
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Heri Isnaini
Membaca Koloni dan Colony

Siang tadi saya dan istri tercinta memutuskan menonton Colony di bioskop. Keputusan yang sebenarnya cukup spontan. Kami hanya ingin menikmati awal pekan dengan menonton film terbaru karya Yeon Sang-ho, sutradara yang namanya sudah akrab bagi para penggemar film Korea sejak Train to Busan. Namun bagi saya, pengalaman menonton Colony terasa sedikit berbeda. Beberapa hari sebelumnya saya baru saja menuntaskan novel Koloni karya Ratih Kumala.
Awalnya saya tidak melihat hubungan apa pun antara keduanya. Yang satu adalah novel Indonesia tentang kehidupan koloni semut. Yang lain adalah film zombi Korea Selatan yang penuh ketegangan dan adegan survival. Yang satu lahir dari dunia sastra, yang lain dari dunia sinema populer. Namun ketika lampu bioskop kembali menyala dan layar perlahan menjadi gelap, saya justru merasa baru saja bertemu kembali dengan buku yang beberapa hari lalu selesai saya baca.
Ada sesuatu yang menghubungkan kedua karya itu. Bukan tokohnya. Bukan alurnya. Bukan pula mediumnya. Yang menghubungkan keduanya adalah satu kata yang tampak sederhana, yaitu “koloni.”
Kata itu terus mengikuti saya sejak menutup halaman terakhir novel Koloni hingga meninggalkan kursi bioskop setelah Colony berakhir. Di kepala saya, semut-semut Ratih Kumala dan zombi-zombi Yeon Sang-ho seolah sedang berdialog. Mereka datang dari dunia yang berbeda, tetapi membicarakan kegelisahan yang sama, yaitu tentang kekuasaan, kepatuhan, kebersamaan, dan hilangnya individu di tengah kerumunan.
Mungkin karena itulah saya merasa perlu menuliskan esai ini. Bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik antara novel dan film, melainkan untuk membaca keduanya sebagai dua cermin yang memantulkan wajah manusia modern. Sebab semakin lama saya memikirkan keduanya, semakin saya menyadari bahwa semut dalam Koloni dan zombi dalam Colony sesungguhnya sedang bercerita tentang kita.
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya mengenal terlebih dahulu dua karya yang menjadi titik berangkat tulisan ini.
Dua Koloni, Dua Medium
Film Colony (2026)

Colony adalah film thriller-horor zombi asal Korea Selatan yang disutradarai Yeon Sang-ho, sineas yang sebelumnya dikenal melalui Train to Busan, Peninsula, dan serial Hellbound. Film ini ditulis oleh Yeon Sang-ho bersama Choi Gyu-seok dan dibintangi oleh Jun Ji-hyun, Koo Kyo-hwan, Ji Chang-wook, Kim Shin-rok, Shin Hyun-bin, dan Go Soo.
Kisahnya berpusat pada Kwon Se-jeong, seorang profesor bioteknologi yang menghadiri sebuah konferensi ilmiah di gedung pencakar langit. Pertemuan ilmiah itu berubah menjadi mimpi buruk ketika virus hasil rekayasa biologis menyebar dan menginfeksi para peserta. Gedung kemudian dikarantina, sementara para penyintas harus bertahan hidup di tengah serangan makhluk-makhluk terinfeksi yang terus berevolusi.
Berbeda dengan zombi yang selama ini kita kenal dalam film-film horor, zombi dalam Colony tidak hanya bergerak berdasarkan naluri. Mereka mampu bertukar informasi, belajar dari pengalaman, dan mengembangkan kecerdasan kolektif layaknya koloni semut. Ancaman terbesar bukan lagi gigitan zombi, melainkan kemungkinan hilangnya individualitas ketika setiap makhluk terhubung dalam satu kesadaran bersama.
Novel Koloni karya Ratih Kumala

Sementara itu, Koloni merupakan novel fabel satir karya Ratih Kumala yang terbit pada tahun 2025. Novel ini mengisahkan kehidupan sebuah kerajaan semut yang dipenuhi intrik politik, perebutan kekuasaan, kecemburuan, loyalitas, dan pertarungan kepentingan di dalam sarang.
Di pusat cerita berdiri dua figur penting: Ratu Gegana dan Ratu Darojak. Konflik antara keduanya perlahan berkembang menjadi perebutan legitimasi, pengaruh, dan masa depan koloni. Dalam dunia semut tersebut hadir pula semut pekerja, semut prajurit, semut pengasuh, semut jantan, dan berbagai kelompok lain yang masing-masing menjalankan fungsi sosial tertentu.
Meski tokohnya adalah semut, novel ini jelas bukan sekadar cerita tentang dunia serangga. Ratih Kumala menggunakan koloni semut sebagai alegori masyarakat manusia. Melalui struktur sosial semut yang tampak tertib dan teratur, ia memotret persoalan kekuasaan, tradisi, ambisi, loyalitas, hingga ketimpangan sosial yang juga hadir dalam kehidupan manusia.
Yang menarik, baik Colony maupun Koloni sama-sama berangkat dari dunia biologis. Yang satu menggunakan zombi yang berperilaku seperti semut. Yang satu lagi menggunakan semut yang berperilaku seperti manusia. Keduanya bergerak dari arah yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik yang sama: hubungan antara individu dan kolektivitas.
Semut yang Menjadi Manusia, Zombi yang Menjadi Semut
Dalam novel Koloni, dunia semut dipenuhi ambisi, perebutan kekuasaan, kecemburuan, kepatuhan, pengkhianatan, dan tradisi. Semut-semut itu bergerak dalam struktur sosial yang ketat. Ada ratu, ada pekerja, ada prajurit. Setiap individu lahir dengan fungsi tertentu dan hampir tidak memiliki kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri. Mereka hidup untuk koloni.
Ketika membaca novel tersebut, saya berkali-kali merasa sedang membaca masyarakat manusia. Ratih Kumala tidak sedang bercerita tentang semut. Ia sedang bercerita tentang kita. Tentang manusia yang sering kali mengorbankan kebebasan demi stabilitas, tentang masyarakat yang menjadikan kepatuhan sebagai kebajikan tertinggi, dan tentang kekuasaan yang selalu menemukan cara untuk mempertahankan dirinya.
Lalu saya menonton Colony. Di film itu, ancaman terbesar bukanlah zombi yang menggigit manusia. Ancaman sesungguhnya adalah kemampuan mereka untuk saling berbagi informasi. Mereka bergerak seperti semut. Mereka belajar seperti organisme kolektif. Mereka tidak lagi menjadi individu-individu yang terpisah, melainkan satu kesadaran besar yang bekerja bersama.
Saat itulah saya teringat pada dunia semut dalam novel Ratih Kumala. Jika dalam Koloni semut menjadi metafora manusia, maka dalam Colony zombi berubah menjadi semut. Keduanya menghadirkan pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika individu kehilangan dirinya dan melebur ke dalam kesadaran kolektif?
Jejak Feromon dan Algoritma
Pertanyaan itu terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Kita hidup dalam era media sosial, algoritma, dan banjir informasi. Setiap hari jutaan orang bergerak mengikuti arus yang sama. Mereka menyukai hal yang sama, marah pada isu yang sama, mengutuk orang yang sama, dan memuja tokoh yang sama.
Kadang-kadang kita merasa sedang memilih. Padahal mungkin kita hanya sedang mengikuti jejak feromon. Dalam dunia semut, feromon adalah bahasa. Jejak kimia yang ditinggalkan seekor semut akan diikuti oleh semut lainnya. Semakin banyak yang mengikuti, semakin kuat jalur itu terbentuk. Lama-kelamaan seluruh koloni bergerak ke arah yang sama.
Bukankah media sosial bekerja dengan cara yang mirip? Satu unggahan viral muncul. Ribuan orang membagikannya. Puluhan ribu orang mempercayainya. Jutaan orang mengulanginya. Pada akhirnya, yang penting bukan lagi apakah informasi itu benar atau salah, melainkan seberapa banyak orang yang mempercayainya.
Dalam konteks ini, zombi dalam Colony terasa menakutkan bukan karena mereka mati hidup kembali. Mereka menakutkan karena mereka mengingatkan kita pada diri kita sendiri. Kita hidup di tengah koloni digital.
Ratih Kumala menunjukkan bagaimana tradisi dan kekuasaan membentuk perilaku koloni. Yeon Sang-ho menunjukkan bagaimana informasi membentuk perilaku koloni. Keduanya seolah sedang mengatakan bahwa manusia tidak pernah benar-benar bebas. Kita selalu hidup dalam jaringan pengaruh yang lebih besar daripada diri kita.
Eksistensi di Tengah Kerumunan
Namun di sinilah letak ironi yang menarik. Baik semut maupun zombi tidak pernah mempertanyakan keberadaan mereka. Mereka hanya menjalankan fungsi. Manusia berbeda. Manusia memiliki kesadaran. Kita mampu bertanya mengapa. Mengapa harus mengikuti? Mengapa harus patuh? Mengapa harus tunduk pada sistem? Mengapa harus menjadi bagian dari kerumunan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan manusia dari koloni.
Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”. Kebebasan itu sering kali menakutkan karena menuntut tanggung jawab. Jauh lebih mudah mengikuti kerumunan daripada menentukan jalan sendiri. Jauh lebih nyaman menjadi semut pekerja yang taat daripada menjadi individu yang harus mengambil keputusan.
Di titik inilah Koloni dan Colony bertemu. Keduanya berbicara tentang godaan besar yang selalu menghantui manusia: menyerahkan kebebasan kepada sistem yang lebih besar. Dalam novel Ratih Kumala, sistem itu bernama tradisi dan kekuasaan. Dalam film Yeon Sang-ho, sistem itu bernama informasi dan kecerdasan kolektif. Keduanya sama-sama menawarkan rasa aman. Keduanya juga sama-sama berpotensi menghapus keunikan individu.
Cermin yang Sama
Mungkin karena itulah kisah-kisah tentang koloni selalu menarik.Kita melih at semut dan merasa kagum. Kita melihat zombi dan merasa takut. Padahal keduanya memantulkan cermin yang sama. Cermin itu memperlihatkan manusia sebagai makhluk yang terus berusaha menyeimbangkan dua kebutuhan yang bertentangan: kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok dan kebutuhan untuk menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, baik Koloni maupun Colony tidak sedang berbicara tentang semut atau zombi. Keduanya sedang berbicara tentang manusia modern yang hidup di tengah jaringan kekuasaan, informasi, tradisi, dan teknologi yang semakin kompleks. Pertanyaan yang tersisa bukanlah bagaimana semut membangun koloni atau bagaimana zombi bertukar informasi. Pertanyaan yang sesungguhnya jauh lebih dekat. Di tengah dunia yang semakin menyerupai koloni, masihkah kita memiliki keberanian untuk menjadi individu?
Bandung, 8 Juni 2026











Tinggalkan Balasan