
[Sumber gambar: https://pustakaalbahjah.com/]
Penulis: Dirlly Ibrahim Araya Suhendar
Rahasia yang Tumbuh di Antara Sunyi
Di antara sunyi yang tak bernama,
aku menemukan diriku sendiri
retak, namun masih bernapas,
lelah, tapi enggan menyerah.
Malam menggulung waktu perlahan,
menyimpan kata yang gagal diucap,
sebab tidak semua rasa
butuh suara untuk dimengerti.
Aku belajar dari gelap,
bahwa jatuh bukan akhir,
melainkan jeda agar kaki
mengenal tanah dengan jujur.
Angin membawa sisa doa,
terbang tanpa alamat,
namun entah mengapa
selalu tiba di hati yang tepat.
Jika esok cahaya datang,
biarlah ia menemukan aku
sebagai seseorang
yang pernah hancur,
namun memilih tumbuh
dalam diam.
________________________________________
Jam yang Berhenti
Kesunyian duduk di kursi sore
menyandarkan punggung pada jam yang berhenti,
waktu tak lagi berdetak, hanya menatapku
dengan mata yang lupa bernama.
Aku menyebut namamu pelan,
namun gema menolak kembali.
Dinding-dinding menjadi telinga
yang memilih tidak mendengar.
Malam pun menutup pintunya,
meninggalkan aku dan bayanganku
bercakap tanpa suara,
tentang kehilangan yang tak pernah selesai.
________________________________________
Ruang Tanpa Jejak
Di ruang ini, sunyi tumbuh seperti debu
menempel di cahaya yang enggan jatuh.
Langkah-langkah pernah ada,
kini hanya bekas ragu di lantai ingatan.
Aku duduk di antara kata yang batal diucapkan,
menunggu sesuatu yang tak datang.
Kesunyian mengajari napas
cara bertahan tanpa harapan.
Ketika pintu akhirnya tertutup sepenuhnya,
aku paham:
sunyi bukan ketiadaan,
melainkan kehadiran yang terlalu dalam untuk disebut.












Tinggalkan Balasan