Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Transformasi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Digital: Catatan dari 5th LEICon 2025

[Sumber gambar: Panitia LEICon 2025]

Penulis: Heri Isnaini

Pada era ketika teknologi digital bergerak lebih cepat daripada langkah manusia, pendidikan bahasa dan sastra dituntut untuk tidak hanya mengikuti arus, tetapi juga memahami arah perubahan itu sendiri. Dalam konteks inilah 5th Language Education International Conference (LEICon) 2025 yang digelar IKIP Siliwangi pada 19 November 2025 hadir sebagai ruang pertemuan gagasan dari berbagai penjuru dunia. Dengan mengangkat tema โ€œTransformation of Language and Literature in the Digital Era: Integration of Technology and Education Towards Era 5.0,โ€ konferensi ini memadukan refleksi akademik, inovasi teknologi, dan kesadaran budaya menjadi satu lanskap pemikiran yang kaya. Sejak pagi, para peserta dari Indonesia, Jepang, Singapura, hingga Australia berkumpul dengan membawa antusiasme yang sama: memperbincangkan masa depan bahasa dan sastra dalam kehidupan digital manusia.

Acara dibuka oleh sambutan Rektor IKIP Siliwangi, Prof. Dr. Euis Eti Rohaeti, M.Pd., yang menekankan pentingnya pendidikan bahasa yang adaptif dan visioner. Beliau mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan arah, sebab pendidikan bahasa dan sastra memiliki tanggung jawab membentuk pribadi yang komunikatif, kritis, dan beretika.

Setelah itu, Dr. Teti Sobari, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Bahasa, menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga jati diri linguistik bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi. Ia menegaskan bahwa modernisasi tidak boleh menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai budaya yang melekat dalam bahasa. Sementara itu, Diena San Fauziya, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dengan nada optimistis mengajak seluruh peserta melihat kreativitas sebagai inti dari pembelajaran bahasa. Baginya, teknologi adalah sayap yang memperluas kemungkinan, tetapi kreativitas adalah jantung yang membuat pembelajaran tetap hidup dan bermakna.

Sambutan yang tidak kalah penting datang dari Ketua Panitia LEICon 5, Yeni Rostikawati, M.Pd., yang menggarisbawahi bahwa konferensi besar ini merupakan hasil kerja kolektif dari banyak pihak. Ia menuturkan bagaimana persiapan panjang dilakukan agar LEICon menjadi ruang ilmiah yang berkualitas dan inklusif, tempat setiap peserta dapat bertukar gagasan dan membangun jejaring akademik. Yeni berharap bahwa LEICon bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga wadah tumbuhnya komunitas ilmiah yang berkomitmen memajukan pendidikan bahasa dan sastra di era digital.

Atmosfer intelektual konferensi semakin terasa ketika para pembicara dari berbagai negara mulai mempresentasikan materi mereka. Prof. Suyoto, Ph.D. dari Kanda University, Jepang, Vahid Aryadoust, Ph.D. dari Nanyang Technological University, Singapura, dan Dr. Zamzami Zainuddin dari Flinders University, Australia, membawa wawasan baru tentang big data, kecerdasan buatan, dan deep learning dalam memahami proses pembelajaran bahasa. Kehadiran mereka membuka cakrawala baru bahwa penelitian linguistik kini tidak hanya bertumpu pada teks, tetapi juga pada data besar yang mencerminkan perilaku manusia dalam ruang digital. Sementara itu, pembicara dari Indonesia, Dr. Ika Mustika, M.Pd. dari IKIP Siliwangi dan Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia menyempurnakan seminar internasional tahun ini.

[Prof. Suyoto, Ph.D, dari Kanda University, Jepang]

[Dr. Zamzami Zainuddin dari Flinders University, Australia]

[Vahid Aryadoust, Ph.D. dari Nanyang Technological University, Singapura]

[Dr. Ika Mustika, M.Pd. dari IKIP Siliwangi, Indonesia]

[Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia]

Di sepanjang acara, para peserta terlibat dalam dialog intens tentang masa depan literasi, peran media sosial dalam membentuk bahasa kontemporer, hingga peluang dan tantangan AI dalam pendidikan. Diskusi-diskusi ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan bahasa sedang berada pada fase transformasi besar. Alih-alih melihat teknologi sebagai ancaman, konferensi ini justru menampilkan optimisme bahwa teknologi dapat menjadi mitra strategis bagi guru, peneliti, dan pembelajar bahasa. Selain itu, nilai penting konferensi semakin terasa dengan adanya peluang publikasi artikel terpilih di jurnal terindeks Sinta 2 dan prosiding bereputasi, yang memberikan motivasi tambahan bagi para peneliti untuk terus berkarya.

Pada akhirnya, LEICon 2025 menjadi bukti bahwa bahasa dan sastra bukanlah warisan yang statis, tetapi organisme hidup yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Konferensi ini menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi, mengingatkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, bahasa dan sastra tetap menjadi ruang bagi manusia untuk memahami diri dan dunia. Gagasan-gagasan yang ditanam selama konferensi akan terus tumbuh baik di ruang kelas, ruang penelitian, maupun ruang digital yang menuntun kita menuju masa depan pendidikan yang lebih cerdas, kreatif, dan manusiawi.

Cimahi, 19 November 2025


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *