Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Analisis Kritik Sastra ‘‘Melodi Kehidupan’’ karya Marizta Alenta M

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Theresia Meturan

     Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan dan menafsirkan nilai karya sastra yakni ‘’Melodi Kehidupan’’ yang menceritakan kekhawatiran, ketegangan akan hidup. Hasilnya menunjukkan bahwa karya sastra khususnya dalam puisi karya Marizta Alenta M terdapat makna yang mengangkat kejadian-kejadian dalam kehidupan manusia dalam menjalankan peran sebagai manusia. Sastra adalah karya yang dibuat pengarang untuk mengekspresikan perasaan dalam bentuk tulisan. Sastra adalah potret hidup manusia sebab sastra lahir dari pergulatan batin pengarang dan keadaan disekitarnya, ia lahir sebagai potret keadaan dan dinamika yang terjadi di sekitar kehidupan manusia termasuk segala aktivitas manusia. Menurut Saddhono (2017) karya sastra adalah dunia dalam kata. Setiap pembaca karya sastra mempunyai persepsi yang berubah-ubah. Sastra adalah wadah untuk mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman pengarang, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman imajinasi. Dengan sastra penulis dapat membuat karyanya untuk memberikan pesan kepada pembaca, sastra merupakan suatu wujud dan hasil dari kebudayaan.

      Puisi adalah sekumpulan kata-kata yang indah, tersusun oleh tipografi dan kosakata yang menarik oleh seorang penyair. Puisi merupakan pengungkapan perasaan, pengalaman, dan ide yang dialami oleh seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam KBBI (2008:903) puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Menurut Hartani (2015), puisi adalah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu meningkatkan kesadaran seseorang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan lewat bunyi, irama. Baik buruk atau sempurna tidaknya suatu kritik sastra berhubungan dengan kepandaian pribadi seorang kritikus (Pradopo, 2001: 11).Dengan adanya kritik yang disuarakan pengarang lewat karya sastra mengharapkan ada perubahan yang lebih baik untuk proses kehidupan manusia dalam bersosialisasi.Oleh karena itu, sastra juga merupakan salah satu ukuran sosiologis yang paling efektif untuk mengukur tanggapan manusia terhadap kekuatan sosial (dalam Yasa,2012:23).

Kritik di abad kedua puluh ini telah mengalami perkembangan pesat, karena adanya  sumbangan ilmu-ilmu kemasyarakatan dan psikologi. Kritik sastra yang semula dapat digolongkan menjadi dua pendekatan saja pendekatan formal dan pendekatan moral. Secara konseptual pendekatan mitos dan arketipe merupakan cabang dari pendekatan psikologi. Oleh karena itu, garis besarnya pendekatan baru yang membantu perkembangan kritik sastra psikologi memasuki biang kritik sastra lewat beberapa jalan pembahasan tentang proses penciptaan sastra, pembahasan psikologi terhadap pengarangnya, pembicaraan tentang ajaran dan kaidah psikologi yang dapat ditimpa dari karya sastra, dan pengaruh karya sastra terhadap pembacanya.

Melodi Kehidupan
karya Marizta Alenta M

Dalam perjalanan hidup penuh rintangan
Terhempas oleh badai kepedihan
Setiap luka merobek hati dan jiwa
Meninggalkan bekas dalam setiap langkah

Hati teriris oleh kepedihan
Air mata mengalir bagaikan terjun
Rasa sakit terasa begitu menyakitkan
Terjatuh dalam jurang keputusasaan
Terjebak dalam kegelapan

Dalam kepedihan
Mengerti makna kehidupan
Setiap hentakan menyisahkan puing kehancuran
Dari puing kehancuran muncul keindahan

Setiap luka adalah kanuas
Menggambarkan kisah perjalanan yang mengiris
Tersakiti oleh hancur nya lukisan
Jadi biarkanlah hati terbuka meski selalu terluka

Hanya dengan merasakan kepedihan
Yang mampu merangkul kebahagian.
Dan Hanya dengan kesedihan
Belajar menghargai kebahagian

Ingat,di balik senyuman
Tersembunyi luka yang dalam
Hidup memang tak selalu indah
Akan selalu dihiasi oleh kepedihan

Tipografi (penyusunan baris dan bait dalam puisi),tipografi merupakan tatanan dalam sebuah puisi,di mana tipografi ini menunjukan susunan dan tiap baris dalam puisi Melodi Kehidupan menggunakan tipografi yang umum atau teratur dengan jumlah baris dan bait yang sama.

Kata dan Diksi, bahasa yang mudah dipahami, diksi yang digunakan cukup sederhana dan komunikatif, sehingga pesan puisi mudah sampai kepada pembaca dari berbagai kalangan. Penggunaan kata-kata emosional: Kata-kata seperti kepedihan, luka, hancur, kesedihan, kebahagiaan berhasil membangun suasana yang sesuai dengan tema, yaitu perjuangan hidup dan makna di balik penderitaan. Gaya bahasa yang jela, penggunaan majas seperti perumpamaan (bagaikan terjun) dan personifikasi cukup efektif untuk memperkuat gambaran perasaan. Pengulangan kata (redundansi) ada beberapa kata yang diulang dalam jarak dekat, membuat bacaan terasa monoton dan kurang variatif “Rasa sakit terasa begitu menyakitkan “Kata sakit dan menyakitkan berulang dalam satu baris. “Dari puing kehancuran muncul keindahan” Kata kehancuran sudah disebutkan di baris sebelumnya.”kebahagiaan” dan “kesedihan” diulang berkali-kali tanpa variasi sinonim. Kesalahan Ejaan dan Penulisan kanuas – seharusnya kanvas, hancur nya – seharusnya ditulis hancurnya (tanpa spasi) kebahagian  seharusnya kebahagiaan (ada huruf ‘g’ yang hilang) di balik – seharusnya di balik (kata depan di- ditulis serangkai jika bukan menunjukkan tempat). Diksi yang kurang tepat atau klise “Air mata mengalir bagaikan terjun” Frasa bagaikan terjun terasa kurang pas dan kurang puitis. Lebih umum dan indah jika menggunakan bagaikan air terjun atau mengalir deras seperti sungai.”Terhempas oleh badai kepedihan” Ini adalah ungkapan yang sudah sangat umum (klise). Bisa diganti dengan pilihan kata yang lebih segar, misalnya dihantam badai nestapa atau terguncang gelombang duka. “Setiap luka merobek hati dan jiwa”Kata merobek sudah kuat, namun frasa hati dan jiwa terasa agak standar.

 Struktur kalimat yang kurang halus”Jadi biarkanlah hati terbuka meski selalu terluka” kata jadi di awal kalimat terasa terlalu percakapan dan mengurangi kesan puitis. Bisa dihilangkan atau diganti dengan Maka biarkanlah.”Yang mampu merangkul kebahagiaan” k ata merangkul agak kurang cocok dengan objek kebahagiaan. Lebih pas jika menggunakan menyambut, merasakan, atau menikmati.Bahasa kiasan dan bahasa retorik Penggunaan Bahasa Kiasan yang Jelaspenulis cukup berhasil menggunakan majas untuk menggambarkan perasaan dan keadaan. Contohnya, penggunaan metafora seperti “badai kepedihan” ,”jurang keputusasaan”,dan”kegelapan”cukup efektif untuk melukiskan kesulitan hidup. Majas perumpamaan seperti “Air mata mengalir bagaikan terjun” juga membantu pembaca membayangkan intensitas kesedihan. Penggunaan Personifikasi: Ungkapan seperti “luka merobek hati” dan “luka yang tersembunyi” memberikan kesan seolah-olah rasa sakit itu memiliki kehidupan sendiri, sehingga emosi yang disampaikan terasa lebih hidup dan menyentuh.

Pesan yang tegas melalui struktur kalimat yang lugas, puisi ini berhasil menyampaikan pesan moral bahwa kepedihan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan membawa hikmah tersendiri. Bahasa kiasan yang kurang variatif dan terkesan klise banyak perbandingan atau kiasan yang digunakan sudah sangat umum dan sering ditemukan dalam karya sastra lain, sehingga terasa kurang orisinal. Contoh: badai kepedihan, jurang keputusasaan, kegelapan. Hal ini membuat puisi terasa kurang memiliki ciri khas atau kebaruan dalam gaya bahasanya. Beberapa kiasan terasa kurang tepat atau kurang lengkap, seperti “bagaikan terjun”. Frasa ini terasa menggantung dan kurang jelas maksudnya. Seharusnya diperjelas menjadi “bagaikan air terjun” agar maknanya utuh dan indah.

 Penggunaan bahasa retorik yang belum maksimal, belum pertanyaan retoris,puisi ini cenderung bersifat deklaratif (menyatakan fakta atau pendapat) dan kurang menggunakan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban untuk memperkuat efek emosional atau memancing perenungan pembaca.Pengulangan (repetisi) yang kurang terarah meskipun ada pengulangan kata seperti kepedihan dan kebahagiaan, namun penggunaannya lebih bersifat pengulangan kata biasa daripada pengulangan yang disengaja untuk menekankan makna atau menciptakan irama yang kuat.Konjungsi yang terlalu percakapan: Penggunaan kata seperti “Jadi” di awal baris (“Jadi biarkanlah hati terbuka…”) dan “Dan” di awal bait mengurangi kesan puitis dan retoris. Kata-kata ini lebih cocok digunakan dalam kalimat naratif atau percakapan sehari-hari, bukan dalam struktur puisi yang seharusnya lebih padat dan implisit.Beberapa gambaran masih terasa umum, seperti “merobek hati dan jiwa”. Meskipun benar secara makna, namun belum memberikan citra visual atau sensasi yang sangat spesifik dan kuat yang bisa membuat pembaca benar-benar “merasakan” apa yang dirasakan penyair.

Rima,asonansi adanya usaha menciptakan keselarasan bunyi penulis sudah berusaha menggunakan kata-kata yang memiliki bunyi berakhiran serupa di beberapa bagian, sehingga puisi tetap memiliki irama dan enak didengar saat dibacakan.Rima akhir yang cukup konsisten pada beberapa bait terdapat bait yang menggunakan pola rima yang cukup rapi, misalnya pada bait terakhir dengan bunyi -an (senyuman, dalam, indah, kepedihan) yang memberikan kesan penutup yang bulat dan mantap.Pengulangan bunyi vokal penggunaan bunyi vokal yang sama seperti pada kata kepedihan, kehidupan, keindahan (bunyi ‘a’ dan ‘an’) menciptakan asonansi yang cukup lembut dan mendukung suasana emosional puisi.

 Rima yang tidak konsisten dan terputus secara umum, rima atau persajakan dalam puisi ini masih terasa bebas dan tidak terikat pada pola tertentu (seperti A-B-A-B atau A-A-B-B). Hal ini membuat ritme bacaan terasa melompat-lompat dan kurang mengalir.Contoh ketidakkonsistenan:rintangan (-an),kepedihan (-an),jiwa (-a),langkah (-ah)bunyi berakhiran berubah-ubah dalam satu bait, sehingga kehilangan efek musikalitas yang kuat.

  Asonansi yang kurang dimaksimalkan,asonansi (persamaan bunyi vokal di tengah kata) belum dimanfaatkan secara maksimal untuk memperindah bunyi. Sebagian besar penekanan hanya ada pada bunyi akhiran kata, padahal permainan bunyi di dalam kata bisa membuat puisi terdengar lebih merdu dan puitis.Beberapa baris memiliki struktur kata yang membuat bunyi terasa “berat” atau kurang enak dilafalkan, seperti “Menggambarkankisah perjalanan yang mengiris” karena kata yang terlalu panjang dan berturut-turut.Pengulangan bunyi yang monoton,terlalu dominan menggunakan akhiran bunyi -an di hampir seluruh bait (rintangan, kepedihan, jiwa, langkah, terjun, menyakitkan, kehancuran, keindahan, dll). Meskipun membuat bunyi serasi, namun penggunaan yang berlebihan tanpa variasi bunyi lain (seperti -i, -u, atau -ar) justru membuat irama terasa datar dan membosankan.

Imaji (citra bayangan muncul dalam pikiran pembaca puisi) imaji visual yang cukup kuat,penulis berhasil menggunakan kata-kata yang memancing pembaca untuk membayangkan gambaran konkret.Contohnya pada baris “Air mata mengalir bagaikan terjun”, pembaca bisa langsung membayangkan air mata yang jatuh deras dan deras seperti air terjun. Selain itu, frasa “jurang keputusasaan” dan “kegelapan” juga menciptakan gambaran visual yang jelas tentang keadaan mental yang suram dan terisolasi.Imaji taktil yang menyentuh emosi,penggunaan tkata-kata seperti “merobek”, “teriris”, dan “terluka” berhasil membangkitkan sensasi fisik dan rasa sakit. Pembaca seolah bisa merasakan perihnya luka batin yang digambarkan, sehingga emosi puisi lebih mudah tersampaikan dan menyentuh hati.Penggunaan metafora yang bermakna: Imaji seperti “Setiap luka adalah kanuas” (seharusnya kanvas) dan “hancur nya lukisan” merupakan metafora yang menarik. Hal ini mengubah konsep abstrak tentang pengalaman hidup menjadi gambaran konkret tentang seni dan proses penciptaan, memberikan kedalaman makna tersendiri.

 Jenis imaji yang kurang bervariasi,puisi ini didominasi oleh imaji visual dan imaji taktil. Hampir tidak ada variasi menggunakan jenis imaji lain seperti imaji auditori (suara), olfaktori (bau), atau gustatori (rasa). Hal ini membuat pengalaman membaca terasa kurang lengkap dan “datar” dari sisi indrawi. Contoh: Tidak ada gambaran tentang suara tangis, desah napas, aroma kesedihan, atau rasa pahit yang biasanya menyertai perasaan sedih.Beberapa Imaji terasa klise dan umum,beberapa gambaran yang digunakan sudah sangat sering muncul dalam puisi-puisi bertema kesedihan, sehingga kurang memberikan kesan baru atau unik. Misalnya “badai kepedihan”, “kegelapan”, atau “luka yang dalam”.Meskipun efektif, namun penggunaannya tanpa sentuhan baru membuat puisi terasa kurang orisinal.Terdapat kesalahan penulisan kata seperti “kanuas” yang seharusnya “kanvas”.Kesalahan ini sedikit mengganggu proses pembentukan citraan dalam pikiran pembaca,karena kata tersebut tidak umum dan bisa membingungkan.Beberapa baris masih terasa terlalu umum dan kurang detail. Misalnya “Meninggalkan bekas dalam setiap langkah”. Pembaca bisa membayangkan bekas, namun tidak jelas seperti apa bentuk bekas tersebut,apakah berupa luka fisik, noda ingatan, atau jejak perasaan? Detail yang lebih spesifik akan membuat imaji menjadi lebih hidup dan nyata.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *