Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Syaikhul Muhadditsin Muhammad Bin Isma’il Al-Bukhari

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Salwa Khairunnisa

Al-bukhari adalah seorang periwayat hadits yang masyhur namanya. Banyak hadits-hadits dari sahabat nabi yang telah beliau riwayatkan, namun tahukah kalian Al-bukhari itu bukanlah nama aslinya, melainkan nama panggilannya, lantas siapakah nama aslinya?

Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhari. Beliaulah yang kerap disebut imam Al-Bukhari. Beliau dipanggil Al-Bukhari karena nisbatnya kepada tempat kelahirannya, yaitu kota Bukhara.

Ayahnya bernama Isma’il bin Ibrahim, dan kunyahnya adalah abu Al-Hasan. Beliau juga seorang pemuka ahli hadits juga. Beliau wafat Ketika imam Bukhari masih kecil. Ibunya adalah seorang Wanita ahli ibadah, memiliki banyak kemuliaan.

Adapun ciri fisiknya:

Al-Khatib meriwayatkan dalam Tarikh Baghdad, bahwa Al-Hasan Al-Bazzar di Bukhara mengatakan: “aku melihat Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim sebagai seorang syaikh yang bertubuh kurus, tidak tinggi dan tidak pula pendek.”

Imam Al-Bukhari dilahirkan di Bukhara, kota terkenal di Khurasan dan ini adalah kota kuno yang menawan, salah satu kota yang terletak di Transoxiana. Dahulu daerah ini adalah ibu kota Samaniyin sebelum penaklukan oleh islam. Para ahli Sejarah sepakat yang menaklukkannya adalah kaum muslimin pada bBani umayyah.

Al-Hafizh mengatakan, beliau lahir pada hari jum’at setelah sholat Jum’at, 13 malam yang terlewat dari bulan Syawwal 194 H, di Bukhara.

Tidak diragukan lagi bahwa bagusnya asal keturunan al-Bukhari dan kemurnian sumbernya, sesudah taufik Allah, pemeliharaan dan penjagaanNya adalah sebab terbesar kesegeraan Al-Bukhari dalam menuntut ilmu. Sebab ayahnya adalah seorang pemuka hadits dan ibunya adalah seorang Wanita ahli ibadah.

Perjalanan imam bukhari mencari hadits sangat luas dan penuh pengorbanan, menjelajahi pusat-pusat peradaban islam seperti Hijaz, Syam, Irak, Mesir hingga Persia dan Asia Tengah, menempuh ribuan kilometer untuk bertemu dan belajar dengan lebih dari seribu guru, menghafalkan ratusan ribu hadits, dengan ketekunan ekstrem seperti pernah menjual bajunya demi ilmu, yang akhirnya melahirkan kitab Shahih Bukhari.

Ketekunan dan pengorbanan Al-Bukhari:

Beliau memiliki daya ingat yang sangat kuat, ia mampu menghafalkan ratusan ribu hadits dengan sanadnya, menguji daya ingatnya di Basrah dengan 10 ulama yang membolak-balik sanad dan matannya.

Ia memiliki dedikasi yang tinggi Ketika hendak memasukkan hadits pada kitab Shahih Bukhari, ia tidak memasukkan satu hadits pun ke dalam bukunya sebelum salat istikharah dan memastikan keasliannya.

Dari Muhammad bin Abu Hatim, dia mengatakan, aku mendengar Sulaim (Ibnu Mujahid) mengatakan, “Aku tidak pernah melihat dengan mataku sejak 60 tahun ada orang yang lebih faqih, lebih wara’, dan lebih zuhud di dunia daripada Muhammad bin Isma’il”.

Sebagaimana al-Bukhari dikaruniai penguasaan yang besar dalam hafalan. Beliau juga dikaruniai kecintaan dan penerimaan di hati manusia. Orang-orang setelah mendengar sifat-sifat yang luar biasa yang diberikan Allah kepada imam yang mulia ini, maka mereka ingin melihatnya. Apabila beliau singgah di suatu tempat, mereka berkumpul di sekitarnya, sehingga nyaris tiada tempat untuk telapak kaki.

Beberapa karya tulis imam Al-Bukhari :

  1. Al-Jami’ ash-Shahih
  2. At-Tarikh al-Kabir
  3. At-Tarikh al-Ausath
  4. At-Tarikh ash-Shaghir
  5. Khalq Af’al al-‘Ibad

Imam Bukhari wafat pada malam hari raya Idul Fitri, 1 Syawwal 256 H. di Khartank , sebuah desa kecil dekat Samarkand (sekarang Uzbekistan) pada usia sekitar 62 tahun, setelah jatuh sakit saat berkunjung ke keluarganya. Dan beliau dimakamkan setelah salat zuhur di hari Idul Fitri dan di makamkan di Samarkand.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *