
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri, lebih akrab kita panggil Gus Mus, pertama kali terbit tahun 2003 dan sudah mengalami empat kali cetak ulang. Fakta ini menunjukkan bahwa karya-karya Gus Mus yang bertema pesantren memiliki tempat tersendiri di hati pembaca. Ada daya tarik yang tidak lekang: kehangatan, kedekatan, dan suasana religius yang begitu khas dunia santri. Kumpulan cerpen berisi lima belas kisah ini ditulis pada tahun 2002–2003, sebuah periode yang menunjukkan kematangan beliau dalam menangkap denyut kehidupan masyarakat pesantren.
Cerita-cerita dalam Lukisan Kaligrafi bergerak di sekitar kehidupan kyai, santri, ustaz, alumni pesantren, masyarakat kampung (yang sering disebut “orang pintar”), serta rutinitas ibadah dan pendidikan. Tema-tema tersebut terasa “melekat” karena menjadi cermin keseharian pembaca Indonesia yang mayoritas tidak asing dengan dunia pesantren entah pernah belajar di pesantren, tinggal di lingkungan pesantren, atau sekadar ikut merasakan atmosfernya dalam keseharian masyarakat.
Sapardi Djoko Damono pernah mengemukakan bahwa hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat adalah hubungan timbal balik. Sastra lahir dari masyarakat, dan kembali dikonsumsi oleh masyarakat yang sama. Bahasa yang digunakan pengarang adalah bahasa dari komunitas sosialnya. Karena itu, karya sastra akan efektif dan “mengena” apabila mampu menggambarkan kehidupan yang akrab dengan pembacanya. Lukisan Kaligrafi adalah bukti nyata hubungan itu: cerita-ceritanya dekat, akrab, bahkan seperti menghidupkan kenangan banyak orang tentang masa-masa di pesantren.
Salah satu kedekatan paling kuat terlihat pada diksi yang dipilih Gus Mus. Dalam beberapa cerpen, sapaan “Gus”, sebutan untuk putra kyai, digunakan apa adanya: “Gus Jakfar”, “Gus Muslih”. Ada pula sapaan “Kang” seperti dalam “Kang Amin” atau “Kang Kasanun”. Penggunaan panggilan ini bukan sekadar gaya, tetapi strategi literer untuk menebas jarak antara dunia rekaan dan dunia nyata. Pembaca seolah tidak sedang membaca cerpen, tetapi mengikuti cerita tentang orang-orang yang mereka kenal di kampung sebelah.
Kedekatan itu semakin terasa ketika Gus Mus menggambarkan suasana khas pesantren. Dalam cerpen “Ning Ummi” misalnya, kita diajak masuk ke hiruk pikuk persiapan ketika seorang kyai hendak menikahkan putrinya. Para santri sibuk memasang tenda, mengatur kursi, menyiapkan hidangan, dan menjalankan tugas-tugas kecil yang kadang terlihat sepele tetapi sangat akrab dalam kehidupan pondok. Gambaran ini begitu hidup karena saya sendiri pernah mengalami atmosfer serupa: suasana gaduh yang penuh tawa, semangat gotong royong, dan rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar pesantren.
Gus Mus juga membangun kedekatan melalui penggambaran tokoh kyai. Dalam cerpen seperti “Gus Jakfar”, “Gus Muslih”, atau “Mubalig Kondang”, kyai digambarkan sebagai figur yang bukan hanya dihormati, tetapi juga memiliki karomah tertentu. Dalam masyarakat, cerita-cerita tentang keutamaan kyai masih hidup: doa yang mustajab, nasihat yang menentramkan, atau isyarat-isyarat gaib yang mengandung hikmah. Penggambaran itu membuat pembaca yang berasal dari latar serupa merasa diterima dan dihargai, karena mereka dapat melihat kembali nilai-nilai religius yang akrab dalam keseharian.
Salah satu aspek paling kuat dari Lukisan Kaligrafi adalah kehadiran pesan moral. Gus Mus tidak pernah menggurui; moral hadir dengan lembut, kadang tersurat, lebih sering tersirat. Ada pesan tentang keikhlasan, kesederhanaan, kesalehan, dan penghormatan terhadap guru. Ada kisah yang mengajarkan pentingnya ucapan yang baik, atau bagaimana kesabaran seorang santri menghadapi kehidupan yang keras di pesantren akhirnya membuahkan kebaikan. Dalam cerpen “Gus Jakfar”, misalnya, tokoh utama menunjukkan kebeningan hati yang membuat pembaca merenung: bagaimana kesalehan kadang hadir dari hal-hal yang sederhana.
Nilai moral inilah yang membuat kumpulan cerpen ini begitu dekat dan relevan dengan pembaca berbagai generasi. Tidak hanya bagi mereka yang pernah mondok, tetapi juga bagi siapa pun yang merindukan suasana religius yang ramah, menyejukkan, dan penuh humor khas pesantren.
Sebagai seseorang yang punya pengalaman di lingkungan pesantren, membaca Lukisan Kaligrafi seperti membuka pintu nostalgia. Aroma dapur pondok, suara ngaji selepas magrib, canda para santri saat bekerja bakti, dan wibawa seorang kyai yang dihormati semuanya seperti hidup kembali. Setiap cerpen membawa saya pada kenangan masa muda, pada suara lantunan kitab kuning, pada malam-malam panjang yang dipenuhi doa.
Akhirnya, Lukisan Kaligrafi tidak hanya menjadi kumpulan cerita tentang pesantren. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, sebuah karya yang menjaga memori kolektif masyarakat Indonesia tentang dunia pesantren dunia yang sederhana namun penuh cahaya. Semoga buku ini terus dibaca, terus dikenang, dan terus menjadi pelita kecil bagi siapa pun yang rindu suasana pesantren.












Tinggalkan Balasan