
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Disya Oktora Rosadi
Hari Sabtu selalu punya aroma berbeda di SD Negeri Babakan Cianjur. Bukan aroma kapur tulis atau kertas buku, melainkan bau tanah basah halaman sekolah yang baru disapu dan wangi sabun cuci yang dibawa dari rumah para murid.
“Pak, saya bawa sapu baru!” seru Dinda sambil mengangkat sapu lidi lebih tinggi dari tubuh mungilnya.
Saya tersenyum melihat wajah-wajah penuh semangat pagi itu. Siswa-siswi datang bukan dengan wajah terpaksa, melainkan riang, seolah Sabtu adalah hari paling ditunggu. Di tangan mereka ada sapu, kain lap, pengki, bahkan ada yang membawa ember kecil.
“Baik, anak-anak. Hari ini kita mulai dengan membersihkan kelas dulu, baru halaman. Ingat, kerja sama itu lebih penting daripada siapa yang paling cepat,” ucap saya memberi arahan.
Di pojok kelas, terlihat Rafi yang biasanya malas, kini sibuk mengelap jendela sambil bersenandung. Sementara itu, Dinda dan Sari berebut siapa yang akan menyapu papan tulis terlebih dahulu. Tawa mereka terdengar renyah, menyatu dengan suara gesekan sapu lidi di lantai.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Arman, siswa yang dikenal suka membantah, duduk bersedekap di bangku belakang. Wajahnya cemberut, kakinya menyenggol kaleng cat bekas hingga menimbulkan bunyi gaduh.
“Kenapa, Man? Tidak ikut menyapu?” tanya saya mendekatinya.
“Ah, Pak… buat apa bersihin sekolah? Nanti juga kotor lagi. Mending saya main bola,” jawabnya dengan nada kesal.
Sejenak kelas hening. Beberapa siswa melirik Arman, ada yang berbisik pelan. Saya menarik napas panjang lalu duduk di sebelahnya.
“Arman, coba bayangkan kalau rumahmu tidak pernah disapu. Besok kotor, lusa tambah kotor. Apa kamu bisa nyaman tinggal di situ?” tanya saya perlahan.
Arman menunduk, tidak langsung menjawab. Saya melanjutkan, “Sekolah ini rumah kita juga. Kalau kita tidak mau menjaganya, siapa lagi? Bersih-bersih bukan soal hasil, tapi kebiasaan. Sama seperti main bola, kan? Kalau tidak rajin latihan, mana mungkin bisa jago?”
Ada kilatan di mata Arman. Ia menghela napas, lalu bangkit. “Baiklah, Pak. Saya coba…” katanya sambil meraih sapu lidi. Anak-anak lain bersorak kecil, memberi semangat.
Sejak itu, Arman ikut menyapu halaman. Meski awalnya kikuk, ia mulai menikmati, apalagi saat teman-temannya bercanda. Saya melihat ada senyum kecil di wajahnya, sebuah tanda bahwa ia menemukan makna baru dalam kerja bersama.
Siang itu, halaman sekolah tampak bersih. Daun-daun kering menumpuk rapi di sudut, meja kursi tertata, dan jendela berkilau terkena cahaya matahari. Anak-anak duduk berjejer di teras kelas, menikmati bekal masing-masing. Tawa mereka berbaur dengan suara angin yang menggerakkan pepohonan.
Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar mengejutkan dari orang tua Arman. “Pak, anak saya sekarang sering menyapu halaman rumah tanpa diminta. Bahkan, dia marah kalau saya buang sampah sembarangan,” kata ibunya sambil tersenyum malu.
Saya terharu mendengarnya. Ternyata, SABER bukan hanya sekadar rutinitas di sekolah. Ia telah menjelma menjadi benih kecil yang tumbuh di hati anak-anak: benih kepedulian, disiplin, dan cinta lingkungan.
Ketika matahari Sabtu itu merambat naik, saya duduk sejenak di teras kelas. Melihat halaman sekolah yang rapi, mendengar tawa anak-anak yang berlarian setelah selesai membersihkan, saya merasa bahagia. Rasanya seperti menyaksikan tunas-tunas kecil yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi pohon kokoh penyangga bangsa.
Sabtu itu, saya kembali belajar: menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan hati untuk mencintai tempat kita berpijak. Dan dari tangan-tangan kecil itu, saya percaya, masa depan yang lebih baik sedang disapu dan dibersihkan perlahan-lahan.













Tinggalkan Balasan