengurangi ruang interaksi sosial yang sangat dibutuhkan anak-anak.
Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan sosial peserta didik. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menghadirkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari aktivitas sekolah. Permainan tradisional dapat dimasukkan dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), pembelajaran Pendidikan Jasmani, kegiatan ekstrakurikuler, hingga program literasi budaya di sekolah. Dengan demikian, permainan tradisional tidak hanya dikenang sebagai nostalgia, tetapi benar-benar dihidupkan kembali sebagai media pendidikan karakter.
Di sisi lain, orang tua juga memiliki peran penting. Anak-anak tidak cukup hanya diberi batasan waktu menggunakan gawai, tetapi juga perlu diberikan alternatif aktivitas yang menyenangkan. Mengajak mereka bermain di halaman rumah, mengenalkan permainan masa kecil, atau sekadar meluangkan waktu bermain bersama dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar. Sebab, anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dialami.
Melestarikan permainan tradisional sejatinya bukan sekadar menjaga warisan budaya. Lebih dari itu, kita sedang menjaga ruang tumbuh anak agar tetap sehat secara fisik, emosional, dan sosial. Permainan tradisional mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk berteman. Tidak ada perbedaan status sosial, warna kulit, kemampuan, maupun asal daerah ketika semua anak berlari mengejar bola atau saling menyemangati dalam permainan. Mereka dipersatukan oleh tawa dan semangat yang sama.
Kini saya menyadari bahwa kenangan masa sekolah dasar telah membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan. Permainan-permainan sederhana itu mengajarkan arti kebersamaan, empati, kerja sama, dan penghargaan terhadap setiap individu. Semua pelajaran tersebut masih saya bawa hingga dewasa. Dunia ternyata terlalu luas jika hanya dilihat melalui layar gawai. Kehidupan yang sesungguhnya ada di luar sana, di lapangan, di halaman sekolah, di tempat kita belajar berlari, jatuh, bangkit kembali, dan tertawa bersama.
Sudah saatnya kita mengajak anak-anak meletakkan gawainya sejenak dan kembali menghidupkan permainan tradisional. Mari jadikan halaman sekolah sebagai ruang persaudaraan, tempat setiap anak belajar menjadi manusia yang sehat, tangguh, dan peduli terhadap sesamanya. Sebab pada akhirnya, sahabat sejati tidak ditemukan di balik layar yang dingin, melainkan lahir dari tangan-tangan yang saling menggenggam, langkah kaki yang berlari bersama, dan tawa yang menggema di bawah hangatnya sinar matahari. Dari lapangan-lapangan sederhana itulah benang-benang kebersamaan kembali dirajut, menghadirkan masa kecil yang bukan hanya indah untuk dikenang, tetapi juga bermakna untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bionarasi Penulis
Nama saya Karlina Yulianti, atau lebih akrab disapa dengan nama Olin, kelahiran Bandung pada tanggal 02 Juli 2006 dan bertempat tinggal di Cisarua, yang kini tertarik pada dunia pendidikan anak. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan di IKIP Siliwangi pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan sembari mengabdikan sebagai guru di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Langkah saya di dunia pendidikan ini bukanlah sebuah kebetulan, namun hasil dari penjalanan panjang dan peperangan antara hati dan pikiran saya untuk memantapkan masuk ke dalam dunia pendidikan.
Di tengah gemparnya permainan digital, pendidikan bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan bagaimana serunya dan hangatnya kebersamaan pada jaman dulu. Saya tidak ingin gadget sepenuhnya menggantikan riuhnya tawa di lapangan, karena disana justru menghadirkan kembali semangat permainan tradisional di lingkungan sekolah. Inisiatif ini bertujuan agar peserta didik dapat berinteraksi secara aktif dan alami. Dengan bergerak bersama di lapangan, anak-anak belajar bahwa setiap individu memiliki nilai yang tidak dibatasi oleh sekat perbedaan serta tanpa harus terpaku pada gadget.
Di luar aktivitas itu, dapat ditemui di Instagram melalui akun saya yaitu @kaarliinaaa_. Saya senang mengekspresikan kehidupan baik rasa sedih, bahagia, maupun motivasi diri melalui kata-kata atau sepenggal tulisan. Kata-kata itu bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan tempat mengekspresikan hati untuk bertumbuh dan memberikan energi positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Menulis juga sebuah media untuk mengolah rasa sekaligus untuk menguatkan kembali langkah saya. Serta bisa menularkan energi positif bahwa kita bisa berteman dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan. Bagi saya menjadi seorang guru di era digital ini berarti harus berani berinovasi tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan. Di era gempuran teknologi yang canggih, tetap masih ada hati yang tulus yang membimbing generasi penerus bangsa dengan menciptakan lingkungan yang tidak hanya cerdas teknologi tetapi juga hangat secara kemanusiaan. Dengan mengurangi penggunaan gadget dan memperbanyak aktivitas fisik melalui permainan tradisional, kesehatan tubuh tetap terjaga sekaligus mengasah kecerdasan sosial mereka.












Tinggalkan Balasan