Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Yoko dan Ingatan Anak 90-an

[Sumber gambar: https://www.fimela.com/]

Penulis: Heri Isnaini

Bagi generasi 90-an, ada masa ketika suara televisi menjadi penanda waktu. Sore yang merambat ke malam, jalanan kampung mulai lengang, dan dari ruang tamu terdengar lagu yang langsung dikenali sejak nada pertamanya. Pendekar Rajawali atau, seperti yang lebih akrab di lidah banyak orang: Yoko.

Bagi anak-anak yang tumbuh di era itu, serial ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah bagian dari ritme hidup. Setidaknya, lagu soundtrack-nya pernah begitu ngetop dan melekat di ingatan. Lagu yang dinyanyikan Yuni Shara itu terdengar lirih sekaligus getir, seolah sejak awal sudah memberi isyarat bahwa kisah ini bukan sekadar tentang jurus dan pertarungan.

Siapa yang merubah hatiku
Siapa yang membuat kita satu

Dua baris pembuka itu seperti pintu masuk ke dunia Yoko dan Bibi Lung, dunia yang dipenuhi pertemuan, perpisahan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Karakter Yoko dan Bibi Lung menjadi ikon yang diingat banyak penggemarnya. Bahkan, tidak sedikit yang lebih mengenang nama tokohnya ketimbang judul serialnya. Serial ini kerap disebut sebagai drama Yoko atau serial Bibi Lung. Ingatan kolektif bekerja dengan caranya sendiri, yang tinggal bukan data, melainkan emosi.

Padahal, secara historis, serial ini memiliki jejak panjang. Judul aslinya adalah The Legend of the Condor Heroes, adaptasi dari novel silat legendaris karya Jin Yong yang ditulis sejak era 1950-an. Versi serial pertamanya diproduksi oleh CTV Hong Kong pada tahun 1976 dan meraih kesuksesan besar. Keberhasilan itu membuat TVB Hong Kong membeli hak siarnya dan memproduksi ulang serial tersebut pada 1983 dengan Felix Wong dan Barbara Yung sebagai pemeran utama.

Namun, ingatan anak 90-an lebih lekat pada kelanjutannya, Return of the Condor Heroes. Di sinilah sosok Yoko dan Bibi Lung tampil paling membekas. Andy Lau memerankan Yeung Ko (Yoko), sementara Idy Chan berperan sebagai Siu Lung Nui (Bibi Lung). Serial ini bukan hanya sukses secara rating, tetapi juga melejitkan nama Andy Lau menjadi superstar dunia, terutama di industri film.

Di Indonesia, Pendekar Rajawali sebenarnya sudah dikenal sejak era 1980-an melalui kaset video, format yang kini nyaris punah. Baru ketika televisi swasta bermunculan pada era 1990-an, serial ini benar-benar menemukan penontonnya secara massal. Indosiar menayangkannya, dan Yoko pun menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga.

Menonton Yoko kala itu adalah sebuah ritual. Tidak ada fitur ulang, tidak ada episode cadangan. Jika terlambat pulang, satu bagian cerita akan benar-benar hilang. Barangkali karena itulah setiap adegan terasa penting, setiap konflik terasa dekat. Lagu tema pun kembali menguatkan rasa itu:

Selalu menyatu beban kecewa
Namun takkan ku kan berakhir

Lirik-lirik ini seolah menyatu dengan jalan hidup Yoko, pendekar yang keras kepala, tersesat, dan kerap terluka, tetapi tidak pernah benar-benar menyerah. Ia bukan pahlawan yang rapi. Ia manusia yang bergulat dengan dirinya sendiri.

Hubungannya dengan Bibi Lung juga demikian. Cinta mereka tidak berjalan mulus. Ada jarak, larangan, dan pengorbanan. Lagu itu kembali bergema di kepala penonton:

Benci dan cintaku menyatu
Semakin dalam gejolak jiwa

Barangkali inilah sebabnya kisah mereka terasa begitu membekas. Ia tidak menawarkan akhir yang mudah, melainkan perasaan yang bertahan lama. Bahkan ketika kenangan mulai pudar.

Kenangan indah pun memudar
Alami masa sendu

Kini, segalanya telah berubah. Kita tidak lagi menunggu, melainkan memilih. Tidak lagi berkumpul di satu layar, melainkan menyendiri di perangkat masing-masing. Namun, nostalgia terhadap Yoko bukan sekadar kerinduan pada sebuah serial lama. Ia adalah kerinduan pada cara lama menikmati cerita dengan sabar, dengan kebersamaan, dan dengan kesediaan menerima perpisahan.

Seperti bait terakhir lagu itu:

Walau kita kan berpisah
Rasa hati bergelora

Yoko mungkin telah lama pergi dari layar televisi, tetapi bagi anak 90-an, ia tetap hidup dan terbang di ruang ingatan, sebagai simbol pencarian, kesetiaan, dan masa kecil yang tak pernah benar-benar selesai.

Yoko mungkin juga telah hilang dari perbincangan. Namun, ia tidak pernah benar-benar selesai dalam diri kita. Kenangan bekerja bukan untuk membawa kita mundur, melainkan mengingatkan siapa diri kita pernah menjadi. Dari sana, kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kecepatan dan kelengkapan, tetapi tentang momen-momen yang pernah kita tunggu dengan sabar dan kita rasakan bersama.

Di tengah dunia yang serba instan hari ini, kenangan justru menjadi penyeimbang. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menoleh, dan mensyukuri perjalanan. Seperti Yoko yang terus mengembara, kita pun hidup dengan membawa fragmen-fragmen masa lalu tentang kebersamaan, kehilangan, dan cinta yang tak selalu berakhir bahagia.

Barangkali itulah sebabnya lagu itu masih bergema, dan kisah itu masih hidup. Bukan karena kita ingin kembali menjadi anak 90-an, tetapi karena kenangan adalah cara paling manusiawi untuk tetap utuh di tengah perubahan.

Bandung, 24 Januari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *