
[Gambar: Dokumentasi kegiatan]
Penulis: Heri Isnaini
Di tengah arus globalisasi dan percepatan teknologi digital, keberlangsungan tradisi lisan menjadi tantangan sekaligus peluang. Salah satu warisan budaya Sunda yang memiliki kekayaan estetika dan nilai filosofis tinggi adalah sisindiran. Sebagai bentuk ekspresi sastra lisan yang sarat makna, sisindiran tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral, kritik sosial, dan kearifan lokal.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Pagelaran Kebudayaan Sunda menghadirkan sebuah workshop bertajuk โRevitalisasi Sisindiran Sunda melalui Sinergi Teknologi Interaktif dan Ekspresi Budaya.โ Kegiatan ini menjadi ruang dialog sekaligus laboratorium gagasan untuk menghidupkan kembali sisindiran dalam konteks kekinian.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Rabu, 8 April 2026 ini mendapat sambutan luar biasa. Tercatat sekitar 200 peserta lebih turut ambil bagian, yang berasal dari beragam kalangan mulai dari guru, siswa, mahasiswa, seniman, hingga masyarakat umum. Antusiasme ini menunjukkan bahwa sisindiran masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat, sekaligus membuka peluang revitalisasi yang lebih luas.
Dalam sambutannya, Dr. Diena San Fauziya, M.Pd. selaku penanggung jawab kegiatan menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya bergantung pada romantisme masa lalu. Ia menekankan pentingnya menghadirkan tradisi dalam ruang-ruang baru yang relevan dengan generasi masa kini. Workshop ini, menurutnya, merupakan langkah konkret untuk menjembatani warisan budaya dengan perkembangan teknologi, sehingga sisindiran tidak hanya dikenang, tetapi juga dipraktikkan dan dikembangkan secara kreatif.
Rangkaian materi dalam workshop ini menghadirkan perspektif yang saling melengkapi. Dr. Haris Santosa, M.Pd. sebagai Kaprodi Bahasa Sunda UPI membuka wawasan peserta melalui pemaparan tentang sisindiran sebagai identitas budaya yang memiliki kekuatan estetika sekaligus menghadapi tantangan revitalisasi di era digital. Perspektif akademik tersebut kemudian diperkaya oleh pengalaman praktis dari guru Bahasa Sunda MGMP Kota Cimahi, Setiadi Ramdani, S.Pd., Gr., yang mengulas implementasi sisindiran dalam pembelajaran di kelas, sehingga tradisi ini dapat diwariskan secara kontekstual kepada generasi muda.
Selanjutnya, Dr. Heri Isnaini, M.Hum. menyoroti transformasi sisindiran dari tradisi lisan menuju platform interaktif digital. Ia menunjukkan bahwa perkembangan teknologi bukanlah ancaman, melainkan medium baru yang dapat memperluas jangkauan dan bentuk ekspresi sisindiran. Sementara itu, Hendra Gunawan (Ki Sastro) membawa peserta pada dimensi praksis budaya, dengan menegaskan bahwa sisindiran hidup dalam keseharian masyarakat dan dapat terus berkembang melalui komunitas hingga panggung-panggung kebudayaan.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga dorongan untuk menghidupkan kembali sisindiran sebagai praktik budaya yang dinamis. Sinergi antara tradisi dan teknologi menjadi kunci agar sisindiran tetap relevan, adaptif, dan berdaya hidup di tengah perubahan zaman.
Workshop ini pada akhirnya menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan menghidupkan kembali makna melalui inovasi dan kolaborasi.
Salam budaya.
Bandung, 8 April 2026













Tinggalkan Balasan