
[Sumber gambar: https://thecolumnist.id/]
Penulis: Sri Nuraeni
Pagi itu, mentari belum sepenuhnya tegak, namun Masjid Al-Hikmah di kompleks SMA Nusantara sudah ramai. Setiap hari Jumat, seluruh siswa-siswi Muslim diwajibkan mengikuti pembiasaan salat Duha bersama sebelum pelajaran dimulai. Udara segar pegunungan yang masuk melalui jendela kelas 11 IPA 3 membawa senandung merdu ayat-ayat suci yang dibacakan oleh imam salat, mengisi setiap sudut ruangan. Kekhusyukan itu terasa, mengukir batas tipis antara ruang ibadah dan ruang belajar.
Di barisan paling depan kelas, duduklah Raja Simarmata. Rambutnya ikal dan tebal, matanya tajam namun ramah, memancarkan aura keturunan Batak yang kuat dan penuh semangat. Raja tidak ikut salat Duha, sebab ia seorang pemeluk agama Kristen Protestan. Pagi itu, ia sibuk menyiapkan buku-buku pelajaran, khususnya buku Kimia yang terkenal rumit. Di sebelahnya, ada Made Sudiarta, si tenang dari Bali yang beragama Hindu Dharma, sedang asyik membaca buku filsafat tebal. Di depannya lagi, Chen Lin yang memeluk agama Buddha, tengah serius merangkum materi sejarah yang panjang.
Mereka bertiga, beserta beberapa siswa lain yang tidak mengikuti salat Duha, tetap berada di kelas. Bukan karena mereka tidak peduli atau ingin membolos, justru karena mereka sangat menghargai prosesi ibadah teman-teman mereka. Kelas terasa senyap, hanya suara azan dan senandung doa dari masjid yang menjadi latar. Mereka tahu, ini adalah waktu sakral, momen bagi teman-teman Muslim mereka untuk menenangkan diri dan berbicara dengan Sang Pencipta. Mengganggu adalah tindakan yang jauh dari nilai-nilai persahabatan yang mereka junjung.
Raja melirik jam tangannya, pukul 07.15. Kira-kira sepuluh menit lagi salat akan selesai. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang pada pesan almarhum kakeknya, seorang tokoh adat di Samosir yang selalu menjunjung tinggi Dalihan Na Tolu. Kakeknya sering berkata, “Hargai rumah ibadah orang, Nak. Itu seperti menghargai hatinya. Hormatilah keyakinan mereka, maka mereka akan menghormati keyakinanmu.” Prinsip ini selalu ia pegang teguh, apalagi di sekolah multikultural seperti SMA Nusantara.
Tiba-tiba, suara Chen Lin memecah keheningan, meskipun hanya bisikan yang sangat pelan. “Ja, bukumu yang kemarin mana? Yang tentang musik tradisional itu? Aku lupa catat nama alat musik Batak yang mirip biola itu.”
Raja sontak menoleh, wajahnya sedikit cemas. Ia menunjuk ke arah masjid dengan dagunya. “Sstt… Nanti saja, Lin. Tunggu mereka selesai salat,” bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan udara. “Kita tunggu sebentar. Kalau suaramu terlalu keras, nanti mengganggu konsentrasi mereka.”
Made, yang tadi menunduk membaca, mengangkat wajahnya dan tersenyum maklum. “Betul, Lin. Ini momen khusyuk. Kita tunggu sebentar ya. Aku juga lagi coba fokus membaca, tapi kalau ada yang bersuara, pasti terganggu,” katanya sambil menutup bukunya. Made punya cara unik untuk mendukung keheningan: ia selalu membawa buku tebal yang bisa menyerap perhatian penuh, mencegahnya berbuat gaduh.
Chen Lin mengangguk cepat, wajahnya sedikit memerah karena merasa tidak enak. “Ah, maaf, aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan,” balasnya pelan, lalu kembali fokus pada rangkuman kimianya, kini benar-benar tanpa suara.
Keheningan kembali menyelimuti kelas. Raja melihat ke luar jendela. Beberapa siswa non-Muslim di kelas lain juga terlihat melakukan hal yang sama: duduk diam, menjaga ketenangan, atau melakukan aktivitas solo yang tidak mengganggu ibadah. Ini adalah toleransi yang sudah menjadi budaya tak tertulis di sekolah mereka, sebuah janji batin untuk saling menjaga ruang suci masing-masing.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi bel pendek yang menandakan salat Duha telah usai. Gerombolan siswa Muslim, termasuk Aisyah si ketua kelas yang periang dan Bagas si jagoan basket, mulai kembali ke kelas. Wajah mereka terlihat lebih tenang, memancarkan kedamaian setelah beribadah.
Begitu Aisyah masuk, matanya langsung tertuju pada Raja, Made, dan Chen Lin yang sudah duduk rapi, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Terima kasih banyak, ya, teman-teman. Maaf ya, kelas jadi hening begini tiap Jumat,” kata Aisyah tulus sambil meletakkan mukenanya ke dalam tas. Ia selalu merasa sedikit tidak enak karena harus meninggalkan teman-temannya di kelas.
Raja menggeleng sambil tersenyum lebar, senyum khas orang Batak yang terbuka dan jujur. “Ah, santai saja, Syah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Justru bagus, kami jadi lebih fokus belajar. Lagi pula, suara Duha itu merdu, Syah. Menyejukkan telinga, rasanya seperti mendengarkan lagu Batak yang lembut,” katanya sambil tertawa kecil.
Made menambahkan, matanya berbinar, “Iya. Kami justru senang melihat kalian begitu khusyuk. Itu mengingatkan kami untuk juga beribadah dengan sungguh-sungguh saat melakukan Tri Sandhya di pura.”
Bagas, yang kebetulan duduk di belakang Raja, menepuk bahu temannya itu. “Kau memang kawan terbaik, Raja! Tapi jangan salah, kawan. Kami tadi juga mendoakan semua teman-teman di kelas ini, kok. Semoga nilai Kimia kita bagus semua, terutama si Chen Lin itu yang sepertinya sudah pusing dengan molekul,” katanya sambil terkekeh, mencairkan suasana.
Semua tertawa. Suasana yang tadinya sunyi kini berubah menjadi hangat dan riuh.
“Nah, Lin, sekarang bukunya Raja sudah bisa kau pinjam, kan?” goda Made.
Chen Lin tertawa lepas, “Iya! Raja, pinjam sebentar ya, aku mau foto isinya. Alat musik Batak itu namanya apa, sih? Hasapi?”
“Hampir benar! Itu Sarune Bolon dan Gondang. Nanti kuceritakan. Tapi janji ya, kau jelaskan juga padaku bagaimana cara membuat diagram atom yang benar itu,” balas Raja, menyerahkan buku dengan tawa. Pertukaran buku dan ilmu pengetahuan ini adalah bagian dari toleransi kognitif mereka; saling mengisi kekurangan tanpa memandang latar belakang.
Keberagaman di kelas itu bukan hanya soal agama. Mereka punya Aisyah yang Jawa, Bagas yang Sunda, Raja yang Batak, Made yang Bali, dan Chen Lin yang berdarah Tionghoa. Semua latar belakang ini terjalin erat dalam simpul persahabatan yang kuat, diperkuat oleh saling pengertian.
Pernah suatu kali saat perayaan Nyepi, Aisyah dan Bagas dengan sukarela membuatkan Made bekal makan siang vegetarian, bahkan menawarinya tempat tenang di rumah mereka agar Made bisa menjalani puasa dan Catur Brata Penyepian dengan khusyuk. Begitu juga saat perayaan Natal, Raja membawa kue lapis legit buatan Namboru-nya (bibinya) untuk dinikmati bersama di kelas, dan Aisyah serta Bagas dengan ramah membantu menghias kelas dengan pernak-pernik Natal. Bagas, yang jago seni, bahkan membuat dekorasi bintang yang paling indah.
Ada pula momen saat Raja, sebagai seorang Batak, menceritakan tradisi Mangulosi (memberikan kain ulos) dalam upacara pernikahan. Chen Lin, yang penasaran, bertanya, “Apakah itu seperti angpao saat Imlek, Raja? Bentuknya seperti doa dan harapan baik?” Raja menjelaskan bahwa ulos adalah simbol kasih sayang dan doa restu, sementara angpao adalah simbol rezeki. Perbedaan tradisi itu justru membuka diskusi yang kaya dan membuat mereka semakin menghargai betapa indahnya Indonesia.
Mereka menyadari, toleransi bukanlah sekadar membiarkan orang lain beribadah tanpa mengganggu. Toleransi yang sejati adalah menjaga suasana agar orang lain bisa beribadah dengan nyaman dan khusyuk, seperti yang mereka lakukan setiap Jumat pagi. Toleransi adalah keterlibatan hati untuk saling mengerti, bahkan sedikit mengambil bagian dalam kebahagiaan teman melalui penghormatan.
Pagi itu, di tengah buku-buku yang terbuka, aroma parfum dan sisa aroma mukena, serta tawa renyah yang mengisi ruangan, mereka semua sadar bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru, perbedaan itu adalah kekayaan yang membuat cerita di kelas 11 IPA 3 menjadi lebih berwarna, sehangat senandung Duha yang mereka jaga bersama. Mereka telah membangun sebuah ruang aman, di mana setiap keyakinan memiliki hak untuk dihormati, dan setiap suku memiliki tempat untuk dibanggakan.
Guru Kimia pun masuk, membawa tumpukan buku dan senyum bangga. Ia tidak hanya mengajar tentang ikatan kovalen atau atom, tetapi juga mengajarkan arti hidup dan kebersamaan.
“Selamat pagi anak-anak! Semoga semangat Duha pagi ini membawa berkah untuk kita semua. Mari kita mulai belajar!”
Semua serentak menjawab, “Selamat pagi, Bu!” dengan suara lantang. Mereka siap menyambut pelajaran Kimia yang rumit, dengan hati yang penuh damai dan toleransi, karena mereka tahu, di kelas 11 IPA 3, mereka telah menemukan esensi sejati dari Bhinneka Tunggal Ika.












Tinggalkan Balasan