
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Nisa Dwi Putri
Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah menjadi siswa yang kurang menyukai pelajaran di kelas. Bagiku, belajar hanyalah kegiatan yang mendengarkan guru menjelaskan materi, mencatat tulisan di papan tulis, lalu mengerjakan tugas yang di perintah. Hampir setiap hari suasana belajar terasa sama sehingga aku sering merasa bosan. Aku pernah berpikir bahwa sekolah hanyalah tempat untuk mendapatkan nilai, bukan tempat yang menyenangkan untuk belajar hal baru. Namun, beberapa kesalahan yang pernah aku lakukan justru membuat aku sadar bahwa Pendidikan membutuhkan cara belajar yang lebih menarik dan inovatif.
Kesalahan yang paling aku ingat terjadi saat pelajaran matematika. Wakti itu guru menjelaskan materi pecahan hanya menggunakan buku dan papan tulis. Aku sebenarnya tidak memahami penjelasan tersebut, tetapi aku malu untuk bertanya karena takut dianggap tidak bisa oleh teman-teman. Aku memilih diam dan berpura-pura mengerti. Ketika ulangan berlangsung, aku kesulitan menjawab soal dan akhirnya mendapatkan nilai yang rendah. Saat melihat hasil ulanganku, aku merasa kecewa dan mulai kehilangan semangat untuk belajar.
Beberapa hari kemudian, guru mencoba menggunakan cara belajar yang berbeda. Beliau membawa media sederhana berupa kertas berbentuk lingkaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Kami diminta memotong dan menyusun sendiri bagian-bagian pecahan tersebut bersama teman kelompok. Ternyata, aku lebih mudah memahami materi karena dapat melihat dan mempraktekannya secara langsung. Dari pengalaman itu, aku mulai menyadari bahwa prmbelajaran yang kreatif dan inovatif dapat membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih baik.
Sejak saat itu, suasana belajar di kelas mulai berubah. Guru tidak hanya menjelaskan materi di depan kelas, tetapi juga menggunakan permainan edukatif dan video pembelajaran. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, kami pernah diminta membuat cerita pendek bersama kelompok lalu membacakannya di depan kelas. Awalnya aku merasa malu, tetapi kegiatan tersebut membuatku lebih percaya diri untuk berbicara di depan teman-teman. Aku mulai menikmati proses belajar karena suasana kelas menjadi lebih aktif dan menyenangkan.
Aku juga pernah melakukan kesalahan saat belajar kelompok. Ketika itu, kelompok kami mendapatkan tugas membuat kerajinan dari barang bekas. Karena merasa tugas tersebut sangat mudah, aku memilih bermain dan tidak ikut membantu teman-temanku. Akibatnya, kelompok kami kesulitan menyelesaikan tugas tepat waktu. Teman-temanku kecewa karena aku tidak bertanggung jawab tidak membantu dalam tugas kelompok. Dari kejadian itu, aku belajar bahwa Pendidikan tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga mengajarkan kerja sama, disiplin, serta tanggung jawab.
Guru kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek dibuat agar murid dapat belajar sambal bekrja sama dan berpikir kreatif. Setelah mendengar penjelasan itu, aku mulaik ikut aktif membantu kelompokku. Kami akhirnya berhasil membuat kerajinan sederhana dari botol bekas. Walaupun hasilnya tidak sempurna, aku merasa bangga karena ikut terlibat dalam porses pembuatannya. Pengalaman tersebut membuatku sadar bahwa belajar menjadi lebih bermakna ketika siswa dilibatkan secara langsung.
Selain itu, aku pernah merasa bosan ketika harus menghafal banyak materi untuk ujian. Aku sering lupa setelah selesai belajar. Namun, ketika guru mulai menggunakan kuis interaktif dan permainan tanya jawab, aku menjadi lebih mudah mengingat pelajaran. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan semua siswa terlihat lebih semangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Dari situ aku memahami bahwa inovasi dalam Pendidikan itu sangat penting agar siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami materi dengan cara yang menyenangkan.
Pengalaman lain yang paling berkesan yaitu ketika guru mengajak kami belajar di luar kelas. Pada pelajaran IPA tentang tumbuhan, kami diminta mengamati tanaman di taman sekolah secara langsung. Kami mencatat bagian-bagian tumbuhan sambal berdiskusi bersama teman-teman. Kegiatan tersebut membuatku lebih mudah memahami materi dibandingkan hanya membaca buku di dalam kelas. Aku merasa belajar ini menjadi nyata dan tidak membosankan.
Dari berbagai kesalahan dan pengalaman tersebut, aku mulai memahami bahwa Pendidikan sangat penting untuk masa depan. Nilai yang rendah, rasa malu bertanya, dan sikap tidak bertanggung jawab membuatku belajar untuk berubah menjadi lebih baik. Aku juga menyadari bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami melalui gambar, permainan, praktik langsung, atau diskusi kelompok. Karena itu guru perlu menggunakan cara yang kreatif agar siswa lebih semangat belajar.
Kini aku memahami bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang harus disesali. Kesalahan justru menjadi pengalaman yang membantu kita belajar dan berkembang. Sebagai calon pendidik, Aku ingin membantu peserta didik belajar dengan cara yang lebih kreatif agar mereka nantinya tidak merasa takut atau bosan saat belajar. Karena menurutku, Pendidikan yang baik bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang bagaimana seorang guru dapat membantu siswa berkembang dan percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
Bionarasi Penulis
Hallo, perkenalkan nama saya Nisa Dwi Putri. Saya lahir di Bandung pada tanggal 18 Oktober 2005. Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Saya tinggal di Cililin. Sekarang saya sedang menjalani Pendidikan di IKIP Siliwangi dengan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Nonreguler 2024. Sejak kecil, saya tidak pernah berpikir jauh bahwa saya akan masuk ke dunia Pendidikan. Dulu saya itu hanya menjalani sekolah seperti anak-anak pada umumnya tanpa membayangkan bahwa suatu hari saya akan belajar untuk menjadi seorang guru. Namun, seiring berjalannya waktu dan keinginan orang tua juga untuk saya menjadi guru, saya mulai memahami bahwa Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang.
Dalam perjalanan belajar, saya pernah melakukan beberapa kesalahan yang membuat saya sadar akan pentingnya sebuah pendidikan. Saya pernah merasa malas belajar, menunda tugas, dan kurang percaya diri ketika menghadapi pelajaran yang sulit. Terkadang saya juga takut bertanya ketika tidak memahami materi karena khawatir di anggap tidak bisa oleh orang lain. Akibatnya, saya pernah mendapatkan hasil belajar yang tidak sesuai harapan dan merasa kecewa pada diri sendiri.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa Pendidikan bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang proses menjadi pribadi yang lebih baik. Saya juga menyadari bahwa cara belajar yang menyenangkan dapat membuat siswa lebih semangat dan percaya diri. Karena itu, saya ingin menjadi seorang guru yang mampu membantu peserta didik belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
Bagi saya, kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kesalahan justru menjadi pengalaman yang membuat saya sadar bahwa Pendidikan sangat penting untuk masa depan.











Tinggalkan Balasan