
[Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/]
Penulis: Ahmad Abdul Latief
NURANI YANG MATI
Di balik pilar-pilar marmer yang menjulang,
tawa bergema di atas tulang-tulang sejarah.
Bukan musuh dari seberang samudra yang menindas,
melainkan saudara sendiri yang meruntuhkan martabat bangsa.
Mereka menenun janji dari benang sutra kata,
lalu melilitkan simpulnya di leher rakyat
hingga suara berubah bisu.
Di meja perjamuan, doa dikunyah rakus,
keringat buruh ditelan,
air mata janda diteguk tanpa sisa.
Pena emas menari lincah di atas kertas hukum,
menggambar keadilan yang pincang dan berat sebelah.
Yang lemah dibiarkan berdarah dalam sunyi,
sementara perut kekuasaan terus membesar oleh kelimpahan.
Tak lagi terdengar detak di dada kiri mereka,
hanya deru mesin uang yang bekerja siang dan malam.
Gedung-gedung menjulur menembus langit muram,
menutup rapat rumah-rumah kecil yang nyaris padam.
Negeri ini bukan runtuh oleh gempa atau badai,
melainkan oleh hati pemimpinnya yang membeku.
Wahai penguasa yang terlena oleh singgasana,
ingatlah: tanah yang kau injak adalah saksi paling setia.
Sebab ketika nurani mati dan membusuk di istana,
kekuasaan hanyalah tubuh tanpa jiwa
seonggok mayat yang masih berjalan,
menunggu waktu untuk benar-benar tumbang.
________________________________________
ISTANA TANPA JENDELA
Di balik tembok istana yang licin oleh pujian,
tawa menggantung seperti asap di ruang tertutup.
Mereka berbicara tentang kesejahteraan
sambil menutup jendela dari jerit lapar
yang datang dari luar pagar.
Janji disusun rapi di atas meja rapat,
dipoles kata, disegel materai kekuasaan.
Sementara itu, di gang-gang sempit,
anak-anak belajar membaca dari dinding runtuh
dan harapan yang sobek.
Istana itu berdiri megah tanpa jendela,
tak pernah ingin melihat wajah rakyatnya.
Dan bila kelak bangunan itu roboh,
yang tersisa hanyalah debu
dan gema suara yang dulu diabaikan.
________________________________________
TIMBANGAN YANG RETAK
Mereka mengangkat timbangan ke tengah alun-alun,
menjanjikan keadilan bagi siapa saja.
Namun diam-diam, salah satu sisinya diberi emas,
agar selalu condong ke arah kekuasaan
dan menjatuhkan yang lemah.
Hukum ditulis dengan tinta yang mudah luntur,
bisa dihapus oleh uang dan jabatan.
Di bawahnya, orang-orang kecil
mengantre luka dan kecewa,
tanpa pernah dipanggil namanya.
Ketika timbangan itu akhirnya patah,
tak ada lagi yang bisa diukur selain kehancuran.
Keadilan runtuh bersama wajah-wajah palsu,
meninggalkan negeri ini
di hadapan cermin yang retak.












Tinggalkan Balasan