
[Sumber gambar: Adegan film “Gadis Kretek”
Penulis: Welly Karmelia
Novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala merupakan karya sastra yang tidak hanya mengangkat kisah cinta, keluarga, dan sejarah industri kretek di Indonesia, tetapi juga menampilkan persoalan relasi gender dalam masyarakat tradisional. Tokoh Dasiyah atau Jeng Yah hadir sebagai perempuan yang memiliki kemampuan luar biasa dalam meracik saus kretek, bidang yang lazim dikuasai laki-laki. Kehadiran tokoh ini memperlihatkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama dalam ranah ekonomi dan produksi.
Melalui tokoh Dasiyah, pengarang menyampaikan gagasan bahwa perempuan tidak selalu berada dalam posisi domestik. Perempuan dapat menjadi subjek aktif yang menentukan arah usaha, menjaga kualitas produksi, dan menjadi bagian penting keberhasilan industri keluarga. Karena itu, Gadis Kretek relevan dibaca melalui pendekatan feminisme sebab novel ini menunjukkan adanya negosiasi antara kemampuan perempuan dan budaya patriarki yang membatasi ruang geraknya.
Novel ini juga menunjukkan bahwa perjuangan perempuan sering kali tidak hanya berhadapan dengan individu laki-laki, tetapi juga dengan sistem sosial patriarki yang menempatkan perempuan sebagai pihak kedua. Oleh sebab itu, kajian feminisme penting digunakan untuk membaca bagaimana tokoh perempuan memperoleh ruang, menghadapi hambatan, serta membuktikan kompetensinya di tengah dominasi laki-laki.
Kritik feminisme merupakan pendekatan sastra yang berfokus pada ketidakadilan gender, representasi perempuan, serta relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Feminisme memandang bahwa perempuan kerap ditempatkan dalam posisi subordinat akibat konstruksi sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam karya sastra, pendekatan ini bertujuan menilai apakah tokoh perempuan diberi ruang sebagai subjek mandiri atau sekadar pelengkap cerita.
Dalam konteks novel ini, Dasiyah menjadi representasi perempuan yang menolak batasan patriarki melalui keahlian dan keberaniannya memasuki dunia industri. Ia membuktikan bahwa ketimpangan bukan berasal dari kodrat perempuan, melainkan dari budaya yang membatasi kesempatan mereka.
Pendekatan feminisme juga melihat ruang kerja sebagai arena yang sering didominasi laki-laki. Ketika perempuan memasuki ruang tersebut, sering muncul keraguan terhadap kemampuannya. Keberhasilan Dasiyah dalam industri kretek dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem patriarki sekaligus bukti bahwa kompetensi tidak ditentukan oleh jenis kelamin.
Dasiyah digambarkan sebagai perempuan cerdas, teliti, dan memiliki kepekaan tinggi terhadap racikan saus kretek. Kemampuan tersebut menjadikannya sosok penting dalam usaha keluarga. Ia tidak sekadar membantu pekerjaan rumah tangga, tetapi berkontribusi langsung terhadap kualitas produk. Tokoh ini menunjukkan bahwa perempuan mampu berperan strategis dalam bidang ekonomi.
Menurut Maemunah dkk., “Diskriminasi gender masih terjadi di seluruh aspek kehidupan.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan sosial dalam berbagai bidang, terutama pendidikan dan pekerjaan. Kondisi ini selaras dengan tokoh Dasiyah yang harus membuktikan kompetensinya di tengah dominasi laki-laki dalam industri kretek.
Selain itu, Dasiyah digambarkan memiliki keteguhan sikap dalam mempertahankan kualitas kretek. Ia tidak mudah tunduk terhadap tekanan sosial maupun kepentingan bisnis semata. Sikap ini menunjukkan bahwa perempuan mampu mengambil keputusan rasional, profesional, dan berprinsip dalam dunia usaha.
Menurut Salassa dalam tulisan Mutiara Ria Despita Maharani dkk. (2025), “Patriarki menghambat kemandirian ekonomi perempuan.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya patriarki masih menjadi hambatan bagi perempuan untuk memperoleh ruang ekonomi yang setara. Hal ini tampak dalam perjuangan Dasiyah yang harus menunjukkan kapasitasnya di tengah dominasi laki-laki.
Meskipun Dasiyah memiliki kemampuan besar, pengakuan sosial terhadap dirinya tidak selalu sejalan. Pendapatnya tidak selalu mendapat tempat dalam pengambilan keputusan, sementara laki-laki lebih mudah memperoleh otoritas. Kondisi ini menunjukkan bahwa patriarki bekerja melalui cara pandang masyarakat yang meragukan kemampuan perempuan serta membatasi akses mereka terhadap kekuasaan.
Relasi Dasiyah dengan tokoh laki-laki memperlihatkan adanya ketegangan antara kapasitas perempuan dan dominasi laki-laki. Perempuan harus membuktikan diri berulang kali untuk memperoleh legitimasi yang sama. Dalam perspektif feminisme, situasi ini menunjukkan adanya ketidakadilan struktural.
Dalam realitas sosial Indonesia, industri kretek sejak lama melibatkan banyak tenaga kerja perempuan, terutama sebagai pelinting rokok di daerah seperti Kudus, Kediri, dan Malang. Mereka dikenal teliti, cekatan, dan konsisten dalam pekerjaan manual. Namun, posisi strategis seperti pemilik pabrik, peracik saus, atau pengambil keputusan bisnis lebih sering dipegang laki-laki. Fakta ini selaras dengan situasi Dasiyah dalam novel.
Kondisi nyata tersebut memperkuat bahwa Gadis Kretek bukan sekadar fiksi, melainkan refleksi sosial terhadap pembagian kerja berbasis gender. Dasiyah menjadi simbol perempuan pekerja yang melampaui batas tradisional. Novel ini juga mengandung kritik sosial yang kuat terhadap ketimpangan gender.
Persoalan utama bukan terletak pada kemampuan perempuan, melainkan pada sistem yang menutup akses perempuan menuju posisi strategis. Dalam konteks ini, novel berfungsi sebagai media kritik terhadap masyarakat patriarkal. Melalui Dasiyah, pembaca diajak memahami bahwa pengakuan terhadap perempuan perlu diberikan berdasarkan kapasitas, bukan jenis kelamin.
Persoalan gender yang diangkat dalam novel masih relevan hingga sekarang. Banyak perempuan modern telah memasuki berbagai sektor pekerjaan, tetapi masih menghadapi stereotip bahwa laki-laki lebih layak memimpin. Dalam dunia usaha, perempuan sering dianggap kurang tegas atau kurang kompeten.
Kehadiran Dasiyah menjadi inspirasi bahwa perempuan mampu menembus batas tersebut. Ia menunjukkan bahwa ketelitian, kecerdasan, dan keberanian dapat membawa perempuan ke posisi penting. Oleh sebab itu, novel ini memiliki nilai edukatif tentang kesetaraan gender.
Selain itu, karya ini mengingatkan bahwa tradisi tidak boleh dijadikan alasan untuk mempertahankan ketidakadilan. Tradisi perlu dibaca ulang agar selaras dengan prinsip kesetaraan dan penghargaan terhadap kemampuan manusia.
Berdasarkan analisis feminisme, novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala menghadirkan representasi perempuan progresif melalui tokoh Dasiyah. Ia digambarkan sebagai sosok cerdas, terampil, mandiri, dan memiliki peran penting dalam industri kretek. Tokoh ini membuktikan bahwa perempuan mampu berkontribusi besar dalam ranah ekonomi.
Hambatan yang dihadapi Dasiyah menunjukkan bahwa perempuan sering dihargai atas kerja kerasnya, tetapi belum sepenuhnya diberi ruang kuasa. Dengan demikian, Gadis Kretek tidak hanya memiliki nilai estetis sebagai karya sastra, tetapi juga menyampaikan kritik sosial tentang pentingnya kesetaraan gender dan pengakuan terhadap kapasitas perempuan dalam kehidupan masyarakat.











Tinggalkan Balasan