Belajar dari Kamen Rider Black dan Kamen Rider RX

[Sumber gambar: https://www.liputan6.com/]
Penulis: Heri Isnaini
Saya menonton Kamen Rider Black dan Kamen Rider RX di tahun 1990-an, ketika tubuh saya masih kecil dan dunia belum sepenuhnya ramah. Waktu itu saya masih SD. Televisi tabung di ruang tengah, antena yang harus diputar, dan pagi yang terasa panjang. Namun yang paling saya ingat justru bukan gambarnya, melainkan lagunya, teriakan yang seperti memanggil dari luar layar: Wake Up! Seakan ada suara yang membangunkan bukan hanya pahlawan, tetapi juga anak kecil yang sedang belajar memahami dunia.
Kamen Rider Black lahir dari tubuh yang dipaksa berubah. Tubuh Kotaro Minami bukan rumah yang tenang, melainkan medan operasi. Ia disakiti, direkayasa, lalu dilepaskan. Maka ketika lagu itu berkata, Hikari no oorora mi ni matoi [membungkus diri dengan cahaya aurora] saya merasa cahaya itu bukan hadiah, melainkan pelindung bagi tubuh yang sudah terlalu sering disakiti.

Sebagai anak kecil, saya belum mengenal konsep penubuhan. Namun saya tahu bahwa tubuh Kamen Rider bukan sekadar alat, melainkan tempat penderitaan menetap dan berbicara. Ketika liriknya mengingatkan, Hinetsuku koto o osoretara, chikyu wa aku no te ni shizu [jika takut terluka, dunia akan jatuh ke tangan kejahatan] saya menangkap pesan yang keras bahwa luka bukan pilihan, tetapi keberanian adalah sikap tubuh untuk tetap bergerak meski sakit.
Tragedi terdalam bagi saya tetaplah Nobuhiko. Tubuh yang sama-sama diculik, sama-sama diubah, tetapi memilih jalan berbeda. Shadow Moon bukan monster asing, ia adalah cermin gelap dari apa yang mungkin terjadi jika penderitaan hanya dibalas dengan hasrat berkuasa. Maka pertarungan mereka terasa begitu menyakitkan, sebab ia bukan sekadar konflik ideologi, melainkan perang antartubuh yang pernah saling percaya.

Di Kamen Rider RX, kehilangan itu tidak disembuhkan. Ia justru dibawa lebih jauh ke luar angkasa, ke kehampaan. RX lahir di ambang maut, dan lagu itu kembali menyala: Wake Up The Hero, mune no oku, kimi no shiranai kimi ga iru no sa. [Di dalam dadamu, ada dirimu yang bahkan belum kau kenal.] Barangkali itulah makna terdalam penubuhan bahwa penderitaan membuka lapisan diri yang sebelumnya tersembunyi.
Transformasi RX (Robo Rider, Bio Rider) bukan sekadar variasi bentuk. Ia adalah metafora tubuh yang terus menyesuaikan diri demi bertahan. Namun mata tetap sama: Kamen Rider, maaka na me. Mata merah itu bukan tanda amarah semata, melainkan ingatan yang tidak pernah padam tentang kehilangan, tentang Nobuhiko, tentang tubuh yang pernah hampir hancur.

Sebagai anak 90-an, saya menyanyikan lagu itu tanpa sepenuhnya mengerti maknanya. Kini saya sadar, refrain itu bekerja seperti zikir Wake Up The Hero, taiyo yo, ai ni yuuki o ataetekure. [Beri cinta keberanian. Tubuh yang terluka membutuhkan cinta agar tidak berubah menjadi kekerasan.]
Dan mungkin, itulah sebabnya Kamen Rider tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan saya. Ia hidup sebagai mitologi tubuh bahwa menjadi manusia berarti hidup dalam raga yang rapuh, disakiti, kehilangan, tetapi tetap memilih untuk bangun [wake up] dan berjalan.
Pada titik tertentu, saya memahami bahwa penderitaan dalam Kamen Rider adalah laku sunyi, mirip jalan para pejalan batin. Kotaro Minami tidak memilih luka, tetapi ia tidak menolaknya. Ia menerima tubuhnya sebagai amanah yang berat. Dalam kacamata sufistik, penderitaan bukan hukuman, melainkan maqam awal, yaitu tempat ego mulai retak agar kesadaran bisa masuk.
Kehilangan Nobuhiko adalah hijab yang tersibak dengan cara paling menyakitkan. Duka tidak menyelesaikan apa pun, tetapi ia menyingkapkannya. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak selalu berujung kebersamaan, dan bahwa tubuh yang bertahan harus belajar hidup dengan absensi. Dalam sunyi itu, penderitaan berubah menjadi pengetahuan yang tidak diajarkan oleh kemenangan.
Maka, seperti lagu yang terus memanggil Wake Up, penderitaan adalah panggilan untuk sadar. Tubuh yang terluka bukan akhir, melainkan jalan pulang yang ganjil, yakni jalan penyingkapan, ketika manusia bertemu dirinya sendiri tanpa topeng. Dan di sanalah, dalam sunyi yang panjang, kepahlawanan tidak lagi berteriak, tetapi diam dan menyala.
Bandung, 29 Januari 2026













Tinggalkan Balasan