Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Stres Akademik

[Sumber gambar: https://www.pelajaran.co.id/]

Penulis: Siti Hajar Munfarijah

Stres akademik merupakan fenomena yang umum dialami oleh mahasiswa di berbagai jenjang pendidikan tinggi. Tuntutan akademik yang semakin kompleks, seperti beban tugas yang tinggi, tekanan pencapaian prestasi, persaingan akademik, keterbatasan waktu, serta ekspektasi dari diri sendiri maupun lingkungan, sering kali menjadi sumber stres yang signifikan. Dalam konteks perguruan tinggi, mahasiswa dihadapkan pada perubahan peran dan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan jenjang pendidikan sebelumnya. Mereka dituntut untuk mampu belajar secara mandiri, mengelola waktu secara efektif, serta beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial yang baru.

Apabila stres akademik tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental mahasiswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres akademik yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan gangguan psikologis, seperti kecemasan, depresi, burnout akademik, hingga penurunan motivasi dan prestasi belajar. Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi aspek yang sangat penting dalam membantu mahasiswa mengelola stres akademik secara adaptif.

Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga mencakup kemampuan individu dalam mengelola emosi, menghadapi tekanan, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mempertahankan keseimbangan antara tuntutan akademik dan kehidupan pribadi. Dalam konteks ini, kesehatan mental berperan sebagai fondasi utama yang memungkinkan mahasiswa untuk menggunakan strategi coping yang efektif dalam menghadapi stres akademik.

Stres akademik merupakan kondisi yang umum dialami oleh mahasiswa, dengan tingkat stres yang bervariasi dari sedang hingga tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya kajian yang lebih mendalam mengenai peran kesehatan mental dalam mengelola stres akademik, serta faktor-faktor pendukung seperti strategi coping dan dukungan sosial. Oleh karena itu, esai ilmiah ini bertujuan untuk membahas secara komprehensif peran kesehatan mental dalam mengelola stres akademik mahasiswa, dengan mengaitkan temuan penelitian, teori psikologi, serta implikasinya bagi lingkungan perguruan tinggi.

Gejala stres akademik yang dialami mahasiswa cukup beragam, mulai dari kelelahan mental, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, hingga penurunan motivasi belajar. Kelelahan mental sering kali muncul akibat aktivitas akademik yang padat tanpa diimbangi dengan waktu istirahat yang memadai. Sementara itu, kecemasan berlebihan dapat dipicu oleh kekhawatiran akan nilai, kelulusan, maupun masa depan akademik dan karier. Kesulitan konsentrasi dan penurunan motivasi belajar menjadi indikator bahwa stres akademik telah memengaruhi fungsi kognitif dan emosional mahasiswa.

Stres akademik pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dalam kadar tertentu, stres dapat berfungsi sebagai pendorong motivasi yang membantu mahasiswa untuk lebih fokus, disiplin, dan berusaha mencapai target akademik. Namun, ketika stres berlangsung dalam intensitas tinggi dan jangka waktu yang panjang tanpa pengelolaan yang efektif, stres tersebut dapat berubah menjadi distress yang merugikan kesehatan mental dan kesejahteraan mahasiswa.

Mahasiswa yang memiliki kesadaran dan kondisi kesehatan mental yang baik cenderung lebih mampu mengenali sumber stres yang mereka hadapi. Kesadaran ini memungkinkan mahasiswa untuk memahami faktor-faktor apa saja yang memicu stres akademik, baik yang berasal dari tuntutan eksternal maupun dari tekanan internal seperti perfeksionisme dan ekspektasi diri yang tinggi.

Selain itu, kesehatan mental yang baik membantu mahasiswa dalam mengelola emosi secara lebih adaptif. Mahasiswa dengan regulasi emosi yang baik cenderung tidak mudah terjebak dalam perasaan cemas, frustrasi, atau putus asa ketika menghadapi kesulitan akademik. Sebaliknya, mereka mampu mengekspresikan emosi secara sehat dan mencari solusi yang konstruktif terhadap permasalahan yang dihadapi.

Mahasiswa dengan kesehatan mental yang baik juga lebih mampu menggunakan strategi coping yang sehat dan efektif. Strategi coping tersebut meliputi manajemen waktu yang lebih terstruktur, penggunaan teknik relaksasi untuk mengurangi ketegangan, berpikir positif dalam memandang tantangan akademik, serta mencari dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Temuan ini sejalan dengan teori coping dari Lazarus dan Folkman yang menyatakan bahwa stres dapat berkurang ketika individu mampu menggunakan strategi coping yang efektif dan sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Strategi coping merupakan upaya kognitif dan perilaku yang dilakukan individu untuk mengelola tuntutan internal maupun eksternal yang dianggap melebihi kapasitas dirinya. Dalam konteks stres akademik, strategi coping menjadi faktor kunci yang menentukan apakah stres tersebut akan berdampak positif atau negatif terhadap mahasiswa.

Salah satu strategi yang paling umum digunakan adalah manajemen waktu. Mahasiswa yang mampu mengatur jadwal belajar, menyusun prioritas tugas, serta membagi waktu antara kegiatan akademik dan non-akademik menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah. Manajemen waktu yang efektif membantu mahasiswa mengurangi perasaan tertekan akibat tugas yang menumpuk dan tenggat waktu yang ketat.

Teknik relaksasi juga menjadi strategi coping yang penting dalam mengelola stres akademik. Teknik seperti pernapasan dalam, meditasi, atau aktivitas fisik ringan dapat membantu menurunkan ketegangan fisik dan mental. Dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lebih rileks, mahasiswa menjadi lebih siap dalam menghadapi tuntutan akademik.

Selain itu, berpikir positif dan reappraisal kognitif turut berperan dalam mengurangi stres akademik. Mahasiswa yang mampu memandang tantangan akademik sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang cenderung lebih tahan terhadap tekanan. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan, tetapi menjadikannya sebagai pengalaman pembelajaran yang berharga.

Dalam kadar tertentu, stres dapat berfungsi sebagai motivasi yang mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kinerja akademik. Stres yang moderat dapat meningkatkan kewaspadaan, fokus, dan dorongan untuk mencapai target akademik. Namun demikian, stres akademik yang tidak dikelola dengan baik dan berlangsung dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai risiko psikologis. Kecemasan berlebihan, burnout akademik, dan penurunan kepercayaan diri merupakan beberapa dampak negatif yang sering muncul. Burnout akademik ditandai dengan kelelahan emosional, sikap sinis terhadap kegiatan akademik, serta penurunan pencapaian akademik. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan akademik dan pribadi mahasiswa.

Penurunan kepercayaan diri juga menjadi konsekuensi serius dari stres akademik yang berkepanjangan. Mahasiswa yang terus-menerus merasa gagal atau tidak mampu memenuhi tuntutan akademik cenderung mengembangkan persepsi negatif terhadap diri sendiri. Hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dan menghambat kemampuan mahasiswa dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Selain kesehatan mental dan strategi coping individu, dukungan sosial merupakan faktor penting yang berkontribusi dalam mengelola stres akademik mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang merasa didukung secara emosional oleh lingkungan sekitarnya cenderung memiliki tingkat stres akademik yang lebih rendah dibandingkan mereka yang menghadapi tekanan akademik secara sendiri.

Dukungan sosial dapat berasal dari berbagai sumber, seperti keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan akademik. Dukungan ini dapat berupa perhatian emosional, motivasi, bantuan praktis, maupun kesempatan untuk berbagi pengalaman dan perasaan. Temuan ini mendukung teori stress-buffering model yang menyatakan bahwa dukungan sosial dapat melindungi individu dari dampak negatif stres dengan cara mengurangi persepsi terhadap tekanan dan meningkatkan kemampuan coping.

Mahasiswa yang merasa diperhatikan, dipahami, dan dimotivasi oleh keluarga menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah. Dukungan keluarga memberikan rasa aman dan keyakinan bahwa mahasiswa tidak menghadapi tantangan akademik seorang diri. Selain keluarga, dukungan teman sebaya juga memiliki peran yang signifikan. Kehadiran teman untuk berbagi pengalaman akademik, memberikan nasihat, atau sekadar menemani belajar dapat mengurangi perasaan tertekan dan kesepian. Interaksi sosial yang positif membantu mahasiswa merasa lebih diterima dan dipahami, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Meskipun sebagian besar mahasiswa memahami pentingnya kesehatan mental, hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat mahasiswa yang belum mampu mengelola stres akademik dengan baik. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pemahaman dan penerapan strategi pengelolaan stres dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang lebih terstruktur di lingkungan perguruan tinggi. Layanan konseling menjadi salah satu bentuk intervensi yang penting untuk membantu mahasiswa mengatasi permasalahan akademik dan psikologis. Melalui konseling, mahasiswa dapat memperoleh dukungan profesional dalam mengenali sumber stres, mengembangkan strategi coping


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *