Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Resensi Novel “Ziarah” Karya Iwan Simatupang

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: M. Rizky Fadilah

IDENTITAS NOVEL ZIARAH

* Judul: Ziarah

* Penulis: Iwan Simatupang

* Penerbit: Djambatan (Cetakan pertama, 1969)

* Tahun Terbit: 1969

* Jumlah Halaman: 224 halaman

* Penghargaan: Hadiah Sastra ASEAN (SEA Write Award) tahun 1977.

SINOPSIS

Perjalanan “Si Pelukis” yang ga selesai-selesai sama masa lalunya

Jadi gini, novel ini berfokuspasa satu karakter yang dipanggil “Tokoh Kita”. Dia ini dulunya pelukis, tapi hidupnya mendadak berantakan total pas istrinya meninggal.Dia ngerasa dunianya berhenti di situ dan akhirnya pekerjaan diasetiap harinya yaitu hanya satu yaitu ziarah.

Dia setiap harinya datang ke makam istrinya terus-terusan, bukan cuma doa ya, tapi kayak orang yang bener-bener “tersesat” di sana. Nah, kelakuan dia yang aneh ini bikin pusing Opsir Pekuburan. Si Opsir ini tipikal orang yang saklek banget sama aturan, pengen semuanya rapi dan masuk akal. Sedangkan si pelukis ini? Dia simbol dari segala sesuatu yang nggak masuk akal atau absurd.

Di sini serunya. Kita nggak cuma diajak liat orang nangis di kuburan, tapi kita diajak mikir: “Sebenarnya kita hidup buat apa sih kalau ujung-ujungnya bakal ilang juga?” Si “Tokoh Kita” ini kayak lagi berantem sama takdir. Dia coba cari makna di balik kematian istrinya, tapi malah nemu kalau dunia ini emang kadang nggak ada logikanya. Hubungan dia sama si Opsir itu kayak simbol bentrokan antara orang yang “bebas/liar” sama sistem yang “kaku”.

Intinya, ini novel bukan soal hantu-hantuan di kuburan, tapi soal gimana manusia berusaha survive dari rasa sedih yang gila dan gimana caranya berdamai sama kenyataan kalau hidup itu emang aneh

KELEBIHAN

Membaca novel ini tuh kayak lagi diajak debat sama diri sendiri. Kelebihannya, dia nggak nyuapin kita jawaban instan. Kita dipaksa buat mikir, “Eh, maksud si tokoh ini apa ya?” atau “Kenapa dunia se-absurd ini?”. Jadi, kelar baca, saya ngerasa level berpikir saya naik satu tingkat dan juga karakternya ikonik banget karena si “Tokoh Kita” dan “Opsir Pekuburan” itu bener-bener mewakili dua sisi manusia. Satunya sisi yang bebas dan kacau, satunya lagi sisi yang pengen serba diatur.Novel ini juga mempunyai “Vibe” Internasional dengan gaya bahasanya tuh nggak lokal-lokal amat dalam artian sempit. Masalah yang diangkat—kayak kesepian, kematian, dan pencarian jati diri—itu masalah semua orang di dunia. Makanya nggak heran kalau novel ini dapet penghargaan tingkat ASEAN, karena emang kualitasnya “kelas berat”.Terus novel ini sangat puitis dengan cara yang unik meskipun bahasanya kadang muter-muter dan absurd, tapi ada estetika tersendiri di sana.

KEKURANGAN

Menurut aku novel ini engga ada kekurngan nya karena novel ini seperti menceritakan kehidapan kita sehari hari dan juga novel ini endinya sanagat sedih sekali kenapa sedih karena ya ujung ujunya balik lagi ke kesedian atau bisadi bilang merenung.Ada deh satu kekurangnnya menurut saya yaitu ada beberapa bagian yang kesannya kayak aga “muter di situ-situ saja”. Buat pembaca yang pengen cerita gerak cepat, gaya bahasa yang penuh filosofi ini bakal kerasa lambat dan ngebosenin banget.Tapi jujur novel ini sangat bangus sekali

KESIMPULAN

Ziarah bukan sekadar novel tentang orang yang mengunjungi makam, melainkan sebuah “ziarah spiritual” ke dalam batin manusia yang paling dalam. Iwan Simatupang berhasil menunjukkan bahwa sastra Indonesia mampu berdiri sejajar dengan sastra dunia dalam mengeksplorasi tema-tema modernitas dan keterasingan manusia. Novel ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami perkembangan sastra modern di Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *