
[Sumber gambar: Cover buku]
Penulis: Heri Isnaini
Antologi cerpen Didekap Cahaya Lentera bukan hanya kumpulan cerita karya pelajar, melainkan sebuah ruang tempat suara-suara remaja tumbuh dan menemukan maknanya. Di tengah anggapan bahwa generasi muda semakin jauh dari dunia literasi, buku ini justru hadir sebagai bukti bahwa siswa masih memiliki kepekaan, imajinasi, dan kemampuan bercerita yang kuat. Melalui beragam kisah yang ditulis oleh siswa-siswi SMPIT Al Fitrah Angkatan VII, pembaca diajak melihat bagaimana remaja memaknai persahabatan, keluarga, impian, lingkungan, bahkan hubungan spiritual dengan Tuhan.
Kekuatan utama antologi ini terletak pada keberagaman temanya. Setiap cerita membawa sudut pandang yang berbeda, tetapi semuanya dipersatukan oleh semangat harapan dan nilai moral yang hangat. Cerita-cerita di dalamnya terasa dekat dengan kehidupan remaja masa kini karena lahir dari pengalaman emosional yang nyata: rasa kehilangan, kegelisahan menghadapi perubahan, kerinduan terhadap teman, hingga usaha menemukan jati diri.
Salah satu cerpen yang paling menarik perhatian adalah “Mahkota Cahaya di Rumput Hijau” karya Sofa Sari Miladiah. Cerita ini menghadirkan sosok Arka, anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional namun juga berjuang menjaga hafalan Al-Qur’annya. Cerpen ini memiliki daya tarik emosional karena mampu mempertemukan dua dunia yang sering dianggap bertolak belakang: mimpi duniawi dan nilai religius.
Tulisan Sofa Sari Miladiah terasa istimewa karena dibangun dengan bahasa sederhana tetapi menyentuh. Ia tidak mencoba membuat konflik yang rumit, melainkan menghadirkan pergulatan batin seorang anak dengan cara yang hangat dan manusiawi. Tokoh ibu dalam cerita tersebut menjadi simbol cahaya moral yang membimbing Arka agar tidak kehilangan arah. Nasihat bahwa seseorang dapat mengejar mimpi tanpa meninggalkan akhirat menjadi inti pesan yang kuat dalam cerita itu. Kesederhanaan inilah yang justru membuat cerpen tersebut terasa tulus.
Selain itu, Sofa Sari Miladiah mampu menunjukkan bahwa sastra remaja tidak harus selalu dipenuhi drama besar untuk dapat menyentuh pembaca. Kadang, percakapan sederhana antara anak dan ibu justru lebih membekas karena terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Cerita ini juga memperlihatkan bagaimana pendidikan karakter dapat disampaikan melalui sastra tanpa terasa menggurui.

Di sisi lain, antologi ini juga menghadirkan cerita dengan tema yang lebih kompleks seperti “A Sorrowful Reunion”. Cerita tersebut membawa pembaca pada kisah persahabatan lima remaja yang retak akibat krisis kepercayaan di tengah situasi krisis moneter 1998. Penggunaan latar sejarah membuat cerita ini terasa lebih matang dibanding sebagian cerpen lainnya. Konflik tentang uang, pengkhianatan, dan penyesalan berhasil menghadirkan emosi yang kuat.
Nuansa imajinatif juga tampak dalam “Ketika Lukisan Membuka Gerbang Langit” karya Almayra Kafka Maulani. Cerita tentang Sera, gadis disleksia yang menemukan keberanian melalui seni lukis dan petualangan fantasi, memperlihatkan bahwa para penulis muda dalam buku ini memiliki daya khayal yang luas. Cerita ini memberi pesan penting bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Setiap manusia memiliki kelebihan yang dapat menjadi jalan menuju masa depan.
Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan hadir melalui cerpen “Di Saat Hutan Tak Lagi Bersuara”. Kisah peri Eluna yang berusaha menyadarkan manusia agar berhenti merusak hutan menjadi simbol kritik terhadap krisis ekologis masa kini. Walaupun menggunakan unsur fantasi, pesan yang disampaikan terasa relevan dan menyentuh.
Dari segi bahasa, sebagian besar cerpen dalam buku ini menggunakan gaya tutur ringan dan komunikatif. Hal itu membuat pembaca mudah larut dalam cerita. Dialog-dialognya pun terasa alami seperti percakapan remaja sehari-hari. Meski demikian, sebagai karya penulis muda, beberapa cerita masih memiliki kelemahan dalam pengembangan konflik, pengulangan kalimat, dan konsistensi alur. Namun kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai utama buku ini sebagai ruang belajar literasi yang hidup.
Yang menarik, antologi ini memperlihatkan bagaimana generasi muda mencoba memadukan modernitas dengan nilai spiritual. Ada tokoh yang ingin menjadi peneliti luar angkasa, atlet, pelukis, hingga peserta pertukaran pelajar ke luar negeri, tetapi semuanya tetap dibingkai oleh pesan moral dan religius. Ini menunjukkan bahwa remaja hari ini tidak kehilangan arah sepenuhnya; mereka hanya membutuhkan ruang untuk menyuarakan isi hati dan imajinasi mereka.
Secara keseluruhan, Didekap Cahaya Lentera adalah antologi yang hangat, penuh harapan, dan menyimpan energi literasi yang kuat. Buku ini membuktikan bahwa tulisan pelajar tidak bisa dipandang sebelah mata. Di dalamnya ada keberanian untuk bermimpi, kegelisahan untuk dipahami, dan usaha untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Melalui karya-karya seperti tulisan Sofa Sari Miladiah dan penulis muda lainnya, pembaca dapat melihat bahwa sastra pelajar sesungguhnya bukan sekadar tugas sekolah, melainkan cahaya kecil yang perlahan menerangi masa depan literasi Indonesia.
Bandung, 26 Mei 2026












Tinggalkan Balasan