Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Sunyi Itu Tak Lagi Menunggu

[Sumber gambar: pixabay.com]

Penulis: Indra Permana


Ia duduk di ruang tamu
menatap jam dinding yang berdetak
tanpa irama perasaan
Tak ada yang berubah
Jam itu masih bekerja
walaupun rumahnya sudah lama berhenti hidup

Dulu, setiap pagi ada suara yang menegur: “Sudah sarapan?”
Kini yang menemaninya hanya suara air dispenser
Hangatnya bukan lagi dari tangan seseorang
melainkan dari kenangan yang masih mencoba hidup

Ia tidak sedang marah. Tidak juga merasa kecewa. Hanya lelah saja
Lelah menunggu seseorang yang tak lagi berusaha untuk kembali
Lelah menjadi satu-satunya yang mencoba memperbaiki kapal:
yang bahkan penumpangnya sudah menyiapkan
sekoci dan pelampungnya masing-masing

Sudah dua tahun ia tahu, cinta di rumah ini mulai merapuh
Tapi baru belakangan ia sadar—
bukan waktunya yang menghapus cinta
melainkan diam yang tak lagi ingin disembuhkan

Ia pernah mencoba bicara
Tapi setiap kalimatnya terasa seperti batu yang dilempar
ke telaga beku—
tenggelam tanpa suara, tanpa riak

Dan di titik itu, ia berhenti
Bukan karena menyerah, tapi karena akhirnya harus paham:
beberapa hubungan tidak perlu diakhiri dengan pertengkaran
Cukup dengan diam yang sepakat untuk tidak lagi menunggu

Malam itu ia menulis catatan kecil di buku hariannya:

Aku sudah berhenti berharap bukan karena benci. Aku hanya tak ingin terus hidup di ruang yang tidak lagi menampung makna.”

Ia menatap lampu yang temaram
untuk pertama kalinya
dalam waktu yang lama
ia tidak merasa kehilangan
yang ia rasakan justru ketenangan semata

Tenang yang aneh, tapi penuh dengan kejujuran
karena ternyata, ada kebebasan dalam menerima
bahwa tidak semua yang kita rawat akan tetap hidup.


2025


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *