
[Sumber gambar: https://pph.atmajaya.ac.id/]
Penulis: Hanna Berliana
Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun. Perkembangan masa remaja ditandai oleh perubahan signifikan, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Perubahan tersebut terjadi secara cepat dan sering kali menimbulkan kebingungan bagi remaja dalam memahami dirinya sendiri. Salah satu perubahan paling signifikan dalam fase ini adalah perubahan biologis yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Pada fase ini remaja mengalami pubertas, yaitu periode ketika terjadi perkembangan biologis yang mencakup perubahan seks primer dan sekunder. Selama masa pubertas, remaja dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk masalah kesehatan mental, kecemasan, stres, penyalahgunaan zat, serta persoalan seksualitas. Perubahan tersebut menuntut adanya pemahaman yang memadai mengenai kesehatan reproduksi agar remaja mampu menjaga diri dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Namun, pada kenyataannya, pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi masih tergolong rendah.
Rendahnya pemahaman kesehatan reproduksi pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Banyak remaja yang tidak memperoleh informasi yang memadai, akurat, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka. Keterbatasan akses terhadap sumber informasi yang benar, budaya yang masih menganggap pembahasan kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu. Selain itu, kurangnya komunikasi terbuka antara guru dan siswa menyebabkan remaja enggan bertanya atau mendiskusikan permasalahan yang mereka alami. Akibatnya, remaja sering kali mencari informasi dari sumber yang tidak valid, seperti teman sebaya atau media sosial, yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan perilaku berisiko.
Kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi dapat berdampak serius pada kehidupan remaja. Minimnya pemahaman ini dapat menimbulkan kebingungan dan dapat meningkatkan risiko perilaku menyimpang, seperti risiko kehamilan yang tidak dikehendaki, pergaulan bebas, hubungan seksual pranikah, infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS, serta kekerasan seksual di kalangan remaja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi tertinggi kasus infeksi menular seksual. Di Indonesia, data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga menunjukkan masih banyak remaja yang pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Kondisi ini menegaskan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang sistematis dan berkelanjutan.
Layanan informasi mengenai kesehatan reproduksi dipandang sebagai kebutuhan yang sangat krusial bagi siswa SMA. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi. Meskipun materi kesehatan reproduksi kadang diajarkan dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), kenyataannya pemahaman remaja masih belum merata dan sering kali dangkal. Pendidikan kesehatan reproduksi tidak hanya menekankan aspek biologis, tetapi juga mencakup pengetahuan mengenai hubungan interpersonal, nilai moral, serta tanggung jawab sosial.
Edukasi yang tepat akan membantu siswa memperoleh pemahaman ilmiah mengenai pubertas, organ reproduksi, kebersihan diri, relasi yang sehat, serta upaya perlindungan diri dari kekerasan dan risiko seksual. Pengetahuan tersebut berperan penting dalam membentuk sikap positif remaja terhadap tubuhnya sendiri, membantu mereka menetapkan batasan dalam pergaulan, serta meningkatkan kesiapan dalam menghadapi situasi-situasi sensitif yang mungkin muncul dalam kehidupan sosialnya.
Kondisi ini menunjukkan perlunya peran aktif lembaga sekolah, khususnya guru BK dalam memberikan edukasi yang sistematis dan kontekstual terkait kesehatan reproduksi. Secara khusus, guru BK memiliki potensi besar untuk peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi dikalangan siswa. Guru BK berada pada posisi yang dekat dengan siswa, tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pembimbing dan pendamping dalam proses perkembangan pribadi siswa. Hubungan yang lebih personal dan komunikatif antara guru BK dan siswa memungkinkan terjalinnya interaksi yang lebih terbuka, termasuk dalam membahas topik-topik sensitif seperti kesehatan reproduksi.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan guru BK di SMA Albidayah Batujajar, diperoleh informasi bahwa ada beberapa strategi utama yang digunakan guru BK dalam meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi siswa. Strategi pertama adalah layanan preventif dengan melakukan kolaborasi dan kerjasama dengan pihak luar. Layanan preventif berguna untuk mencegah munculnya perilaku berbahaya, sekaligus memberdayakan remaja agar memahami batasan serta hak atas tubuhnya sendiri. Dalam kegiatan ini, tenaga kesehatan dihadirkan untuk memberikan penjelasan kepada siswa mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi, seperti pubertas, kebersihan organ reproduksi, serta pentingnya menjaga kesehatan diri.
Pemberian layanan informasi kesehatan reproduksi biasanya dilakukan setahun sekali dalam bentuk kelas besar yang melibatkan seluruh siswa, dengan menghadirkan tenaga kesehatan dari puskesmas. Selain itu, pihak puskesmas tidak hanya memberikan penyuluhan tetapi juga membagikan obat penambah darah sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan fisik siswa, khususnya remaja putri. Namun, pelaksanaan layanan informasi ini masih dilakukan dengan frekuensi yang terbatas, yaitu hanya satu kali dalam setahun. Kondisi ini menjadi catatan penting karena edukasi kesehatan reproduksi seharusnya dilakukan secara berkesinambungan agar pemahaman siswa tidak bersifat sesaat. Informasi yang diberikan secara rutin dan berulang akan lebih efektif dalam membentuk sikap dan perilaku yang positif.
Strategi kedua yang dilakukan guru BK di SMA Albidayah adalah layanan konseling individu. Layanan konseling individual berfungsi sebagai upaya kuratif bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Layanan ini dinilai efektif karena memungkinkan siswa untuk bertanya dan bercerita secara terbuka tanpa merasa takut atau malu. Berdasarkan hasil wawancara, guru BK di SMA Albidayah merespons secara terbuka setiap siswa yang datang mengeluhkan permasalahan terkait kesehatan reproduksi dan memberikan konseling individual bagi siswa yang dinilai memerlukan pendampingan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru BK tidak hanya terbatas pada pemberian edukasi, tetapi juga sebagai tempat konsultasi dan pendampingan personal bagi peserta didik dalam menghadapi persoalan yang bersifat sensitif. Guru BK dapat membantu siswa mengembangkan kesadaran diri, meningkatkan kontrol diri, serta mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab terkait kesehatan reproduksi.
Strategi ketiga adalah dukungan sistem melalui kerja sama dengan pihak lain, seperti guru mata pelajaran. Guru BK berupaya menjalin kolaborasi dengan pihak sekolah untuk menyelaraskan program pendidikan kesehatan reproduksi. Di SMA Albidayah, pemahaman siswa mengenai kesehatan reproduksi juga diperkuat melalui mata pelajaran fiqih yang ada di sekolah, sehingga siswa memperoleh sudut pandang kesehatan reproduksi baik dari aspek kesehatan maupun nilai keagamaan.
Secara keseluruhan, strategi guru BK dalam meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi remaja di SMA Albidayah mencakup dua pendekatan utama, yaitu pendekatan preventif melalui layanan informasi dan pendekatan kuratif melalui konseling individual. Selain itu, dukungan sistem melalui kerja sama dengan pihak puskesmas dan mata pelajaran lain seperti fiqih, turut memperkuat upaya edukasi yang dilakukan di sekolah. Integrasi nilai-nilai agama dalam pembelajaran fiqih juga membantu siswa memahami kesehatan reproduksi dari perspektif moral dan etika, sehingga pemahaman yang terbentuk menjadi lebih holistik.
Meskipun strategi tersebut telah berjalan, masih diperlukan penguatan program yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Frekuensi layanan yang terbatas menjadi tantangan utama dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa secara optimal, maka diperlukan pendampingan secara berkala. Dengan adanya pendampingan yang konsisten dan kolaborasi lintas pihak yang kuat, diharapkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkat secara signifikan. Remaja yang memiliki pengetahuan dan kesadaran yang baik akan lebih mampu menjaga diri, menghargai tubuhnya, serta menghindari perilaku berisiko.












Tinggalkan Balasan