
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini

Potret penyair Inggris Wilfred Owen (1893–1918), salah satu suara paling penting dalam puisi perang abad ke-20. Foto ini memperlihatkan Owen sebagai seorang pemuda dengan seragam militer, sebuah citra yang kemudian menjadi simbol paradoks dalam hidupnya. Seorang penyair yang mencintai kata-kata, tetapi harus hidup di tengah kebisingan meriam perang. Ia bergabung dengan tentara Inggris pada masa Perang Dunia I dan menulis puisi-puisi yang mengungkap secara jujur penderitaan para tentara di parit-parit perang.
Di antara dentum meriam dan tanah parit yang basah oleh lumpur serta darah, lahirlah sebuah suara yang kelak akan dikenang sebagai salah satu suara paling jujur dalam puisi perang. Nama penyair itu adalah Wilfred Owen, seorang pemuda Inggris yang hidupnya tidak panjang, tetapi puisinya terus bergema melampaui zaman. Ia lahir pada 18 Maret 1893 di Oswestry, sebuah kota kecil di Shropshire, Inggris. Masa kecilnya tidak sepenuhnya mudah. Keluarganya hidup sederhana, dan sejak kecil Owen sudah terbiasa dengan perpindahan tempat tinggal, mengikuti kehidupan orang tuanya yang harus mencari penghidupan. Namun di tengah kesederhanaan itu, tumbuhlah kecintaan pada bahasa, kitab suci, dan puisi.
Sejak muda Owen sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia sastra. Ia membaca banyak karya penyair Inggris dan mencoba menulis puisi dengan suara yang masih liris dan romantik. Ada semacam kerinduan spiritual dalam tulisannya, sebuah upaya memahami dunia melalui kata-kata. Tetapi sejarah memiliki rencananya sendiri. Ketika Eropa diguncang oleh perang besar yang kelak dikenal sebagai Perang Dunia I, Owen tidak lagi hanya menjadi pengamat dunia, ia menjadi bagian dari pusaran tragedinya.
Ia bergabung dengan tentara Inggris dan dikirim ke garis depan di Prancis. Di sanalah pandangan hidup dan estetikanya berubah secara radikal. Parit-parit perang memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: tubuh-tubuh yang hancur, tentara muda yang ketakutan, dan kematian yang datang begitu biasa seperti hujan musim dingin. Perang yang selama ini dibayangkan sebagai heroisme ternyata lebih menyerupai mesin penghancur kemanusiaan.
Pengalaman di medan tempur membuat Owen mengalami kelelahan mental yang berat, sesuatu yang pada masa itu disebut “shell shock.” Ia kemudian dirawat di rumah sakit militer. Justru di tempat itulah ia bertemu seorang penyair lain yang akan mengubah arah kepenyairannya, Siegfried Sassoon. Sassoon tidak hanya menjadi sahabat, tetapi juga mentor yang menajamkan keberanian estetik Owen. Dari pertemuan itu, puisi Owen menjadi lebih tajam, lebih getir, dan lebih jujur dalam menggambarkan perang.
Puisi-puisi seperti Dulce et Decorum Est, Anthem for Doomed Youth, dan Exposure lahir dari pengalaman tersebut. Di tangan Owen, perang tidak lagi digambarkan sebagai panggung kemuliaan, melainkan sebagai tragedi manusia yang nyaris tanpa makna. Ia menulis tentang tentara muda yang mati sia-sia, tentang gas beracun yang membuat paru-paru terbakar, dan tentang kesunyian parit yang lebih mengerikan daripada suara meriam. Owen pernah menulis bahwa puisi-puisinya tidak dimaksudkan untuk memuliakan perang, tetapi untuk mengungkapkan belas kasihan bagi para korban.
Dalam tangannya, perang tidak lagi tampak sebagai panggung kepahlawanan yang agung, melainkan sebagai tragedi manusia yang rapuh dan nyaris tak bermakna. Owen menulis bukan untuk mengagungkan kemenangan, tetapi untuk menunjukkan luka yang sering disembunyikan oleh propaganda. Ia memperlihatkan bagaimana tentara-tentara muda, yang sebelumnya hanya mengenal kehidupan desa dan sekolah, tiba-tiba harus berhadapan dengan kematian yang brutal.
Dalam puisi Dulce et Decorum Est, Owen menghadirkan gambaran yang begitu menggetarkan tentang serangan gas beracun.
“Gas! GAS! Quick, boys!—An ecstasy of fumbling,
Fitting the clumsy helmets just in time;
But someone still was yelling out and stumbling,
And flound’ring like a man in fire or lime.”
Gas! GAS! Cepat, anak-anak!—sebuah kepanikan yang tergesa,
Memasang helm-helm canggung tepat pada waktunya;
Namun seseorang masih berteriak dan terhuyung,
Menggelepar seperti manusia yang terbakar atau tenggelam dalam kapur panas.
Baris-baris ini menghadirkan kepanikan yang nyata, sebuah momen ketika hidup dan mati hanya dipisahkan oleh beberapa detik. Bagi Owen, perang bukanlah kisah heroik, melainkan penderitaan manusia yang telanjang.
Sementara itu, dalam puisi Anthem for Doomed Youth, ia menatap kematian para tentara muda dengan kesedihan yang hampir liturgis.
“What passing-bells for these who die as cattle?
—Only the monstrous anger of the guns.
Only the stuttering rifles’ rapid rattle
Can patter out their hasty orisons.”
Lonceng kematian apa yang berdentang bagi mereka yang mati seperti ternak?
—Hanya kemarahan mengerikan dari meriam.
Hanya rentetan senapan yang gagap dan tergesa
Yang menggantikan doa-doa singkat bagi mereka.
Di sini Owen membandingkan para tentara yang gugur dengan “ternak yang disembelih”, sebuah metafora yang tajam dan menyakitkan. Suara meriam menggantikan lonceng gereja, seakan-akan dunia telah kehilangan rasa belas kasihnya.
Adapun dalam puisi Exposure, Owen menggambarkan penderitaan yang lebih sunyi: tentara-tentara yang menunggu di parit-parit beku, disiksa oleh dingin dan ketidakpastian.
“Our brains ache, in the merciless iced east winds that knive us…
Wearied we keep awake because the night is silent…”
Otak kami terasa nyeri oleh angin timur yang membeku dan menikam tanpa belas kasihan…
Dengan lelah kami tetap terjaga, sebab malam terlalu sunyi.
Tidak ada heroisme dalam baris ini hanya kelelahan, kesunyian, dan rasa menunggu yang tak berujung. Justru di situlah kekuatan puisi Owen: ia memperlihatkan bahwa perang sering kali tidak terdiri dari kemenangan gemilang, tetapi dari malam-malam panjang yang dipenuhi rasa takut.
Karena itu Owen pernah menulis bahwa puisi-puisinya tidak dimaksudkan untuk memuliakan perang. Tujuannya hanya satu: mengungkapkan “the pity of war”, belas kasihan yang lahir dari luka kemanusiaan.
Namun, takdir Owen sendiri ternyata tidak jauh berbeda dari tokoh-tokoh dalam puisinya. Pada 4 November 1918, ketika perang hampir berakhir, ia gugur dalam sebuah pertempuran di Prancis. Ironi sejarah terjadi, kabar kematiannya tiba di rumah keluarganya tepat ketika lonceng gereja berdentang merayakan berakhirnya perang.
Owen meninggal pada usia dua puluh lima tahun, usia yang bagi banyak orang baru merupakan awal perjalanan hidup. Akan tetapi, dalam waktu yang singkat itu ia telah meninggalkan jejak yang dalam dalam sastra dunia. Puisi-puisinya tidak hanya berbicara tentang perang, tetapi tentang luka kemanusiaan yang sering disembunyikan oleh slogan-slogan heroisme. Ia menulis seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa di balik setiap perang selalu ada wajah-wajah manusia yang terlupakan.
Dan mungkin di situlah letak keabadian seorang penyair. Tubuhnya boleh terkubur di tanah asing, tetapi suaranya terus hidup mengalir dari halaman puisi ke hati para pembacanya, seperti gema sunyi dari parit-parit perang yang tak pernah benar-benar selesai.
Bandung, 10 Maret 2026












Tinggalkan Balasan