Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Puisi-Puisi Faris Muthashim Ghalib

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Faris Muthashim Ghalib

Tuhan Jangan Dulu Pulangkan Kami

Tuhan jangan dulu pulangkan kami
Masih ada do’a yang belum berdinding
Masih ada Langkah yang belum berdarah

Masih ada sosok yang menunggu peluk
Dan janji yang belum jadi rumah
Ijinkan kami berdiri sebentar lagi
Meski dunia terus menguji

Biarkan kami jatuh
Biarkan kami runtuh
Asalkan jangan akhiri
Asalkan jangan usaikan

Tuhan ..
Kami masih ingin umur
Umur yang berdiri tegak.


Meracau Mengeluhnya Raja Hutan

Merasa tegak bagai singa di puncak savana
Namun melangkah pun tak kuasa bahkan seperti semut,
Yang mengangkut remah di ujung tanah
Merasa suci bagai hijau dedaunan,
Namun cahaya hitam membayang di sudut jiwa


Tahun ini bukan tahun gajah yang agung
Tapi tahun kecoa bertakhta kegelapan, bermahkota bau dan rupa yang hina
Selumbari sang kancil melantunkan syair kebenaran
Senja esoknya si kancil mengunyah timun curian


Ohh.. Tuhan indahkah hidup sebagai manusia?
Atau hanya topeng yang kita kenakan?
Ohh.. mungkinkah dunia binatang
Lebih jujur dari dunia kami.


Bukan Perahu Nuh

Linda… Linda,
Usai sudah pelayaran mu disamudra
Lin… kenalmu padaku Karena kapal kita menangkap ikan yang sama
Kau ke selatan aku ke barat

Lin… tch
dermaga milik ku Berdebu melihat mu hanya melewat
Tidak diam meski sebetar
Untuk sekedar minum teh Bersama

Lin…
Linda – Linda
Baju jirah yang kita rajut bersamaan dengan jaring ikan
Kini hanya terpajang dilemari belakang
Kini hanya menggantung dilemari kapal

Mimpiku berisi tanya
Salahkah menunggu nelayan pintar dipelabuhan?
Kucari jawab
Dimana jawaban adakah jawaban

Dengan menyebut nama tuhan
Yang maha menyayangi
Aku ikhlas jangkar besi mu
Tembus di dadaku.


Juni Di Ujung Napas Bunga

Juni datang seperti surat
Yang tak pernah kau kirimkan padaku
Harum yang sampai, dari kelopak yang gugur
Di atas batu nisan bernama kenangan.

Di halaman sunyi bunga – bunga mekar
Seolah tau luka adalah musim yang tak bisa ditunda
Dan angin pagi pun belajar menangis
dengan suara paling tenang.

Juni, bulan yang tak pandai tertawa
Tapi pandai Menyusun duka menjadi nyanyian: Sepotong hujan, dan seikat rindu
Dan Langkah – Langkah kecil yang terus mencoba
Meski jalan berbatu dan waktu enggan diam.

Kau ajarkan padaku bahwa kesedihan bisa wangi
Seperti kamboja di pemakaman yang tabah,
Dan tawa bisa lahir dari luka,
Yang sudah tak berdarah

Di dadamu, Juni
Aku belajar menjadi bunga
Yang tetap mekar meski musim tak pernah adil.

Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *