
[Sumber gambar: https://pixnio.com/]
Penulis: Rifqi Septian Dewantara
Noken
Kulihat punggung perempuan itu menjuntai seperti sebuah doa yang ditenun dari senyap hutan: serat demi serat adalah urat bumi yang disambung dengan kesabaran, simpul demi simpul adalah nama-nama leluhur yang ditarik dari ingatan angin. Jaring-jaringnya mulut kecil yang memeluk dunia—menampung yang tumbuh dari cahaya redup, menahan duka yang tak sempat diucap, membawa pulang pagi yang tersesat di antara pepohonan. Perempuan itu berjalan, seolah mengerti bahwa hidup memang berat, ia ikat agar tak putus di tengah perjalanan. Kadang aku melihatnya rapuh, tapi dadanya rela menahan semesta; selalu siap diisi sunyi namun diam-diam menyelamatkan hari. Ketika malam turun, digantungnya hasil buruan di dinding honai, ia duduk melamun seperti bulan yang baru saja selesai menampung cahaya.
2025
Honai
Ada sejumput gelap dibulatkan angin, tempat api bernapas seperti bayi lahir yang belum punya nama. Atapnya rendah agar doa tidak tercecer, dindingnya gelap agar cahaya belajar menemukan dirinya sendiri. Manusia kembali menjadi hembusan—hanya detak, hanya hangat, hanya bayangan yang pulang ke tubuhnya. Di luar, hujan menggaruk-garuk malam, semua berkumpul di sudut ruangan, memuja roh yang malu-malu ingin duduk. Kadang terdengar suara tawa, jauh, seakan takut mengganggu arwah yang sedang menenun mimpi. Kadang sunyi terasa lebih tua daripada bumi. Teduhku tidak memagari siapa pun; ia hanya memeluk rahim yang mengerti caranya melepas tanpa kehilangan. Dan ketika fajar menyelinap lewat celah-celah kecil, ia tidak membangunkan siapa pun—ia hanya membuka mata, lalu membiarkan dunia mengingat bentuk rumah untuk pertama kalinya.
2025
Iki Palek (Potong Jari)
Malam yang menelan dirinya sendiri, seorang tetua mengangkat tangan ke udara, dan bayangan pun ikut gemetar. Satu ruas cahaya terlepas dari tubuhnya. Darah yang pernah rintik, erangan suara yang sudah lama mencari pintu untuk pulang. Jari-jari tanah itu menjadi batu kecil yang berduka, mengingatkan dunia bahwa memori kadang harus dilukai agar tetap hidup. Api di sudut ruangan menunduk, seolah takut melihat manusia menjadi lebih jujur dari cahaya. Ada kekosongan yang tumbuh, ada berat yang berpindah, ada doa yang menunggu kulit baru untuk kesembuhan. Potongan yang dipulangkan adalah serpih jiwa yang memilih tinggal di bumi agar duka tidak pecah di dada. Ketika ia menutup mata, malam menjadi lebih dalam, seakan kehilangan bunyi yang begitu pelan namun tetap menggetarkan langit.
2025
Waktu Untuk Menjadi Aku
Aku belum punya waktu untuk mengenal orang lain, waktuku habis untuk mengenali tubuh sendiri
mendengarkan bagaimana sunyi bergetar di tulang-belulang kematian, luka lama yang masih mencari ruang imunisasinya sendiri. Setiap malam aku bongkar diriku pelan-pelan, seperti merakit kedalaman iman yang tak pernah diceramahi siapa pun. Aku mencoba meraba; memahami bagian mana yang masih harus disembuhkan, dan bagian mana yang sudah siap ditinggalkan. jika suatu hari aku mampu mencintai dunia, itu karena akhirnya aku belajar memeluk diriku tanpa gentar—tanpa tergesa, tanpa permisi.
2025
Bijana
langit menakhlikkan Mashur Malamo,
keturunan bidadari dan sayyid dari kayangan
dalam bayang-bayang benteng Tolukko
saksi mata penjajahan bergema
semangat Baabullah, mengubah benteng jadi keraton dan simbol kedaulatan.
Di bawah bayang Gamalama,
laut biru menyimpan harum cengkih dan pala,
hidup lewat tifa-nya yang berdentum, tarian Cakalele
menyulam darah, perlawanan, dan doa.
Di masjid tua, Malam Qunut menandai malam pertengahan Ramadan,
sang Sultan dan Boki naik tandu—kolano suci berdoa untuk leluhur—
tradisi yang mengikat Islam dalam nadi budaya.
Dalam tiap purnama, Kololi Kie memanggil
untuk mengelilingi gunung suci,
soa-soa merayap perlahan,
membawa kisah kekerabatan, gotong royong, dan doa
Sedang upacara Tulude berbisik pada alam,
memohon berkah pada roh-roh leluhur,
di antara tenun motif cengkih-pala dan ukiran kora-kora yang merayakan kehidupan.
Di meja makan, papeda dengan ikan kuah kuning dan gohu ikan sedang berdansa,
lidah berbicara lewat citarasanya menautkan laut, mulut mengecap rempah dari rasa rindu tanah air.
2025












Tinggalkan Balasan