Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Upacara Bendera di Sekolahku

[Sumber gambar: https://annibuku.com]

Penulis: Eli Yuliasari

Senin pagi yang indah, matahari bersinar cerah di SD negeri 3 Gununghalu. Anak anak  berkumpul di halaman untuk mengikuti kegiatan upacara bendera.  Angin sejuk berhembus lembut di lapangan upacara.

Siswa yang bertugas menjadi petugas upacara terlihat tengah bersiap siap untuk melaksanakan upacara pagi itu. Lutfhi seorang siswa kelas 5 bertugas menjadi pemimpin upacara. Meski tampak gugup, namun ia tetap berdiri tegap dan berani. Sementara itu ada juga teman temannya yang bertugas menjadi tura, pengibar bendera, pembaca teks Pancasila, dan pembaca doa.

Upacara pun dimulai. “Kepada sang merah putih, hormaattt gerak!“ suara lutfhi terdengar lantang. Seluruh peserta upacara serentak memberi hormat dengan khidmat.

Pak Yayat yang bertugas menjadi pembina upacara tersenyum bangga. Dalam amanat upacara yang disampaikannya beliau berkata “anak anak upacara bendera bukan sekedar rutinitas, akan tetapi ini adalah wujud cinta kita terhadap tanah air. Sebagai bentuk perwujudan bela negara, kalian bisa melakukannya mulai dari hal sederhana. Seperti, disiplin, saling membantu, menjaga kebersihan, dan belajar dengan sungguh sungguh.”

Sejak hari itu, amanat yang disampaikan pak yayat sangat membekas di hati para siswa. terutama lutfhi dan teman temannya, mereka berjanji akan giat belajar, menjadi anak disiplin, menjaga kebersihan dan saling membantu. Mereka sadar bahwa bela negara bukan hanya berperang dan tugas tantara. Akan tetapi bela negara adalah tugas setiap anak bangsa.

Mereka pun sangat bangga menjadi anak Indonesia.

Seusai amanat dari Pak Yayat, angin kembali berembus pelan, seolah ikut mendengar janji yang baru saja tertanam di hati para siswa. Lutfhi menarik napas lega saat tugasnya sebagai pemimpin upacara selesai. Keringat dingin yang sempat membasahi telapak tangannya mulai hilang berganti senyum kecil. Ia melirik teman-temannya yang menjadi petugas, dan mereka saling memberi anggukan bangga.

Setelah upacara dibubarkan, para siswa berjalan kembali ke kelas. Suasana pagi itu terasa berbeda. Bahkan suara langkah kaki mereka di koridor sekolah terdengar lebih teratur dan penuh semangat.
“Lut, keren tadi kamu,” kata Dani, sahabat Lutfhi yang bertugas sebagai pembaca doa.
“Aku gemetaran, sumpah,” jawab Lutfhi sambil tertawa kecil.
“Tapi suara kamu lantang banget. Pak Yayat sampai senyum lebar,” tambah Dani.
Lutfhi tersipu dan hanya mengangguk.

Di kelas, Bu Rina—guru kelas lima—memulai pelajaran dengan mengulas kembali pesan Pak Yayat. Beliau meminta setiap siswa menuliskan satu contoh perilaku sederhana yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk cinta pada tanah air. Anak-anak pun menunduk, menulis dengan serius.

Lutfhi menulis: “Saya ingin menjaga lingkungan sekolah supaya bersih dan rapi.”
Ia teringat kebiasaan teman-temannya yang sering membuang bungkus jajanan sembarangan. “Mulai hari ini, aku harus berani menegur,” gumamnya dalam hati.

Waktu istirahat tiba. Di halaman sekolah, terlihat beberapa sampah plastik tertiup angin. Tanpa menunggu perintah siapa pun, Lutfhi menghampiri dan memungutnya.
“Eh, Lut, kamu ngapain?” tanya Rara yang baru keluar dari kelas.
“Ingat amanat Pak Yayat? Kita mulai dari hal kecil,” jawab Lutfhi sambil tersenyum.
Rara ikut membantunya, lalu perlahan teman-teman lain ikut bergabung. Tak lama, halaman sekolah menjadi lebih bersih dari sebelumnya.

Siang harinya, Pak Yayat melewati halaman sekolah dan melihat anak-anak sedang memunguti sampah. Beliau berhenti sejenak.
“Wah, hebat kalian. Tanpa disuruh pun kalian sudah bergerak,” ucapnya bangga.
Lutfhi dan teman-temannya hanya tersenyum malu-malu, tetapi dalam hati mereka merasa sangat puas.

Sejak hari itu, suasana di SD Negeri 3 Gununghalu berubah sedikit demi sedikit. Anak-anak lebih disiplin datang pagi, tidak lagi berebut antrean di kantin, membersihkan kelas tanpa harus diingatkan, dan saling membantu saat ada teman yang kesulitan memahami pelajaran.

Bagi Lutfhi, amanat Pak Yayat bukan lagi sekadar nasihat. Itu sudah menjadi bagian dari keseharian—sebuah pengingat bahwa menjadi anak Indonesia berarti menjaga apa yang ia miliki, mulai dari hal-hal paling kecil.

Dan setiap kali upacara bendera tiba, perasaan bangga itu selalu muncul lagi—bangga pada diri sendiri, pada teman-temannya, dan pada tanah kelahirannya.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *