Karya Tan Teng Kie

[Sumber gambar: AI]
Cuplikan beberapa bait Syair Jalanan Kereta Api
Krèta api boeka djalanan Bekasi
Sama toewan tanah dengan permisi
Sekalian kandjeng toewan politie
Keker teroekoer kawatnja besi
Toewan keker membawa oekoeran
Pasang patok aken tanda’an
Memboewat djambatan poenja lantaran
Koetika itoe banjak koeli’an
Banjak poehoen di tebangin
Ongkos maskapij semoewa bajarin
Roema orang pada diboekain
Kepada djoeraganlah diserahin
Banjak kelanggar roema kampoengan
Toewan tanah Tan Kang Ie poenja bilangan
Eretannja beda banjak koerangan
Ada djambatan aken sebrangan
Maskapij bajarin orang kampoengnja
Apa jang soedah keroesakannja
Keloewar ongkos dengan sepatoetnja
Jang mana kena di oekoernja
Bagian tentang kerja para kuli
Kuli bekerdja sampe pagi
Tanah karang teroeroek lagi
Kuli menggoeroek sampe tinggi
Tiada pedoeli banjak roegi
Kuli kerdjain rawa itoe
Oeroek tanah pasir dan batoe
Ada jang mati koelinja satoe
Kelanggar salat si setan hantoe
Boeka djalan teroeroek sawa
Melanggar djoega rawa-rawa
Ongkos keloewar tiada kecewa
Pekerja’anja soesah dengan rewa
Bagian tentang keramaian masyarakat
Orang menonton rame sekali
Toea moeda ada jang toeli
Perempoean laki Djawa Bali
Ampir kartjis ta’ dapat beli
Ada jang naik sama toewan
Ada jang lihat dari kadoewan
Banjak jang heran sama poenja toewan
Besi berdjalan seperti hantoean
Bagian yang memuat bahasa Belanda
Di Klender leven eensgezind
De Halteehef, man, vrouw en kind
Door ieder die hen kent bemind
Zij leven zeg ik van den wind
Ertinja chefnja terlaloe bisa
Dengan istrinja soedah biasa
Makan ta’ makan atawa poewasa
Kerdjanja tetap senantiasa
Pengantar Syair Jalanan Kereta Api (1890) Karya Tan Teng Kie
Pada akhir abad ke-19, Hindia Belanda sedang bergerak menuju sebuah zaman yang oleh banyak orang disebut sebagai masa modernisasi. Rel-rel besi mulai menembus sawah, rawa, dan kampung-kampung yang sebelumnya hanya mengenal jalan tanah dan aliran sungai. Kereta api menjadi lambang perubahan itu: sebuah mesin yang bergerak di atas rel, membawa orang, barang, dan sekaligus gagasan tentang dunia yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Dalam konteks perubahan inilah Sja’ir Djalanan Kreta Api (1890) hadir sebagai salah satu teks sastra yang unik dalam khazanah sastra Melayu abad ke-19.
Syair ini tidak sekadar menjadi karya puitik dalam pengertian estetika, melainkan juga semacam catatan sosial tentang sebuah peristiwa sejarah: pembangunan jalur kereta api di wilayah Batavia menuju daerah timur, terutama Bekasi dan Karawang. Melalui bait-bait yang sederhana, pengarangnya menggambarkan bagaimana tanah diukur, pohon ditebang, jembatan didirikan, dan kampung-kampung harus menyesuaikan diri dengan hadirnya rel besi. Di dalamnya tersimpan suara zaman yang sedang berubah, yakni sebuah perjumpaan antara teknologi modern, kekuasaan kolonial, dan kehidupan masyarakat pribumi.
Yang menarik, syair ini tidak hanya menampilkan kegairahan atas kemajuan teknologi. Di sela-sela baitnya muncul pula gambaran tentang para kuli yang bekerja keras dari pagi hingga malam, tentang tanah yang harus diuruk, rawa yang harus ditimbun, bahkan tentang korban jiwa yang jatuh dalam proses pembangunan. Dengan cara yang sederhana namun tajam, syair ini memperlihatkan bahwa modernisasi tidak selalu datang dengan kemudahan, melainkan juga dengan penderitaan manusia yang jarang dicatat dalam laporan resmi pemerintah kolonial.
Selain itu, syair ini juga menghadirkan suasana sosial yang beragam: keramaian masyarakat yang datang menonton kereta api, kekaguman orang-orang yang belum pernah melihat “besi berjalan”, hingga penggunaan bahasa Belanda yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Perpaduan ini menunjukkan bagaimana masyarakat kolonial pada masa itu hidup dalam ruang budaya yang saling bersilangan—antara bahasa lokal, bahasa kolonial, dan pengalaman sehari-hari yang membentuk identitas baru.
Karena itulah, Sja’ir Djalanan Kreta Api dapat dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai dokumen budaya. Ia memperlihatkan bagaimana sastra pada masa itu mampu merekam perubahan sosial yang besar: perubahan lanskap, perubahan cara manusia bergerak, dan perubahan cara masyarakat memandang dunia di sekelilingnya. Dalam pengertian tertentu, syair ini adalah saksi awal dari lahirnya modernitas di tanah Hindia.
Biografi Singkat Pengarang
Tan Teng Kie adalah seorang penulis dari komunitas Tionghoa peranakan yang hidup pada akhir abad ke-19 di Batavia. Ia dikenal sebagai salah satu pengarang yang menulis karya sastra dalam bahasa Melayu, bahasa pergaulan yang pada masa itu menjadi medium komunikasi lintas etnis di wilayah Hindia Belanda.
Tidak banyak catatan biografis yang tersisa mengenai kehidupannya secara rinci. Namun melalui karya-karyanya, dapat diperkirakan bahwa Tan Teng Kie termasuk dalam kelompok intelektual peranakan yang terlibat dalam dunia penerbitan dan kebudayaan Melayu pada masa kolonial. Karya-karyanya diterbitkan oleh percetakan-percetakan di Batavia, salah satunya oleh penerbit Alex Regensburg pada tahun 1890.
Tan Teng Kie dikenal terutama melalui syair-syairnya yang merekam peristiwa sosial dan perkembangan zaman. Karyanya Sja’ir Djalanan Kreta Api merupakan salah satu contoh penting dari tradisi sastra Melayu-Tionghoa, yakni karya sastra yang ditulis oleh penulis peranakan Tionghoa dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai medium ekspresi. Tradisi ini memainkan peran penting dalam perkembangan sastra modern di Indonesia karena memperlihatkan bagaimana bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa publik yang digunakan oleh berbagai komunitas.
Melalui karya tersebut, Tan Teng Kie tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mencatat perubahan sosial yang sedang berlangsung di Hindia Belanda. Syairnya memperlihatkan kepekaan terhadap kehidupan masyarakat di sekitar proyek pembangunan kereta api mulai dari pekerja, penduduk kampung, hingga pejabat kolonial yang terlibat dalam proyek tersebut.
Dengan demikian, Tan Teng Kie dapat dipandang sebagai salah satu suara penting dalam khazanah sastra Melayu abad ke-19. Karyanya menunjukkan bahwa jauh sebelum munculnya sastra modern yang dikenal pada awal abad ke-20, sudah ada penulis-penulis yang menggunakan bahasa Melayu untuk merekam perubahan sosial, teknologi, dan budaya di wilayah Nusantara.
Bandung, 15 Maret 2026












Tinggalkan Balasan