
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Indra Permana
Aku berjalan di jalan yang pernah kukenal,
belokan lama, rumah-rumah yang masih sama,
tetapi langkahku kini bukan langkah yang dulu.
Dulu aku datang dengan keyakinan muda,
bekal tipis yang kusangka cukup,
dan keberanian yang lebih cepat
daripada kebijaksanaan.
Banyak fase kulewati dengan jalan pintas,
seperti pelajar yang ingin cepat sampai
tanpa benar-benar memahami pelajaran.
Waktu kemudian mengajar dengan caranya sendiri.
Pelan, tetapi tegas.
Membuka halaman demi halaman
yang dulu tak sempat kubaca.
Kini aku menjemput masa depan
dalam tawa anak-anak di kursi belakang,
sementara kaca spion menyimpan
bayang-bayang masa lalu.
Aku tak lagi memaki perjalanan itu,
sebab dari luka-luka kecilnya
aku belajar tentang sabar,
tentang tanggung jawab,
tentang menjadi manusia yang lebih tenang.
Mungkin inilah makna tazkiyah—
bukan menghapus masa lalu,
tetapi memurnikannya dalam ingatan,
hingga ia berubah dari penyesalan
menjadi pelajaran.
Dan jika suatu hari Allah mempertemukanku
dengan hati yang lain yang juga ditempa waktu,
semoga aku datang bukan sebagai lelaki yang sama,
tetapi sebagai jiwa
yang telah dibersihkan oleh perjalanan.












Tinggalkan Balasan