
[Sumber gambar: https://www.pojoksatu.id]
Penulis: Rina Nuriyanti
Hari Senin pagi, di halaman SD Nusantara ramai oleh suara langkah kaki. Para siswa berbaris rapi untuk mengikuti upacara bendera. Udara sejuk, matahari baru saja naik, dan tiang bendera berdiri gagah di tengah lapangan.
“Anak-anak, mari kita ikuti upacara dengan tertib,” kata Pak Budi, guru kelas lima, sambil mengawasi murid-muridnya.
Di barisan tengah berdiri Adi, siswa kelas 5B. Ia suka sekali dengan upacara bendera. Setiap kali melihat bendera merah putih berkibar, hatinya bergetar. “Itu benderaku, simbol negeriku,” batinnya.
Namun, tidak semua anak berpikir begitu. Teman sebangkunya, Bayu, sering mengeluh.
“Duh, kenapa sih harus berdiri lama-lama di lapangan? Panas tahu!”
Adi tersenyum, “Bay, ini kan cara kita menghormati pahlawan. Tanpa mereka, kita nggak bisa sekolah dengan bebas seperti sekarang.”
Bayu mengangkat bahu, masih malas. Tapi Adi tetap semangat mengikuti upacara sampai selesai.
Setelah upacara, Bu Sari, guru PPKn, masuk ke kelas. Wajahnya ramah, tapi kali ini ia membawa pengumuman penting.
“Anak-anak, minggu depan sekolah kita akan mengadakan lomba bertema ‘Aku Cinta Indonesia, Aku Bela Negaraku.’ Kalian boleh membuat cerita, puisi, atau drama pendek tentang bela negara. Tugas ini dikerjakan berkelompok.”
Anak-anak bersorak gembira. Namun, sebagian bingung.
“Apa itu bela negara?” tanya Dina.
Bu Sari tersenyum, “Bela negara itu bukan hanya berperang, anak-anak. Kalian bisa bela negara dengan belajar rajin, menjaga lingkungan, disiplin, dan saling membantu. Semua hal kecil yang baik untuk bangsa juga termasuk bela negara.”
Adi langsung bersemangat. Ia ingin membuat sesuatu yang membanggakan. Tapi Bayu masih menggerutu, “Duh, tugas lagi, tugas lagi…”
Saat istirahat, Adi mengumpulkan teman-temannya: Dina, Riko, dan Bayu.
“Ayo kita bikin drama tentang bela negara. Judulnya… hmm… bagaimana kalau ‘Si Bintang Merah Putih’?” kata Adi penuh semangat.
“Bagus tuh!” seru Riko.
“Ceritanya tentang apa?” tanya Dina penasaran.
Adi menjawab, “Tentang anak-anak sekolah yang belajar rajin, menolong sesama, dan menjaga lingkungan. Itu semua kan bagian dari bela negara.”
Bayu menghela napas. “Tapi apa seru? Orang bela negara itu biasanya perang melawan penjajah.”
Adi tersenyum, “Kita memang bukan tentara, Bay. Tapi kalau kita disiplin dan cinta Indonesia, itu juga bela negara. Anak-anak SD bisa melakukannya.”
Akhirnya mereka sepakat. Mereka mulai menulis naskah drama sederhana. Dina menulis dialog, Riko menggambar poster latar panggung, Bayu meski malas akhirnya ikut menyiapkan kostum, dan Adi memimpin latihan.
Hari-hari latihan pun dimulai. Mereka berkumpul sepulang sekolah di kelas. Namun, Bayu sering tidak datang. Ia lebih suka main game di rumah.
“Bayu, kenapa kamu jarang ikut latihan?” tanya Adi suatu sore.
“Ah, Rak… eh, maksudku Adi, ngapain sih repot-repot. Cuma lomba kecil. Lagian aku lebih suka main bola,” jawab Bayu cuek.
Adi agak kecewa. Tapi ia tidak menyerah. Ia mengingat pesan Bu Sari,
“Bela negara butuh kesungguhan, walaupun kecil.”
Maka Adi tetap melanjutkan latihan bersama Dina dan Riko. Mereka membuat cerita tentang anak-anak sekolah yang menjaga bendera dari orang-orang yang suka merusak. Mereka juga memasukkan adegan piket kelas, menolong teman, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Suatu hari, Bu Sari datang melihat latihan. Ia tersenyum bangga. “Wah, kalian luar biasa! Kalau kalian kompak, pasti bisa memberi contoh baik untuk teman-teman lain.”
Bayu yang kebetulan lewat mendengar kata-kata Bu Sari. Dalam hatinya, ia merasa bersalah karena sering absen latihan.
Malam itu, Bayu duduk termenung di rumah. Ia ingat cerita kakeknya tentang masa perjuangan melawan penjajah.
“Kakek dulu ikut perang demi merah putih, Nak. Sekarang kalian cukup belajar sungguh-sungguh untuk membela negara.”
Bayu berpikir, “Kalau kakek saja berkorban, masa aku malas ikut lomba kecil saja?”
Besoknya, ia datang ke sekolah lebih awal. “Adi, maaf ya. Aku janji mulai sekarang ikut latihan.”
Adi tersenyum lega. “Bagus, Bay. Ayo kita kompak, biar drama kita sukses!”
Sejak itu, Bayu rajin ikut latihan. Ia bahkan menambahkan ide lucu agar drama mereka tidak membosankan. Teman-teman pun makin bersemangat.
Hari yang ditunggu pun tiba. Aula sekolah penuh dengan siswa dan guru. Setiap kelas tampil bergantian. Ada yang membacakan puisi, ada yang membuat poster, dan ada pula yang menampilkan lagu kebangsaan.
Ketika giliran Adi dan kelompoknya, mereka maju ke panggung dengan percaya diri. Drama “Si Bintang Merah Putih” dimulai.
Di panggung, mereka bercerita tentang sekelompok siswa yang awalnya malas belajar dan tidak peduli pada bendera. Namun, setelah memahami arti bela negara, mereka berubah menjadi anak-anak yang disiplin, rajin, dan peduli lingkungan.
Penonton tertawa saat melihat Bayu berakting jadi anak malas, lalu terharu saat ia berubah dan ikut menghormat bendera. Poster karya Riko dengan gambar merah putih berkibar juga membuat suasana semakin meriah.
Di akhir drama, Adi berkata lantang,
“Kita bukan tentara, tapi kita bisa membela negara dengan belajar, disiplin, dan peduli lingkungan. Kita semua adalah bintang merah putih!”
Seluruh aula bergemuruh tepuk tangan.
Beberapa hari kemudian, pengumuman pemenang lomba dibacakan. Kelompok Adi meraih Juara Pertama. Mereka melonjak gembira.
“Terima kasih, teman-teman. Kita menang karena kita kompak,” kata Adi.
Bayu merasa bangga. Ia sadar bahwa semangat bela negara bisa dimulai dari hal kecil.
“Adi, kamu benar. Aku dulu malas banget. Tapi sekarang aku ngerti, bela negara itu penting, bahkan untuk anak SD,” ucap Bayu.
Bu Sari pun memberi pesan kepada seluruh siswa,
“Anak-anak, jangan lupa. Bela negara itu bisa kalian lakukan setiap hari: belajar rajin, taat aturan, menjaga kebersihan, menolong teman, dan mencintai Indonesia. Kalian adalah generasi penerus bangsa.”
Adi menatap bendera merah putih yang berkibar di halaman sekolah. Hatinya berbunga-bunga. “Aku bangga jadi anak Indonesia. Aku siap menjadi bintang merah putih.”













Tinggalkan Balasan