
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Sofi Sufiyati Sa’aduddin
- IDENTITAS
Judul Buku : Ronggeng Dukuh Paruk
Nama Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Penerbit : 1982
Jumlah Halaman : 108 Halaman
- SINOPSIS
Novel ini menceritakan kehidupan sebuah desa kecil bernama Dukuh Paruk, sebuah desa miskin yang masih memegang kuat tradisi, jauh dari pendidikan, dan hidup dalam keterbatasan. Ciri paling menonjol dari desa ini adalah keberadaan ronggeng yang dianggap sebagai sumber kebanggaan sekaligus pembawa keberuntungan bagi masyarakat Dukuh Paruk. Srintil, seorang gadis desa, dipercaya oleh masyarakat telah mendapat restu dari Ki Secamanggala untuk menjadi seorang ronggeng. Sejak Srintil menjalani ritual buka klambu, hidup dan tubuhnya tidak lagi sepenuhnya menjadi miliknya sendiri karena ia harus tunduk pada aturan adat serta keinginan masyarakat. Di sisi lain, Rasus, sahabat dekat Srintil, merasakan kesedihan dan kegelisahan melihat Srintil harus menjalani kehidupan tersebut. Ketidakmampuannya menerima tradisi itu membuat Rasus perlahan menjauh dan memilih jalan hidup yang berbeda dari Dukuh Paruk. Novel ini menggambarkan benturan antara cinta, tradisi, dan nilai kemanusiaan, serta menunjukkan bagaimana adat dan kemiskinan dapat membatasi kebebasan serta pilihan hidup seseorang. Selain itu, novel ini juga menampilkan potret kehidupan masyarakat desa dengan segala kesederhanaan, kepercayaan, dan konflik sosial yang menyertainya.
- KELEBIHAN
Kelebihan novel ini terlihat dari cara pengarang menggambarkan budaya dan kehidupan masyarakat desa yang terasa nyata, dari mulai Ahmad Tohari menampilkan tokoh-tokohnya, terutama Srintil, dengan sangat manusiawi sehingga perasaan sedih, bingung, dan penderitaan yang dialaminya sangat mudah dirasakan oleh saya sebagai pembaca. Selain itu, bahasa yang digunakan itu indah serta mengandung pesan sosial dan nilai kemanusiaan yang kuat. Dan hal terpenting adalah alur ceritanya sangat menarik dan tidak pasan.
- KEKURANGAN
Alur ceritanya yang terasa sedikit lambat di bagian awal karena banyak menjelaskan latar dan tradisi desa. Selain itu, beberapa tema yang dibahas cukup berat, sehingga saya dan teman-teman saya sebagai pembaca perlu membaca dengan lebih teliti bahkan berulang-ulang agar bisa memahaminya dengan baik.
- KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan karya sastra yang kuat dalam menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang terikat oleh tradisi, kemiskinan, dan kepercayaan turun-temurun. Melalui tokoh Srintil dan Rasus, pengarang berhasil menampilkan konflik antara adat, cinta, dan nilai kemanusiaan secara mendalam dan menyentuh. Kelebihan novel ini terletak pada penggambaran budaya desa yang terasa nyata, bahasa yang indah, serta pesan sosial yang kuat. Meskipun alurnya terasa lambat di bagian awal dan tema yang diangkat cukup berat, hal tersebut tidak mengurangi nilai sastra dan makna yang terkandung dalam novel ini. Secara keseluruhan, Ronggeng Dukuh Parukmerupakan novel yang layak dibaca karena mampu membuka wawasan pembaca tentang realitas sosial dan kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat tradisional.












Tinggalkan Balasan