Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Wartel, Telepon Koin, dan Seni Menunggu

[Sumber gambar: https://kaltengtoday.com/]

Penulis: Heri Isnaini

Di masa kecil dan remaja anak 90-an, termasuk saya, komunikasi tidak pernah instan. Ia harus diupayakan. Wartel dan telepon koin menjadi ruang perantara antara rindu dan suara. Ruang sempit mengajarkan bahwa berbicara juga membutuhkan kesabaran.

Wartel selalu punya suasana khas bilik-bilik kecil bersekat tipis, bau plastik dan kertas catatan, serta antrean orang yang membawa kepentingannya masing-masing. Di sana, suara tidak pernah sepenuhnya privat. Setiap percakapan selalu berdekatan dengan percakapan orang lain. Namun justru karena itu, kami belajar berbicara seperlunya. Kata-kata menjadi hemat dan efektif.

Telepon koin lebih keras dan lebih jujur. Ia tidak mengenal basa-basi. Koin dimasukkan, nada sambung terdengar, dan waktu mulai dihitung. Setiap detik begitu terasa. Jika koin habis, suara terputus tanpa peringatan. Percakapan harus cepat, jelas, dan tepat sasaran. Tidak ada ruang untuk ragu-ragu terlalu lama apalagi sekadar bahas sana bahas sini (basa-basi).

Wartel dan telepon koin juga mengajarkan bahwa jarak itu nyata. Menghubungi seseorang membutuhkan usaha fisik, seperti berjalan, mengantre, dan menunggu giliran. Rindu tidak bisa diselesaikan dengan satu sentuhan layar. Ia harus dilalui dengan langkah, waktu, dan sedikit keberanian.

Saya ingat bagaimana tangan siap memegang koin cadangan, telinga menempel erat pada gagang telepon, dan mata mengawasi waktu. Kadang sambungan gagal. Kadang nomor salah. Kadang suara di seberang hanya samar. Tetapi justru di situlah nilai emosionalnya ketika suara yang akhirnya tersambung begitu terasa sangat berarti.

Menariknya, keterbatasan ini justru melahirkan etika komunikasi. Kami belajar menyusun kalimat sebelum berbicara. Kami tahu bahwa waktu mahal. Kalimat yang diucapkan harus cukup penting untuk dikirimkan melintasi jarak. Komunikasi menjadi peristiwa penting, bukan sekadar kebiasaan.

Hari ini, ketika suara bisa dikirim kapan saja dan pesan bisa ditarik kembali, pengalaman itu terasa asing. Kita bisa berbicara tanpa benar-benar hadir. Wartel dan telepon koin, dalam kesederhanaannya, mengajarkan bahwa suara memiliki bobot. Ia membawa emosi, kegugupan, sekaligus harapan.

Mungkin itulah sebabnya, sampai sekarang, saya masih percaya bahwa suara manusia tidak pernah sekadar bunyi. Ia adalah peristiwa kecil yang pernah kita tunggu dengan sabar [di bilik sempit, dengan koin di tangan, dan jantung yang sedikit berdebar].

Dan seperti kaset yang harus dibalik atau baterai yang dijemur, wartel dan telepon koin mengajarkan satu hal yang sama. Tidak semua hal harus cepat untuk menjadi bermakna. Kadang, justru karena sulit, ia layak diingat.

Bandung, 2 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Wartel, Telepon Koin, dan Seni Menunggu”

  1. Avatar Bayu Puja Anugrah
    Bayu Puja Anugrah

    Gw banget ini mah, hahaha..
    Masa-masa yang sepertinya ga akan terulang lagi di era Digitalisasi saat ini.

    Lope sakebon untuk penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *