Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kelulusan dan Hal-Hal yang Tak Tertulis di Ijazah

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Herman Priatna

Besok ribuan siswa SMP akan menerima kabar yang mereka tunggu-tunggu: LULUS. Sebagian akan merayakannya dengan suka cita. Sebagian lagi mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Namun setiap kali musim kelulusan tiba, selalu ada satu pertanyaan yang terlintas dalam benak saya sebagai guru: apa sebenarnya yang dinyatakan lulus?

Sebab yang tertulis dalam dokumen sekolah hanyalah angka, nilai, dan status kelulusan. Sementara pertumbuhan yang sesungguhnya sering kali terjadi di tempat yang tidak tercatat. Selama bertahun-tahun, sekolah telah mengembangkan berbagai cara untuk mengukur keberhasilan siswa. Ada nilai harian, nilai ujian, rapor, sertifikat, hingga berbagai bentuk penilaian lainnya. Semua itu penting karena pendidikan memang membutuhkan alat ukur untuk melihat perkembangan peserta didik.

Namun, ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian: tidak semua pertumbuhan dapat diubah menjadi angka. Seorang siswa yang dulunya tidak berani mengangkat tangan di kelas, lalu suatu hari memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, sesungguhnya sedang mengalami pertumbuhan. Seorang anak yang dahulu mudah menyerah, tetapi kemudian belajar bertahan menghadapi kesulitan, juga sedang bertumbuh. Begitu pula siswa yang belajar meminta maaf, menghargai perbedaan, atau menemukan kepercayaan diri setelah sekian lama merasa rendah diri.

Sayangnya, pencapaian-pencapaian seperti itu jarang memperoleh ruang yang cukup dalam dokumen pendidikan. Tidak ada kolom khusus dalam ijazah yang mencatat keberanian. Tidak ada angka yang secara utuh mampu menggambarkan ketangguhan. Tidak ada sertifikat yang benar-benar dapat mewakili proses seorang anak belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Padahal, dalam kehidupan nyata, kualitas-kualitas itulah yang sering kali lebih menentukan masa depan seseorang dibandingkan sekadar kemampuan menjawab soal ujian.

Sebagai guru, kita mungkin lebih mudah mengingat siswa yang memperoleh nilai sempurna. Namun setelah beberapa tahun berlalu, sering kali yang justru membekas dalam ingatan adalah anak-anak yang menunjukkan perubahan. Anak yang semula pendiam lalu menjadi percaya diri. Anak yang pernah bermasalah tetapi kemudian menemukan arah hidupnya. Anak yang perlahan belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka mengingatkan kita bahwa pendidikan pada hakikatnya bukan hanya proses mengisi kepala, melainkan juga proses membentuk karakter dan kemanusiaan.

Barangkali persoalannya bukan karena nilai tidak penting. Nilai tetap diperlukan sebagai salah satu cara untuk melihat perkembangan belajar siswa. Persoalannya adalah ketika angka perlahan-lahan berubah menjadi tujuan utama pendidikan, bukan sekadar alat untuk membantu proses pendidikan itu sendiri.

Dalam banyak kesempatan, kita lebih mudah menghargai apa yang dapat dihitung daripada apa yang dapat dirasakan. Nilai matematika dapat ditulis dengan jelas dalam rapor. Peringkat dapat diumumkan di depan kelas. Prestasi akademik dapat dipajang di dinding sekolah. Namun keberanian untuk bangkit setelah gagal, kemampuan menghormati perbedaan, atau ketulusan membantu teman yang sedang kesulitan sering kali berlalu tanpa penghargaan yang sama.

Tanpa disadari, pendidikan kemudian terjebak pada sesuatu yang paradoks. Kita begitu sibuk mengukur hal-hal yang mudah diukur, tetapi sering kesulitan menghargai hal-hal yang justru paling penting bagi kehidupan. Akibatnya, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika memperoleh nilai tinggi. Mereka belajar mengejar angka, tetapi tidak selalu memahami makna belajar itu sendiri. Mereka berusaha menjadi yang terbaik di atas kertas, tetapi kadang tidak diberi cukup ruang untuk mengenali dirinya sebagai manusia.

Padahal dunia di luar sekolah tidak selalu bertanya tentang nilai rapor. Dunia lebih sering bertanya tentang integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan ketangguhan menghadapi perubahan. Kualitas-kualitas itulah yang justru menjadi bekal utama ketika seseorang memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

“Mereka mengingatkan kita bahwa pendidikan pada hakikatnya bukan hanya proses mengisi kepala, melainkan juga proses membentuk karakter dan kemanusiaan.”

Setiap kali pengumuman kelulusan tiba, masyarakat biasanya sibuk membicarakan angka. Berapa nilai akhirnya? Berapa peringkatnya? Diterima di sekolah mana? Pertanyaan-pertanyaan itu seolah menjadi ukuran utama keberhasilan seorang anak.

Padahal, ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting, tetapi jarang diajukan.

Apakah ia menjadi lebih jujur dibanding tiga tahun lalu?

Apakah ia belajar bertanggung jawab atas pilihannya?

Apakah ia lebih mampu menghargai orang lain?

Apakah ia memiliki keberanian untuk bangkit ketika mengalami kegagalan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin tidak menghasilkan angka yang bisa dipajang, tetapi justru lebih dekat dengan tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Kalau begitu, mengapa yang paling sering kita bicarakan justru angka?

Mengapa kita begitu terobsesi pada angka?

Sebab kehidupan setelah sekolah tidak hanya menuntut kemampuan menjawab soal. Kehidupan akan meminta seseorang mengambil keputusan, bekerja sama dengan orang lain, menghadapi kegagalan, mengelola emosi, dan tetap berdiri ketika keadaan tidak sesuai harapan.

Tidak sedikit orang yang semasa sekolah dikenal karena kecerdasannya, tetapi kesulitan menghadapi tantangan kehidupan. Sebaliknya, ada pula mereka yang tidak selalu menonjol dalam nilai akademik, tetapi tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bijaksana, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Karena itu, kelulusan seharusnya tidak hanya menjadi momen untuk merayakan hasil belajar, tetapi juga kesempatan untuk merenungkan proses pertumbuhan yang telah terjadi selama perjalanan pendidikan.

Besok, ketika para siswa menerima kabar kelulusan mereka, sekolah mungkin hanya menyerahkan selembar dokumen. Namun di balik dokumen itu tersimpan ribuan cerita yang tak pernah tertulis: keberanian yang tumbuh perlahan, kegagalan yang berhasil dilewati, persahabatan yang menguatkan, dan mimpi-mimpi yang mulai menemukan jalannya.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang berhasil dicapai seorang anak, melainkan tentang siapa yang sedang ia tumbuhkan dalam dirinya.

Dan hal-hal terpenting itu, sering kali tidak pernah muat di dalam ijazah.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *