
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Dini
Menghidupkan Kelas dengan “Jajan Pasar”
Saat Belajar Bahasa Indonesia Berpadu dengan Literasi Finansial dan Cinta Budaya
Belajar Bahasa Indonesia sering kali dianggap identik dengan membaca teks, menulis kalimat, atau mengerjakan latihan di buku. Padahal, pelajaran ini dapat dikemas menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna. Di tengah tuntutan Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran kontekstual, guru ditantang menghadirkan aktivitas yang mampu membuat siswa belajar melalui pengalaman nyata.
Salah satu inovasi sederhana, tetapi memiliki dampak besar, adalah menghadirkan suasana pasar tradisional ke dalam ruang kelas melalui kegiatan “Jajan Pasar”. Aktivitas ini bukan sekadar permainan jual beli, melainkan media belajar yang mengintegrasikan keterampilan berbahasa, literasi finansial, numerasi, hingga pengenalan budaya lokal.
Bagi siswa sekolah dasar, konsep uang sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Mereka sering menerima uang saku atau membeli makanan di kantin. Namun, tidak sedikit yang masih keliru ketika harus menuliskan nominal uang sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Ada yang lupa menggunakan lambang rupiah, salah menempatkan tanda titik sebagai pemisah ribuan, atau belum mampu menuliskan nominal tersebut dalam bentuk kata.
Kesulitan-kesulitan itu menunjukkan bahwa pembelajaran tidak cukup hanya melalui penjelasan di papan tulis. Anak-anak membutuhkan pengalaman langsung agar konsep yang dipelajari benar-benar dipahami. Di sinilah kegiatan “Jajan Pasar” menjadi sangat relevan.
Guru menyulap sudut kelas menjadi sebuah pasar tradisional mini. Berbagai gambar jajanan khas Nusantara, seperti klepon, serabi, nagasari, lepet, kue cucur, putu ayu, dan aneka kudapan tradisional lainnya dipajang layaknya dagangan di sebuah lapak. Setiap jajanan diberi label harga yang bervariasi, mulai dari Rp500 hingga Rp20.000.
Begitu kegiatan dimulai, suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Siswa berperan sebagai pembeli yang bebas memilih jajanan sesuai keinginan mereka. Kebebasan memilih ini membuat anak merasa memiliki pengalaman belajar yang menyenangkan, bukan sekadar menyelesaikan tugas dari guru.
Setelah menentukan pilihan, siswa menempelkan gambar jajanan pada lembar kerja berbentuk piring saji. Dari sinilah pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Mereka diminta menuliskan nama makanan yang dipilih, menulis harga menggunakan lambang rupiah sesuai aturan, kemudian mengubah nominal tersebut menjadi bentuk kalimat, misalnya Rp5.000 ditulis menjadi lima ribu rupiah.
Kegiatan yang tampak sederhana ini sesungguhnya melatih banyak keterampilan sekaligus. Anak belajar mengenali ejaan yang benar, memahami aturan penulisan mata uang, sekaligus menghubungkan angka dengan bahasa. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena konsep yang dipelajari berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Proses belajar tidak berhenti di situ. Guru kemudian meminta siswa menunjukkan pecahan uang asli yang nilainya sesuai dengan harga jajanan yang dipilih. Ada yang mengeluarkan uang logam, ada pula yang menunjukkan pecahan uang kertas. Aktivitas ini membantu siswa mengenali berbagai nominal rupiah sekaligus melatih kemampuan mereka dalam menggunakan uang secara nyata.
Jika ditinjau dari perspektif pendidikan, kegiatan ini sejalan dengan pendekatan experiential learning, yaitu belajar melalui pengalaman langsung. Anak tidak sekadar menerima informasi, tetapi mengalami sendiri proses belajar. Mereka mengamati, memilih, menulis, berdiskusi, hingga membuktikan pemahamannya menggunakan uang yang sesungguhnya. Cara belajar seperti ini terbukti lebih mudah dipahami dan lebih lama diingat dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat ceramah.
Lebih dari sekadar belajar menulis nominal uang, kegiatan ini juga mengenalkan kembali kekayaan kuliner tradisional Indonesia. Di tengah maraknya makanan cepat saji dan jajanan kemasan, banyak anak yang mulai asing dengan klepon, cucur, atau lepet. Melalui kegiatan ini, guru secara tidak langsung menanamkan rasa bangga terhadap makanan tradisional sekaligus memperkenalkan pilihan jajanan yang lebih sehat dan dekat dengan budaya bangsa.
Manfaat lainnya juga tampak pada aspek karakter. Saat simulasi berlangsung, siswa belajar mengantre, menghargai giliran, berkomunikasi dengan teman, serta memahami etika sederhana dalam proses jual beli. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang sering kali lebih efektif diajarkan melalui praktik dibandingkan nasihat.
Tentu, pelaksanaan kegiatan seperti ini memiliki tantangan. Suasana kelas yang terlalu ramai menjadi salah satu kendala yang mungkin muncul. Namun, guru dapat mengatasinya dengan membagi siswa ke dalam kelompok kecil atau menggunakan sistem nomor antrean sehingga aktivitas tetap berlangsung tertib. Bahkan, persiapan media pembelajaran dapat melibatkan siswa sehari sebelumnya sebagai bagian dari kegiatan kreatif di kelas.
Menariknya, inovasi ini lahir dari praktik baik yang dibagikan oleh sesama pendidik melalui media sosial. Ide dasar simulasi “Jajan Pasar” terinspirasi dari konten edukatif yang diunggah akun TikTok @juliyanti_july. Inspirasi tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh dengan mengintegrasikan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi penulisan nilai mata uang sesuai kaidah bahasa yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan relevan.
Pada akhirnya, pembelajaran yang baik bukanlah pembelajaran yang paling rumit, melainkan yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik. Ketika ruang kelas mampu menghadirkan pengalaman yang akrab dengan keseharian mereka, proses belajar menjadi lebih bermakna.
Melalui kegiatan “Jajan Pasar”, siswa tidak hanya belajar menulis nominal rupiah dengan benar. Mereka juga belajar mengenal budaya lokal, memahami nilai uang, berlatih berkomunikasi, dan mengembangkan berbagai keterampilan hidup yang akan berguna di masa depan. Inovasi sederhana ini menjadi bukti bahwa kreativitas guru mampu mengubah pelajaran yang semula dianggap biasa menjadi pengalaman belajar yang berkesan.
Di era pendidikan yang terus berubah, mungkin inilah saatnya guru lebih sering “membawa dunia” ke dalam kelas, agar kelas tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk mengalami, bereksplorasi, dan bertumbuh bersama.
Bionarasi Penulis
Dini merupakan mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di IKIP Siliwangi Cimahi. Saat ini ia sedang fokus mempelajari berbagai metode mengajar yang seru dan mudah dipahami oleh anak-anak SD. Melalui tugas UTS ini, Dini ingin mencoba menerapkan ide-ide kreatif yang bisa membuat suasana kelas jadi lebih hidup. Ia berharap kedepannya bisa menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa-siswinya.












Tinggalkan Balasan