Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Sangkan Paraning Dumadi sebagai Filosofi Hidup dalam Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono

[Sumber gambar: Journal of Language, Literature, and Arts]

Penulis: Heri Isnaini

Kajian terhadap puisi-puisi Sapardi Djoko Damono selama ini umumnya menempatkannya dalam kerangka lirisisme, kesederhanaan bahasa, dan refleksi humanistik, sementara dimensi filsafat lokal sebagai basis pembentukan kesadaran eksistensial belum banyak dikaji secara mendalam. Artikel ini bertujuan mengungkap representasi konsep sangkan paraning dumadi sebagai filsafat kehidupan dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Konsep tersebut dipahami sebagai kesadaran ontologis manusia mengenai asal-usul dan tujuan akhir keberadaannya dalam relasi dengan Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis dengan metode analisis kualitatif deskriptif terhadap puisi-puisi Sapardi yang merepresentasikan tema kehidupan, waktu, kefanaan, dan kematian. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembacaan puisi Sapardi sebagai medium artikulasi filsafat hidup Jawa dalam konteks sastra Indonesia modern, bukan semata-mata sebagai ekspresi lirisis individual. Hasil kajian menunjukkan bahwa simbol-simbol puitik dalam puisi Sapardi membangun kesadaran spiritual yang subtil dan reflektif, sehingga puisinya berfungsi sebagai ruang kontemplasi eksistensial yang menjembatani spiritualitas lokal dan sensibilitas modern.

Teks lengkap dapat diunduh di sini.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

5 tanggapan untuk “Sangkan Paraning Dumadi sebagai Filosofi Hidup dalam Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono”

  1. Avatar zihan
    zihan

    Artikelnya seru dan Cara ngebahas Sangkan Paraning Dumadi di puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono terasa relate dan bikin kita mikir soal makna hidup dengan cara yang lebih dalam tapi tetap ringan.

  2. Avatar Melsa Nuraisyah_23210011
    Melsa Nuraisyah_23210011

    Menurut saya, tulisan ini menarik karena mampu mengangkat konsep sangkan paraning dumadi sebagai filosofi hidup yang dalam dan relevan. Saya jadi memahami bahwa kehidupan manusia tidak hanya tentang proses hidup, tetapi juga tentang asal dan tujuan akhir yang bersifat spiritual . Selain itu, pembahasannya membuat saya melihat puisi sebagai media refleksi kehidupan, bukan sekadar rangkaian kata. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan pemahaman yang lebih luas tentang makna hidup dalam perspektif budaya dan sastra.

  3. Avatar Nanda Suhendi
    Nanda Suhendi

    Menurut saya artikel ini sangat menarik karena memberikan pandangan yang sangat menarik dalam mengkaji puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono melalui pendekatan filosofis, khususnya konsep sangkan paraning dumadi. Penulis berhasil menunjukkan bahwa karya Sapardi ini bersifat sederhana.

  4. Avatar Syifa Nur rohman

    Saya merasa tulisan ini menarik karena mengaitkan konsep “Sangkan Paraning Dumadi” dengan karya-karya puisi Sapardi Djoko Damono. Meskipun topiknya cukup filosofis, penjelasannya mudah dipahami sehingga pembaca tetap dapat mengikuti. Selain itu, saya melihat puisi Sapardi dari berbagai sudut pandang, terutama mengenai makna hidup dan asal-usul manusia. Cara penulis menyampaikan analisisnya tidak terlalu kaku. Mungkin akan lebih menarik jika ada contoh puisi yang dibahas lebih lanjut. Secara keseluruhan, tulisannya luar biasa dan inspiratif

  5. Avatar Suci Barkah
    Suci Barkah

    Menurut saya, artikel ini sangat menarik karena berhasil mengangkat dimensi filsafat lokal dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang selama ini jarang dibahas secara mendalam. Penulis mampu menunjukkan bahwa puisi tidak hanya bersifat lirisis, tetapi juga mengandung makna eksistensial yang kuat. Penggunaan konsep sangkan paraning dumadi membuat analisis menjadi lebih kaya dan kontekstual. Selain itu, pendekatan filosofis yang digunakan terasa tepat untuk mengungkap makna simbolik dalam puisi. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi penting dalam memperluas kajian sastra Indonesia berbasis kearifan lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *