
[Sumber gambar: pexels/pixabay]
Penulis: Silvia Julianti Dewi
Suatu hari di hutan Cikanyere yang selalu menjadi tempat bermain Nathan dan Silvia. Disanalah mereka berlari, mendengarkan kicau burung, dan bermain air di sungai yang jernih. Namun, suatu hari ketika akan bermain di hutan, mereka terkejut melihat pohon-pohon besar banyak yang tumbang, tanah penuh dengan lumpur, sungai yang biasanya jernih kini menjadi keruh.
“Nathan… hutan kita… habis!” bisik Silvia, hampir menangis.
Nathan mengepalkan tangannya. “Kenapa mereka tega? Kalau hutan hilang, desa kita juuga hilang.”
Malam itu Nathan teringat apa kata gurunya. “Bela negara bisa dilakukan dengan hal kecil, seperti menjaga lingkungan. Kalau kita menjaga alam, sama saja kiita menjaga negeri kita.” Kata-kata itu membuat Nathan mantap. Ia tidak ingin diam.
Keesokan harinya, Nathan mengajak Silvia.
“Kita harus bertindak. Kita bisa menanam pohon, membersihkan sungai. Kita mulai dari yang kecil.”
“Tapi, kita cuman anak-anak…” ragu Silvia.
Nathan menatapnya tegas. “Justru karena kita anak-anaklah, kita harus peduli pada masa depan.”
Mereka pun mengajak teman-teman sekolahnya. Di bawah pohon beringin besar yang masih tersisa di hutan itu, Nathan berkata dengan lantang:
“Hutan kita sedang sakit. Kalau kita tidak peduli pada hutan yang kita miliki ini, desa kita akan rusak. Kita memang bukan orang dewasa, tapi kita bisa menanam pohon unutuk menyelamatkan hutan kita ini. Itu juga bela negara!”
Awalnya banyak yang ragu. Tapi perlahan, satu persatu setuju. Mereka menamai kelompok kecil itu Sahabat Hutan. Setiap minggu mereka menanam bibit pohon, menyiraminya, dan memberi nama pada setiap pohon yang mereka tanam.
“Aku beri nama ‘Harapan’.” Kata Silvia sambil menancapkan papan kecil.
Nathan tersenyum. “Kalau begitu pohon ini ‘Masa Depan’. Karena itulah yang kita tanam.”
Semangat mereka membuat warga desa ikut membantu. Kepala desa pun mendukung. Namun tidak semua orang senang. Suatu hari, sekelompok laki-laki datang dengan wajah marah.
“Kalian pikir pohon kecil ini bisa menghentikan kami? Pohon itu butuh puluhan tahun unuk besar. Percuma!”
Anak-anak ketakutan. Tapi Nathan berdiri tegak.
“Kalau kami tidak mulai sekarang, hutan ini akan hilang selamanya. Menjaga hutan berarti menjaga negeri. Kami tidak akan berhenti!”
Laki-laki itu terdiam, lalu pergi dengan kesal.
Malamnya, Nathan menangis di pelukan ayahnya.
“Ayah, aku takut. Tapi aku tidak mau menyerah.” Ayah tersenyum bangga.
“Kamu sudah benar, Nak. Menjaga alam adalah bela negara yang sesungguhnya.”
Tahun demi tahun berlalu. Pohon-pohon kecil itu tumbuh tinggi. Sungai kembali jernih, burung-burung kembali benyanyi. Desa Cikanyere berubah menjadi desa hijau yang terkenal.
Di tepi sungai, Nathan dan Silvia berdiri menatap pohon mereka.
“Lihatlah, Sil… kita berhasil. Pohon ini menjadi bukti cinta kita pada negeri.” Kata Nathan, suaranya bergetar.
Silvia tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Iya, Nathan. Kita tidak membela negara dengan senjata, tapi dengan pohon-pohon yang kita rawat dengan cinta.”
Mereka terdiam, membiarkan suara sungai menjadi saksi.
Cerita sahabat hutan menyebar. Anak-anak didesa lain mulai menanam pohon dan menjaga sungai. Dan setiap kali ditanya kenapa ia melakukan semua ini, Nathan hanya berkata sederhana:
“Kalau kita mencintai Indonesa, cintailah juga alamnya. Menanam pohon hari ini adalah menanam kehidupan untuk masa depan. Itulah cara kami membela negeri.”












Tinggalkan Balasan