Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ramadan dan Estetika Waktu

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Bulan Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Ia tidak hanya mengubah apa yang kita makan dan kapan kita makan, tetapi juga mengubah cara kita merasakan waktu. Tiba-tiba saja pagi terasa lebih hening, siang menjadi lebih panjang, senja lebih penuh harap, dan malam seperti memiliki kedalaman yang tidak kita temui pada hari-hari biasa. Ramadan seolah mengajarkan bahwa waktu bukan sekadar deretan angka pada jam, melainkan pengalaman batin yang dapat dirasakan dengan seluruh kesadaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memperlakukan waktu seperti sesuatu yang harus dikejar. Jam berlari, pekerjaan menumpuk, dan hari berlalu begitu saja tanpa sempat kita hayati. Namun ketika Ramadan datang, ritme itu perlahan berubah. Kita bangun lebih awal untuk sahur, menahan lapar sepanjang hari, lalu menunggu senja dengan kesabaran yang puitik. Pada saat-saat menjelang azan Magrib, waktu terasa melambat. Ada jeda kecil yang penuh dengan rasa, aroma makanan dari dapur, suara anak-anak yang berlarian membawa takjil, dan langit yang perlahan meredup seperti tirai yang sedang ditarik pelan-pelan.

Barangkali di titik inilah Ramadan menghadirkan apa yang bisa disebut sebagai estetika waktu. Waktu bukan lagi terasa datar, melainkan memiliki warna, suasana, dan emosi. Senja Ramadan bukan sekadar pergantian siang menjadi malam, ia adalah momen penantian yang dipenuhi harapan. Kita menunggu tidak hanya untuk membatalkan puasa, tetapi juga untuk merasakan kelegaan yang datang setelah seharian menahan diri.

Pengalaman semacam ini mengingatkan saya pada puisi-puisi Jalaluddin Rumi. Dalam banyak baitnya, Rumi berbicara tentang kesunyian malam dan perjalanan jiwa menuju Tuhan. Ia percaya bahwa pada saat-saat sunyi, ketika dunia tidak terlalu ramai oleh suara, manusia dapat mendengar sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bunyi. Ramadan menghadirkan suasana semacam itu. Malam-malamnya terasa lebih tenang, lebih khusyuk, seakan waktu sendiri sedang berjalan lebih perlahan agar manusia sempat mendengarkan hatinya.

Setelah salat tarawih, misalnya, kota tidak benar-benar tidur. Lampu-lampu masih menyala, orang-orang masih berbincang, tetapi ada ketenangan yang berbeda dari malam biasa. Di dalam rumah atau di serambi masjid, orang membaca Al-Qur’an dengan suara pelan, seolah tidak ingin mengganggu keheningan yang sedang berlangsung. Pada saat seperti itu, waktu terasa seperti ruang yang luas, ruang tempat manusia dapat duduk bersama dirinya sendiri.

Namun Ramadan tidak hanya berbicara tentang keheningan spiritual. Ia juga berbicara tentang etika hidup sehari-hari. Dalam tradisi Melayu klasik, pesan semacam ini terasa kuat dalam karya Raja Ali Haji, terutama dalam Gurindam Dua Belas. Melalui gurindamnya, Raja Ali Haji mengingatkan bahwa manusia harus menjaga hati, menjaga akal, dan terutama menjaga lidahnya. Kata-kata yang keluar dari mulut manusia bukan sekadar bunyi, ia mencerminkan kualitas batin orang yang mengucapkannya.

Jika dipikirkan kembali, pesan itu terasa sangat dekat dengan makna puasa. Ramadan tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari kata-kata yang melukai. Di sinilah waktu Ramadan seakan menjadi semacam sekolah bagi bahasa. Selama sebulan penuh, manusia diajak untuk berbicara lebih pelan, lebih hati-hati, dan lebih penuh kesadaran.

Mungkin karena itu banyak kenangan tentang Ramadan selalu terasa puitik ketika diingat kembali. Kita tidak hanya mengingat makanan yang tersaji di meja berbuka, tetapi juga suasana waktu yang mengitarinya, seperti langit senja yang sedikit keemasan, suara azan yang terdengar dari kejauhan, dan wajah-wajah keluarga yang berkumpul di sekitar meja makan. Semua itu adalah detil kecil yang (dalam bahasa sastra) sering menjadi sumber keindahan.

Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa waktu tidak selalu harus dikejar. Ada saat-saat ketika waktu justru perlu dihayati, dirasakan, dan dibiarkan berjalan dengan tenang. Puasa membuat manusia belajar menunggu, belajar sabar, dan belajar mendengarkan dirinya sendiri. Dan sastra, dengan segala kemampuannya merawat kata-kata, membantu kita menyimpan pengalaman waktu itu agar tidak hilang begitu saja.

Barangkali di situlah Ramadan dan sastra saling bertemu. Keduanya mengingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada momen kecil yang sebenarnya sangat indah, yaitu senja yang pelan-pelan turun, malam yang penuh doa, dan waktu yang berjalan dengan langkah yang lebih lembut dari biasanya.

Bandung, 15 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *