Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Resensi Novel Dikta & Hukum

[Sumber gambar: Dokumentasi pribadi penulis]

Penulis: Riska Dini Fatimah

Judul: Dikta & Hukum

Penulis: Dhia`an Farah Afifah

Penerbit: Asoka Aksara x Loveable

Tahun dan Edisi Penerbitan: 2021 Cetakan Pertama Ukuran: 13 x 19 cm

Halaman: 388 Halaman

No. ISBN: 972-623-310-013-7

Dhia`an Farah Afifah atau dengan nama pena @Kejeffreyan adalah anak dari empat bersaudara, lahir pada tahun 2000 di Curup, Bengkulu. Saat ini menetap di Bogor dan sedang menmpuh jenjang pendidikan di salah satu Universitas Negeri di Bandung dengan Pogram Studi Hukum dan keluarga.

Dikta dan Hukum adalah sebuah novel remaja yang sempat viral di media sosial karena kisahnya yang manis, menyentuh, dan penuh pelajaran hidup. Cerita ini mengisahkan tentang seorang mahasiswa hukum bernama Dikta dan seorang siswi SMA bernama Nadhira yang dijodohkan oleh orang tua mereka sejak kecil. Meskipun awalnya keduanya tidak menerima perjodohan tersebut, perlahan perasaan mulai tumbuh seiring waktu dan kedekatan yang tak terhindarkan. Dikta adalah sosok lelaki sempurna di mata siapa pun: cerdas, rajin, sopan, penyayang, dan bertanggung jawab. Sedangkan Nadhira, gadis yang masih duduk di bangku kelas 12 SMA, awalnya digambarkan sebagai remaja yang pemalas, cuek, dan suka menyepelekan tugas sekolah. Perbedaan karakter mereka membuat hubungan keduanya menjadi dinamis banyak perdebatan, saling ejek, tetapi juga banyak momen manis yang perlahan menumbuhkan cinta di antara mereka.

Namun, cerita ini tidak hanya berkutat pada kisah cinta remaja biasa. Di balik sosok Dikta yang selalu terlihat kuat dan penuh semangat, ternyata tersimpan sebuah rahasia besar: ia mengidap penyakit ginjal kronis. Penyakit ini sudah lama ia sembunyikan dari Nadhira dan teman-temannya. Ketika rahasia ini akhirnya terungkap, pembaca akan dibawa dalam suasana yang penuh haru dan emosi. Perjalanan cinta mereka yang awalnya tampak seperti kisah

indah, justru berakhir pada pilihan yang berat dan penuh pengorbanan. Melalui karakter- karakternya novel ini banyak menyampaikan nilai-nilai kehidupan Dari Dikta kita belajar tentang tanggung jawab, kesetiaan, pengorbanan, dan pentingnya bersikap jujur serta disiplin. Ia bahkan menanamkan nilai kejujuran dalam belajar, melawan kebiasaan mencontek, dan tidak takut menyuarakan sikap anti korupsi. Nadhira sendiri mengalami perkembangan karakter yang signifikan dari yang awalnya hanya gadis SMA biasa ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa karena didampingi oleh seseorang yang begitu tulus seperti Dikta.

Novel ini juga kaya akan pesan moral dan nilai-nilai pendidikan. Misalnya, tentang pentingnya menghargai hukum, kekuatan doa, kesetiaan dalam hubungan, serta pengaruh organisasi dan persahabatan dalam kehidupan mahasiswa. Banyak kutipan yang menyentuh hati dan menyadarkan kita bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki tetapi juga tentang merelakan. Penulis juga mengemas cerita dengan gaya yang santai dan mudah dicerna. Banyak dialog sehari-hari yang menggunakan bahasa gaul dan kadang bercampur dengan bahasa daerah seperti Sunda maupun bahasa Inggris. Hal ini membuat ceritanya terasa akrab, seperti percakapan yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Meski begitu, novel ini tidak lepas dari kelemahan beberapa bagian terasa lambat, dan penggunaan bahasa tidak baku terkadang terlalu berlebihan tapi secara keseluruhan Dikta dan Hukum tetap menjadi bacaan yang penuh makna dan layak untuk dinikmati siapa saja terutama remaja yang sedang mencari cerita tentang cinta, kehidupan, dan pelajaran moral. Ending-nya yang tragis namun manis membuat kita berpikir ulang tentang arti perjuangan, tentang bagaimana kehilangan bisa mengajarkan kita untuk lebih menghargai waktu dan orang-orang terdekat. Kisah Dikta dan Nadhira mungkin hanya fiksi, tetapi pelajaran yang mereka tinggalkan sangat nyata. Seperti kutipan “Jangan pernah lo berpikir kalau jujur bakalan bikin hidup lo kerasa hambar. Jujur itu kunci utama kehidupan, Nadh. Apalagi dalam urusan menuntut ilmu.”





Penulis:

Riska Dini Fatimah adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi. Ia memiliki ketertarikan besar pada dunia literasi, terutama dalam membaca dan mengkaji karya sastra modern. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Riska juga gemar traveling dan mendaki gunung, dua kegiatan yang menurutnya sama-sama membuka cakrawala, baik secara fisik maupun batin.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *