Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Takut Tertinggal

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Ada satu ketakutan yang jarang diucapkan dengan suara keras, tetapi sering berdengung di kepala, yaitu “takut tertinggal”. Bukan tertinggal bus atau kereta, melainkan tertinggal oleh usia, oleh teman sebaya, oleh hidup yang tampaknya bergerak lebih cepat dari kemampuan kita mengejarnya.

Kita hidup di zaman perbandingan. Setiap hari, layar kecil di genggaman tangan menyuguhkan potongan hidup orang lain, seperti karier yang menanjak, hubungan yang tampak mapan, pencapaian yang diberi label “inspiratif”. Di tengah arus itu, kita sering lupa bahwa yang kita lihat hanyalah fragmen dan potongan saja bukan keseluruhan cerita. Namun ketakutan telanjur tumbuh, hingga muncul pertanyaan yang gamang bagaimana jika aku terlambat? Bagaimana jika aku tidak jadi apa-apa?

Ketakutan itu tidak selalu datang sebagai kepanikan. Kadang ia hadir dalam bentuk kelelahan yang sulit dijelaskan, dalam kebiasaan menunda, dalam senyum tipis ketika ditanya, “Sekarang lagi sibuk apa?” Kita menjawab seperlunya, sambil menyembunyikan kegamangan yang belum selesai.

Takut tidak jadi apa-apa sesungguhnya adalah ketakutan eksistensial. Ia bukan sekadar soal pekerjaan, gelar, atau pengakuan sosial, melainkan soal makna, seperti pertanyaan apakah hidupku sah? Apakah keberadaanku cukup? Pertanyaan-pertanyaan ini jarang menemukan jawaban cepat, apalagi di dunia yang menyukai kecepatan dan hasil instan.

Yang sering luput kita sadari, hidup tidak bergerak dalam satu garis lomba yang sama. Setiap orang berjalan dengan waktu batinnya sendiri. Ada yang tampak tiba lebih awal, ada yang seperti tertinggal, padahal sedang mengambil jalan memutar yang kelak membuatnya lebih mengenal dirinya sendiri. Sayangnya, dunia jarang memberi ruang untuk jeda. Kita didorong untuk terus “menjadi”, tanpa sempat bertanya menjadi apa, dan untuk siapa?

Ketakutan akan tertinggal sering membuat kita lupa menikmati proses. Kita sibuk mengejar definisi sukses yang diwariskan dan bukan dipilih. Kita ingin cepat sampai, tetapi tidak sempat memahami mengapa kita berangkat. Akibatnya, banyak yang tiba di tujuan, tetapi merasa asing dengan dirinya sendiri.

Barangkali yang perlu kita curigai bukan keterlambatan, melainkan standar yang terlalu seragam. Tidak semua orang harus berlari. Ada yang perlu berjalan pelan, ada yang perlu berhenti sejenak, ada pula yang perlu tersesat agar tahu arah pulang. Hidup tidak selalu menuntut kita menjadi sesuatu yang besar, terkadang ia hanya meminta kita menjadi jujur terhadap apa yang sedang kita alami.

Takut tidak jadi apa-apa juga bisa dibaca sebaliknya, mungkin kita sedang takut menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri berarti menerima ketidaksempurnaan, kegagalan, dan jalan yang tidak selalu dipahami orang lain. Itu tidak mudah, terutama di dunia yang gemar memberi label dan peringkat.

Pada akhirnya, tidak jadi apa-apa bukanlah kegagalan paling besar. Yang lebih menakutkan adalah hidup tanpa pernah sungguh-sungguh hadir dalam hidup itu sendiri. Terlalu sibuk mengejar bayangan, sampai lupa mendengarkan detak sendiri.

Jika hari ini kita merasa tertinggal, mungkin itu bukan tanda kita kalah. Bisa jadi itu tanda kita sedang belajar berjalan dengan ritme yang lebih jujur. Dan barangkali, di situlah hidup mulai menemukan maknanya bukan ketika kita sampai lebih dulu, tetapi ketika kita akhirnya mengerti mengapa kita memilih untuk tetap berjalan.

Bandung 6 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

6 tanggapan untuk “Takut Tertinggal”

  1. Avatar Ditya
    Ditya

    Tulisan tentang “takut tertinggal” sangat relevan dengan realita kehidupan generasi muda saat ini yang hidup di era media sosial. Artikel ini mengangkat perasaan FOMO yang sering dirasakan banyak orang, terutama remaja dan mahasiswa, ketika melihat kehidupan orang lain melalui layar digital. Penjelasan tentang fenomena ini membantu pembaca memahami bagaimana tekanan sosial bisa memengaruhi pikiran dan emosi kita sehari-hari. Gaya penulisan yang reflektif juga mendorong pembaca untuk merenungkan apakah mereka mengejar sesuatu karena kebutuhan pribadi atau hanya takut tertinggal dari orang lain. Secara keseluruhan, tulisan ini memberikan kesadaran penting tentang bagaimana kita dapat lebih bijak dalam menyikapi tren dan ekspektasi sosial.

  2. Avatar sc. ramadani
    sc. ramadani

    Tulisan “takut tertinggal” ini menurut saya memberi pengertian bahwa tak apa jika tertinggal karena bisa jadi ada hal hal baik yang akan ia dapatkan di langkah berikutnya. Dan ketakutan pada ketertinggalan bukan semata-mata karena hal lain melainkan jiwanya, dirinya sendiri. Bagi saya tulisan ini sangat penting karena mengajarkan kita untuk berdamai dengan waktu, dan diri kita sendiri. Dengan realita yang ada saat ini tulisan “takut tertinggal” akan memberikan dampak yang baik karena kita sendiri tau bahwa setiap kehidupan manusia yang satu dengan yang lainnya tak bisa di sama ratakan. Tuhan menciptakannya berbeda-beda.

  3. Avatar WINDY ROSMAWATI
    WINDY ROSMAWATI

    Tulisan ini mengenai takut tertinggal ,menurut saya tida ada yang tertinggal setiap manusia berjalan pada takdir nya masing -masing ,ada yang berjalan lebih cepat ada pula yang lebih lambat dalam mengapai sesuatu,kita tidak sedang berlomba kita sedang berusaha dengan apa yang kita inginkan, janganlah merasa kalah karna tidak ada yang sia-sia selama kita terus berusaha dan berdoa

  4. Avatar Nazwa Kailla
    Nazwa Kailla

    tiap orang punya ritme dan jalannya sendiri, jadi yang penting bukan seberapa cepat, tapi seberapa sadar kita menjalani pilihan hidup kita.

  5. Avatar Eni Anjani
    Eni Anjani

    Tulisan ini relate dengan apa yang kita rasakan sekarang yang dikit-dikit merasa ‘ketinggalan’ hanya karena melihat sepenggal cerita orang lain di media sosial. Penulis berhasil menangkap kegelisahan jiwa manusia modern di tengah riuhnya arus zaman. Dan lebih seru lagi apabila dibahas juga tentang bagaimana algoritma media sosial itu bisa membuat kita ngerasa ‘kurang’. Lalu membahas bagaimana cara untuk pelan-pelan bisa berdamai dengan ketertinggalan itu.

  6. Avatar Adinda lirih giantina

    “Takut tertinggal” Ini yang sekarang sedang saya rasakan benar-benar sangat relevan dan menyentuh banget untuk kalangan remaja bukan hanya saya saja, Tetapi dari pengalaman ini membuat saya yakin bahwa ketakutan tertinggal akan bisa di atasi selagi kita ada kemauan untuk menjadi orang tidak selalu memikirkan akan adanya hal tersebut. Semua akan berubah jika kita mau melangkah keluar dari zona Takut tertinggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *