
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Heri Isnaini
Malam itu hujan tumpah. Di halte kecil dekat terminal, Rie duduk sendirian sambil memandangi jalan yang memantulkan cahaya lampu kota. Bajunya basah di bagian pundak. Sejak satu jam lalu ia belum beranjak, seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak yakin akan datang.
Di saku jaketnya, ada surat lusuh yang sudah berkali-kali dibaca. Tulisan tangan itu milik Lie. “Kadang cinta tidak pergi, Rie. Ia hanya kehabisan cara untuk bertahan.”
Rie menutup mata. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat perempuan itu. Bukan karena mereka benar-benar berpisah, melainkan karena cinta mereka berubah menjadi ruang penuh diam. Mereka masih saling memiliki, tetapi tak lagi tahu bagaimana caranya saling menyentuh.
Dulu semuanya begitu mudah. Lie selalu tertawa saat Rie membacakan puisi-puisi hujan di kafe kecil dekat stasiun. Mereka pernah bermimpi membuka toko buku sederhana di pinggir kota, tempat orang-orang bisa membaca sambil mendengar suara gerimis. Lie ingin menanam bunga kembang sepatu di halaman depan. Rie ingin membuat rak khusus untuk novel-novel lama.
Mimpi itu pernah terasa sangat dekat. Namun hidup, seperti biasa, diam-diam mengubah arah. Lie diterima bekerja di perusahan besar yang sangat diimpikan. Lie mulai bekerja dari pagi hingga larut malam. Telepon mereka menjadi singkat-singkat. Pertemuan berubah menjadi alasan yang terus tertunda.
Sementara itu, Rie kehilangan pekerjaannya sebagai ilustrator di sebuah penerbit kecil yang bangkrut. Ia mulai mudah marah, mudah curiga, dan diam-diam merasa dirinya gagal menjadi lelaki yang bisa diandalkan.
Pertengkaran mereka tak pernah benar-benar besar. Justru hal-hal kecil yang melukai: pesan yang terlambat dibalas, nada bicara yang lelah, janji yang lupa ditepati, dan kalimat “aku capek” yang terdengar seperti ancaman perpisahan.
Sampai suatu malam Lie menangis di telepon. “Aku cuma ingin kamu mengerti kalau aku juga sesak, Rie.” Rie tak menjawab. Egonya lebih keras daripada rasa takut kehilangan. Dan sejak malam itu, hubungan mereka seperti rumah tua yang retak perlahan.
Hujan semakin deras. Rie mengeluarkan ponselnya. Sudah tiga minggu ia dan Lie tak bertemu. Namun setiap malam, ia tetap membuka foto-foto lama mereka seperti seseorang yang mengusap luka agar sembuh, tetapi tetap terasa sakit.
Ada satu foto yang paling ia benci sekaligus paling ia rindukan, Lie tersenyum sambil memegang kopi hangat, rambutnya tertiup angin, matanya memandang Rie seperti dunia belum pernah mengecewakan siapa pun.
“Kenapa aku makin sayang sama kamu?” gumam Rie lirih. Padahal perempuan itu telah memberinya seribu luka kecil yang menumpuk menjadi sepi. Tetapi anehnya, cinta justru tumbuh dari luka yang tidak selesai.
Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya. Rie menoleh. “Lie?”
Perempuan itu memakai sweater abu-abu yang dulu sering dipinjam Rie saat kehujanan. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya masih sama selalu teduh dan menyimpan banyak hal yang tak sempat diucapkan.
“Kamu masih suka hujan rupanya,” kata Lie pelan. Rie tersenyum tipis. “Aku masih suka banyak hal yang berkaitan sama kamu.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Bus-bus datang dan pergi. Orang-orang berlarian menghindari air. Bau aspal basah memenuhi udara malam. “Aku berhenti dari perusahaan minggu lalu,” ujar Lie akhirnya.
Kalimat itu membuat dada Rie runtuh. Ia ingin memeluk perempuan itu, tetapi rasa bersalah membuat tangannya kelu. “Aku nyari kamu waktu itu,” lanjut Lie. “Tapi aku takut kita malah saling nyakitin lagi.”
“Aku minta maaf,” bisik Rie. “Aku terlalu sibuk merasa terluka sampai lupa kalau kamu juga hancur.” Lie menunduk. “Aku juga salah.”
Hujan terdengar seperti napas panjang langit. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam. Namun anehnya, diam itu tidak lagi menyakitkan seperti sebelumnya.
Rie menatap perempuan itu hati-hati. “Kalau kita mulai lagi, apa masih mungkin?” Lie tersenyum kecil. Senyum yang rapuh, tetapi jujur. “Aku nggak tahu.” Jawaban itu tidak indah, tetapi terasa nyata.
Lalu perempuan itu menggenggam tangan Rie perlahan. “Tapi kalau kamu mau, kita bisa belajar bernapas lagi pelan-pelan.”
Dan malam itu, di bawah hujan yang belum selesai turun, mereka duduk berdampingan seperti dua orang yang akhirnya mengerti bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan, melainkan siapa yang tetap memilih tinggal meski hati penuh luka.
Sebab kadang-kadang, nafas cinta memang sesak, resah, dan nyaris habis. Tetapi selama masih ada dua orang yang mau saling menggenggam, cinta akan selalu menemukan jalan pulang.
Bandung, 25 Mei 2026












Tinggalkan Balasan