Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Resensi Novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”

[Sumber gambar: Google.com]

Penulis: Tintin Rohaeni

Identitas Novel: Judul (Tenggelamnya Kapal Van der Wijck), Penulis Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Tahun Terbit (1939), Penerbit (Gema Insani), Tebal Halaman (225 Halaman), Genre (Roman dan Kritik Sosial), Latar (Minangkabau (Padang Panjang, Batipuh) dan Tanah Jawa), Penyunting Aksara (Ratih Kumalaningrum), Perwajahan dan Penata Letak (Irfan Fahmi), Ilustrator Sampul (Bella Ansori), Desainer Sampul (Dede Suryana), Isbn (9786022504160).

Sinopsis: Zainuddin seorang pemuda berdarah campuran Minang dan Bugis, pergi dari tanah kelahirannya (Mengkasar) ke padang Panjang, kampung halaman sang ayah, dengan hati penuh harapan akan mendapat sambutan Bahagia dari keluarga sang ayah. Sayang, apa yang ia harapkan tidak terjadi. Keluarga besar sang ayah menganggapnya orang asing. Namun, ketidaknyamanan hidup di kampung halaman sang ayah sedikit terobati karena perkenalannya dengan Hayati gadis keturunan bangsawan yang rupawan, Mereka saling jatuh cinta dalam keikhlasan dan kesucian jiwa.

Di tengah perjalanan asmara mereka, Zainuddin harus menerima penolakan pahit dari keluarga Hayati karena jurang perbedaan adat, kedudukan, dan ekonomi yang membentang di antara mereka. Hayati pun menikah dengan Aziz seorang pemuda asli Minang, keturunan terhomat, beradat berlembaga, dan kaya, tetapi sifatnya tidak mencerminkan sosok bangsawan yang terhormat dan berbudi luhur.

Untuk mengobati luka hati yang hampir membuat dirinya bunuh diri, Zainuddin Bersama sahabatnya pergi ke tanah Jawa. Zainuddin mencurahkan segenap luka hatinya dalam bentuk tulisan yang ternyata mendapat apresiasi luar biasa. Zainuddin menjadi sosok terkenal dan kaya raya. Pada saat itulah, Hayati kembali hadir dalam hidupnya. Kesetiaan cinta Zainuddin kepada Hayati pun diuji. Bagaimana takdir menuntun kisah asrama dua anak manusia ini? Apa yang terjadi pada Kapal Van der Wijck akan menjadi kunci jawaban dari pengembaraan cinta Zainuddin dan Hayati.

Kelebihan: Penulisan diksi yang sangat baik, indah dan menarik. Dijalin dengan menggunakan bahasa sastera yang indah. Jalan ceritanya dilatar belakangi dengan peraturan-peraturan adat, dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga. Berkaum kerabat dan berninik mamak. Ceritanya menyentuh ke hati. Dan surat-suratnya sangat romantis.

Kekurangan: Buku ini terlalu banyak menuliskan tentang surat Hayati dan Zainuddin sehingga membuat pembaca sedikit bosan untuk membaca tulisan surat-sutat mereka.

Simpulan: Zainuddin dan Hayati saling mencintai, tetapi ditolak keluarga karena perbedaan adat. Hayati dipaksa menikah, Zainuddin pergi ke Jawa, menjadi penulis terkenal. Dan Hayati kembali kesamping Zainuddin, tetapi setelah itu Hayati pun meninggal akibat kecelakan di Kapal Van Der Wijck. Setelah kepergian Hayati Zainuddin sakit-sakitan dan akhirnya meniggal dunia. Serta pesan yang ingin di sampaikan pengarang dalam buku ini sangat banyak. Yang paling utama yaitu untuk selalu sabar semua jodoh manusia ditanga Tuhan. Setiap hamba yang ingin berusaha pasti aka nada jalannya.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *