Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Salah Kaprah Lembang: Antara Branding dan Fakta Geografis

[Sumber gambar: https://destinasibandung.co.id/]

Penulis: Dena Wahyudi

Letak Geografis dan Salah Kaprah disebut sebagai Lembang Bandung

Lembang merupakan salah satu daerah pariwisata di Kabupaten Bandung Barat. Sekali lagi saya ulang, di Kabupaten Bandung Barat. Bukan di Kota Bandung, meskipun berdekatan melalui jalan Setiabudi, tetapi secara geografis Lembang adalah bagian dari Kabupaten Bandung  Barat.  Kabupaten  ini  memiliki wilayah  yang  relatif  lebih  luas dibanding  Kota Bandung ataupun Kabupaten Bandung. Bagian utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Purwakarta dan Subang, Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, ujung Selatan berbatasan langsung dengan Kota Cimahi dan Kota Bandung, sementara ujung Timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung.

Letaknya yang cukup dekat dengan Bandung menimbulkan salah kaprah tersendiri di kalangan masyarakat ataupun wisatawan luar kota. Mereka seringkali menyebut bahwa Lembang ada di Kota Bandung, hal yang sangat keliru. Salah tempat lahir saja antara ijazah dan kartu keluarga bukannya fatal ya?

Lembang jadi tebengan nama bagi wisata lokal yang bukan di Lembang

Selain salah kaprah letaknya, Lembang juga kerap dijadikan nama tebengan bagi tempat wisata lokal yang sebenarnya ada di luar Lembang. Contohnya tempat wisata Dusun Bambu. Kalau kita ketikkan di kolom pencarian google, maka akan muncul kata kunci “Dusun Bambu Lembang”. Padahal secara geografis Dusun Bambu berada di Kecamatan Cisarua. Butuh waktu sekitar 20 sampai 25 menit dengan jarak yang lebih dari 10 KM dari Kecamatan Lembang. Bukan hanya itu, tempat wisata lain yang berada di Parongpong, misalnya Taman Bunga Cihideung, mereka branding dengan nama Lembang. Meskipun jaraknya relatif cukup jauh dari Lembang. Bahkan wisata di daerah Dago saja sering diidentikan dengan Lembang, padahal daerah tersebut letaknya jelas ada di Bandung.

Tebengan nama untuk branding tersebut menunjukkan bahwa Lembang sangat terkenal dan memiliki daya tarik wisata yang kuat. Apapun yang dilabeli dengan Lembang seolah memberikan kesan keindahan alam yang dingin dan sejuk di mata wisatawan, sehingga tak heran banyak tempat wisata yang bukan bagian dari daerah Lembang namun masih tetap asri layaknya Lembang dikenal sebagai tempat yang masih bagian darinya. Akan tetapi tetap penting untuk diluruskan, agar letak geografis suatu daerah dapat dipahami dengan tepat sesuai dengan wilayah administrasinya.

Lembang Tak Seindah Itu

Bagi wisatawan, Lembang menjadi pelarian sempurna dari mumetnya hiruk pikuk kota. Tempat ini menyajikan keindahan alam dataran tinggi yang memadukan udara sejuk, panorama pegunungan, dan hamparan kebun sayur hijau yang luas. Tak lupa keindahan kawah Tangkuban Parahu yang asri dapat menyentuh hati para wisatawan yang menjajakinya. Oleh karena itu, tempat wisata dan hotel-hotel cukup menjamur di sana, tempat bisnis yang menggiurkan.

Namun, keindahan itu lenyap jika hujan turun seharian. Langit berubah jadi gelap, kabut tebal di mana-mana, rasanya kita sebagai manusia berada dalam bahaya ganasnya alam yang tak tertebak. Selain itu, jika turun hujan, Lembang kini banjir di mana-mana. Di depan pasar Panorama Lembang kerap jadi langganan. Bagaikan sungai yang mengalir deras, banjir mengalir dari arah pasar menuju jalan Kayu Ambon yang ke arah Maribaya. Tidak sampai berhari-hari, hitungan jam pun biasanya reda. Akan tetapi ini tidak bisa dianggap sepele, bahaya kerusakan alam Lembang tampaknya memang nyata.

Selain itu, warga Lembang juga sering dibuat gusar dengan isu sesar Lembang yang berpotensi bergeser kapan saja. Wilayah sesar Lembang membentang dari Padalarang melewati Lembang hingga ke Jatinangor (Sumedang). Berdasarkan beberapa sumber, patahan sesar Lembang terus bergerak (rata-rata 1-4 mm/tahun) dan berpotensi menimbulkan gempa besar, seperti yang terlihat pada Bukit Batu atau Gunung Batu di Lembang.

Ancaman ini menjadi perhatian yang cukup serius, bentuk mitigasi melalui edukasi dan simulasi kerap dilakukan oleh pemerintah setempat bagi masyarakat ataupun sekolah-sekolah yang berada di daerah tersebut. Bukan untuk persiapan menghadapi bencana karena manusia tidak pernah siap menghadapinya, akan tetapi untuk meningkatkan kesadaran jika ancaman tersebut mungkin datang secara tiba-tiba.

Terlepas dari semua itu, Lembang tetaplah Lembang, tempat yang selalu berusaha menyuguhkan keindahan, dan tempat yang selalu saya rindukan untuk pulang.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *