Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ketika Sekolah Tak Lagi Berani Mengatakan “Belum”

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Herman Priatna

Menjelang pembagian rapor, ruang guru sering menjadi tempat lahirnya berbagai pertimbangan yang tidak sederhana. Di atas meja ada daftar nilai, catatan kehadiran, hasil ujian, dan berbagai laporan perkembangan siswa. Namun yang paling berat sering kali bukan menghitung angka-angka itu, melainkan menjawab satu pertanyaan yang tampak sederhana: Apakah siswa ini benar-benar siap naik ke tingkat berikutnya? Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun bagi banyak guru, jawabannya tidak selalu mudah.

Ada siswa yang rajin tetapi kemampuan akademiknya masih tertinggal. Ada yang cerdas tetapi kurang menunjukkan kesungguhan dalam belajar. Ada pula yang sepanjang tahun nyaris tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, tetapi tetap dihadapkan pada peluang untuk naik kelas seperti teman-temannya.

Di titik inilah pendidikan sering berhadapan dengan sebuah dilema. Antara memberi kesempatan dan menjaga standar. Antara rasa kasihan dan tanggung jawab. Antara keinginan membantu siswa dan keberanian mengatakan bahwa masih ada hal-hal yang perlu dipelajari sebelum melangkah lebih jauh.

Barangkali beberapa tahun lalu, keputusan untuk tidak menaikkan seorang siswa bukanlah sesuatu yang terlalu asing. Tidak menyenangkan memang, tetapi masih dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan. Ada saat ketika seorang anak dinilai perlu mengulang, memperkuat fondasi belajarnya, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh dengan lebih baik.

Namun hari ini, situasinya terasa berbeda. Di banyak sekolah, keputusan untuk tidak menaikkan siswa sering kali menjadi pilihan yang hampir tidak pernah diambil. Bukan karena semua siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan, melainkan karena ada begitu banyak pertimbangan yang menyertainya.

Ada kekhawatiran terhadap dampak psikologis yang akan dialami siswa. Ada kecemasan menghadapi protes orang tua. Ada pertimbangan tentang citra sekolah, angka keberhasilan, hingga berbagai indikator yang kerap digunakan untuk menilai mutu pendidikan.

Akibatnya, muncul sebuah kecenderungan yang patut direnungkan. Sekolah semakin mudah mengatakan “naik”, tetapi semakin sulit mengatakan “belum”.

Padahal kata “belum” sesungguhnya bukanlah bentuk penghukuman. Dalam dunia pendidikan, “belum” seharusnya menjadi pengakuan bahwa proses belajar masih berlangsung. Bahwa ada kemampuan yang masih perlu diperkuat, ada pemahaman yang masih perlu dibangun, dan ada perjalanan yang belum selesai.

Sayangnya, dalam praktiknya, kata “belum” sering dipahami sebagai kegagalan. Tidak hanya oleh siswa, tetapi juga oleh orang tua, sekolah, bahkan masyarakat. Kita hidup dalam budaya yang lebih mudah menerima keberhasilan daripada proses. Akibatnya, setiap keterlambatan dipandang sebagai kekalahan, dan setiap pengulangan dianggap sebagai aib yang harus dihindari.

Di titik inilah pendidikan menghadapi pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah kita sedang membantu siswa bertumbuh, atau sekadar membantu mereka berpindah tingkat?

Kegelisahan ini bukanlah sesuatu yang lahir dari teori atau data statistik semata. Ia muncul dari ruang-ruang kelas yang setiap hari diisi oleh anak-anak dengan kemampuan dan latar belakang yang berbeda.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit guru yang menjumpai kenyataan yang mengusik. Ada siswa yang telah berada di jenjang SMP, bahkan SMA, tetapi masih mengalami kesulitan membaca dengan lancar. Ada yang mampu melafalkan kata demi kata, tetapi kesulitan memahami isi bacaan yang sederhana. Ada pula yang terus naik kelas dari tahun ke tahun, tetapi membawa ketertinggalan yang tidak pernah benar-benar terselesaikan.

Tentu tidak adil jika kesalahan itu dibebankan sepenuhnya kepada siswa. Banyak faktor yang memengaruhi proses belajar seorang anak. Ada persoalan keluarga, lingkungan, motivasi belajar, hingga berbagai tantangan sosial yang tidak selalu terlihat dari luar.

Namun pada saat yang sama, kita juga tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa setiap jenjang pendidikan memiliki kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai. Membaca, menulis, memahami informasi, dan berpikir secara sederhana bukanlah tuntutan yang berlebihan. Semua itu justru merupakan fondasi yang akan menentukan keberhasilan belajar pada tahap berikutnya.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika ketertinggalan yang ada tidak benar-benar ditangani, melainkan hanya ikut berpindah ke tingkat berikutnya. Masalah yang seharusnya diselesaikan di kelas sebelumnya akhirnya dibawa ke kelas yang lebih tinggi. Ketika hal itu terus terjadi, sekolah memang berhasil menaikkan siswa, tetapi belum tentu berhasil meningkatkan kemampuan belajarnya.

Di sinilah dilema pendidikan modern terasa begitu nyata. Kita ingin bersikap manusiawi terhadap siswa. Kita tidak ingin melukai kepercayaan diri mereka. Kita tidak ingin menjadikan sekolah sebagai tempat yang menakutkan. Namun pada saat yang sama, pendidikan juga membutuhkan kejujuran. Sebab kasih sayang tanpa kejujuran dapat berubah menjadi pembiaran, dan pembiaran sering kali hanya menunda masalah yang akan muncul di kemudian hari.

Barangkali inilah pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: apakah setiap kenaikan kelas benar-benar membantu siswa menjadi lebih siap menghadapi masa depan, atau hanya membuat kita merasa lebih nyaman untuk sementara waktu?

Tentu saja persoalan ini tidak sesederhana memilih antara naik kelas atau tidak naik kelas. Di balik setiap keputusan pendidikan, ada berbagai pertimbangan yang sering kali saling bertabrakan.

Sekolah dituntut menunjukkan keberhasilan. Orang tua berharap anaknya terus melangkah ke jenjang berikutnya. Sistem pendidikan membutuhkan data dan angka untuk menggambarkan capaian pembelajaran. Dalam situasi seperti itu, keputusan yang paling mudah sering kali adalah membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Namun pendidikan tidak selalu tentang memilih jalan yang paling mudah.

Ada saat ketika sekolah perlu bertanya dengan jujur: apakah keberhasilan pendidikan dapat diukur hanya dari banyaknya siswa yang naik kelas? Apakah angka kelulusan yang tinggi selalu berarti kualitas pembelajaran yang baik? Dan apakah setiap siswa yang berhasil melanjutkan ke tingkat berikutnya benar-benar telah memperoleh bekal yang mereka butuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Namun justru karena tidak nyaman, ia penting untuk diajukan.

Sebab ada kemungkinan bahwa selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak siswa yang berhasil melangkah ke depan, tetapi kurang memberi perhatian pada apakah mereka benar-benar siap untuk melangkah.

Dalam jangka pendek, menaikkan siswa mungkin tampak sebagai solusi yang lebih sederhana. Tidak ada kekecewaan, tidak ada konflik, dan tidak ada statistik yang terganggu. Namun dalam jangka panjang, masalah yang tidak pernah diselesaikan akan terus mengikuti mereka.

Ketika seorang siswa yang belum menguasai kemampuan dasar membaca terus naik ke jenjang berikutnya, persoalan itu tidak hilang. Ia hanya berpindah ruang kelas. Ketika pemahaman yang belum terbentuk dibiarkan begitu saja, ketertinggalan itu akan semakin sulit dikejar seiring bertambahnya tuntutan belajar.

Karena itu, pendidikan membutuhkan keberanian yang sering kali tidak terlihat dalam laporan statistik. Keberanian untuk jujur terhadap proses belajar. Keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua anak bertumbuh dengan kecepatan yang sama. Dan keberanian untuk mengatakan “belum” ketika memang masih ada hal-hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu.

Sebab tujuan pendidikan bukanlah sekadar memastikan siswa terus bergerak ke tingkat berikutnya, melainkan memastikan bahwa setiap langkah yang mereka ambil benar-benar memiliki pijakan yang kuat.

Mungkin tidak ada guru yang merasa bahagia ketika harus mengatakan kepada seorang siswa bahwa ia belum siap melangkah ke tingkat berikutnya. Tidak ada sekolah yang ingin melihat siswanya tertinggal. Tidak ada orang tua yang berharap anaknya mengalami keterlambatan dalam proses pendidikan.

Namun pendidikan yang baik tidak dibangun di atas kenyamanan semata. Pendidikan juga membutuhkan kejujuran. Sebab tanpa kejujuran, sekolah berisiko hanya memindahkan masalah dari satu tingkat ke tingkat berikutnya tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.

Barangkali sudah saatnya kita memandang kata “belum” dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai cap kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai kesempatan untuk memperkuat fondasi yang masih rapuh.

Sebab dalam kehidupan, tidak semua orang bertumbuh dengan kecepatan yang sama. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami pelajaran. Ada yang memerlukan pendampingan lebih banyak untuk mengejar ketertinggalannya. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kita lebih takut pada angka kegagalan daripada pada hilangnya kesempatan belajar yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, tugas pendidikan bukan sekadar mengantar siswa naik kelas. Tugas pendidikan adalah memastikan bahwa setiap anak benar-benar bertumbuh, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

Karena itu, mungkin pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang selalu berkata “ya”. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memiliki keberanian untuk berkata “belum” ketika memang belum, serta memiliki komitmen untuk membantu setiap anak mencapai kata “sudah” pada waktunya.

Sebab kata “belum” bukanlah akhir dari perjalanan belajar. Justru di sanalah proses belajar yang sesungguhnya sering kali dimulai.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *