Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Resensi Karya Armijn Pane “Belenggu”

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Tazqia Nurfauziah Al-Fiyah

Judul                : Belenggu

Penulis             : Armijn Pane

Penerbit           : Poedjangga Baroe

Tahun              : April-Juni 1940

Tebal               : 150 halaman

ISBN               : 9795230488

Sukartono (Tono), seorang dokter berpendidikan Belanda,  dan istrinya Sumartini (Tini), yang tinggal di Batavia (sekarang Jakarta), sedang menjauh. Tono terlalu sibuk merawat pasien sehingga dia tidak punya waktu untuk bersama Tini. Akibatnya, Tini pun menjadi lebih aktif dengan kegiatan sosial, sehingga dia tidak mengurus rumah tangga. Hal ini membuat Tono semakin menjauh, sebab dia ingin Tini menjadi istri tradisional yang bersedia menyiapkan makan dan menunggu dia di rumah.

Suatu hari, Tono dipanggil oleh seseorang bernama Nyonya Eni, yang minta dirawat. Ketika Tono mendatanginya, dia menyadari bahwa Ny. Eni sebenarnya adalah Rohayah (Yah), temannya waktu masih kecil. Yah, yang sudah mencintai Tono sejak mereka masih di sekolah rakyat, mulai menggoda Tono sehingga dokter itu jatuh cinta. Mereka mulai bertemu secara diam-diam dan sering pergi ke pelabuhan Tanjung Priok. Ketika Tini pergi ke  Surakarta untuk menghadiri kongres wanita, Tono mengambil langkah untuk hidup bersama Yah selama satu minggu.

Selama di rumah Yah, Tono dan Yah membahas masa lalu. Tono menjelaskan bahwa setelah tamat sekolah rakyat di Bandung, dia berpindah ke Surabaya dan belajar di sekolah kedokteran di sana. Dia menikah dengan Tini karena kecantikannya. Sementara, Yah dijodohkan dengan pria yang lebih tua dan berpindah ke Palembang. Setelah meninggalkan suami, dia pindah ke Batavia dan menjadi pelacur; selama tiga tahun dia menjadi simpanan pria Belanda. Melihat tingkah laku Yah yang sopan santun, Tono menjadi semakin cinta padanya karena beranggapan bahwa Yah adalah istri yang tepat untuknya. Namun, Yah merasa dirinya belum siap untuk menikah.

Tono, yang merupakan penggemar musik Keroncong, diminta menjadi juri suatu lomba keroncong di Pasar Gambir. Di sana, dia bertemu dengan Hartono, seorang aktivis politik dan anggota Partindo, yang bertanya tentang istri dokter itu. Beberapa hari kemudian, Hartono mengunjungi rumah Tono dan bertemu dengan Tini. Ternyata Tini pernah menjalin hubungan dengan Hartono saat kuliah, sehingga mereka berhubungan seks; hal ini membuat Tini jengkel dengan dirinya sehingga tidak dapat mencintai laki-laki. Hartono pun semakin mengacaukan keadaan ketika dia memutuskan Tini dengan hanya meninggalkan sepucuk surat. Ketika Hartono minta agar dapat kembali bersama Tini, Tini menolak.

Setelah mengetahui bahwa Tono selingkuh, Tini menjadi sangat marah dan pergi untuk berbincang dengan Yah. Namun, setelah berbicara panjang dengan Yah, Tini mulai beranggapan bahwa Yah lebih cocok untuk Tono dan minta agar Yah segera menikahinya. Tini lalu berpindah ke Surabaya, dan Tono ditinggalkannya di Batavia. Namun, Yah merasa bahwa mempunyai hubungan dengan Tono akan membuat citra baik Tono hancur, sebab latar belakangnya yang pelacur itu. Dia lalu mengambil keputusan untuk pindah ke Kaledonia Baru, dengan meninggalkan sepucuk surat dan sebuah piring hitam yang membuktikan bahwa Yah sebenarnya penyanyi favorit Tono, Siti Hajati. Dalam perjalanan ke Kaledonia Baru, Yah rindu pada Tono dan mendengar suaranya di radio. Tono ditinggal sendiri dan mulai bekerja sangat keras, dalam usaha untuk mengisi kesepiannya.

Novel Belenggu karya Armijn Pane memiliki sejumlah kelebihan yang menjadikannya karya penting dalam khazanah sastra Indonesia. Salah satu kelebihannya terletak pada penggambaran konflik batin tokoh-tokohnya yang mendalam dan realistis, terutama pergulatan psikologis Sukartono sebagai manusia modern yang terjebak antara cinta, tanggung jawab, dan tuntutan sosial. Armijn Pane juga berani mengangkat tema yang tergolong baru dan kontroversial pada masanya, seperti ketegangan dalam rumah tangga, peran perempuan modern, serta benturan nilai tradisional dan modern. Selain itu, penggunaan dialog yang intens dan gaya bahasa yang lugas mampu memperkuat karakter tokoh serta menciptakan suasana cerita yang hidup dan reflektif. Novel ini juga memiliki nilai historis karena mencerminkan kondisi sosial masyarakat terpelajar Indonesia pada masa kolonial.

Namun, di balik kelebihannya, novel Belenggu juga memiliki beberapa kekurangan. Alur cerita yang cenderung lambat dan minim peristiwa aksi dapat membuat sebagian pembaca merasa kurang tertarik, terutama pembaca yang menyukai cerita dengan konflik eksternal yang kuat. Fokus cerita yang lebih menitikberatkan pada konflik psikologis menyebabkan perkembangan peristiwa terasa monoton. Selain itu, akhir cerita yang terbuka dan tidak memberikan penyelesaian yang tegas dapat menimbulkan kebingungan bagi pembaca tertentu. Bahasa yang digunakan dalam beberapa bagian juga terkesan kaku dan berat bagi pembaca modern, sehingga membutuhkan konsentrasi lebih dalam memahami isi cerita.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *