Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Peranan Orang Tua dalam Kegiatan Belajar Anak

[Sumber gambar: https://smpn38sby.sch.id/]

Penulis: Maulana Munajat

Perubahan dalam lanskap pendidikan beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak signifikan pada proses pembelajaran anak usia sekolah dasar. Implementasi pembelajaran berbasis rumah di masa pasca pandemi COVID-19, yang kemudian berkembang menjadi pembelajaran tatap muka, pembelajaran offline terbatas, dan pembelajaran hibrida, telah menggeser sebagian tanggung jawab pendidikan formal dari sekolah ke lingkungan keluarga. Dalam konteks ini, orang tua tidak lagi hanya berperan sebagai pendukung pendidikan pasif bagi anak-anak mereka, tetapi telah menjadi aktor kunci yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran sehari-hari. Situasi ini menjadikan peran orang tua dalam kegiatan belajar anak di rumah sebagai isu yang sangat relevan dan penting yang layak untuk dikaji secara mendalam.

Anak-anak usia sekolah dasar berada dalam fase perkembangan kognitif dan psikososial yang sangat membutuhkan bimbingan, arahan, dan dukungan dari lingkungan terdekat mereka. Pada tahap ini, anak-anak belum memiliki kemandirian belajar yang matang, sehingga keterlibatan orang dewasa, terutama orang tua, merupakan faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran. Berbagai studi pendidikan menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memberikan kontribusi signifikan terhadap motivasi belajar anak, pembentukan kebiasaan belajar, perkembangan karakter, dan bahkan prestasi akademik. Oleh karena itu, memahami bagaimana orang tua memainkan peran mereka, faktor-faktor yang memengaruhinya, dan implikasinya terhadap perkembangan anak sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar.

Secara konseptual, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak telah lama menjadi perhatian para ahli. Epstein (2011), melalui teorinya tentang kemitraan sekolah-keluarga, menekankan bahwa keluarga adalah salah satu lingkungan pendidikan utama yang memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan belajar anak. Orang tua berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menyediakan fasilitas belajar, menjalin komunikasi dengan sekolah, dan memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan anak. Dalam konteks pembelajaran di rumah, peran-peran ini menjadi lebih menonjol dan membutuhkan keterlibatan yang lebih intensif.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua orang tua mampu memenuhi peran ini secara optimal. Perbedaan latar belakang pendidikan, tuntutan pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, dan literasi pedagogis merupakan faktor yang memengaruhi variasi keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran anak di rumah. Banyak orang tua memiliki keinginan kuat untuk membantu anak-anak mereka tetapi terbatas oleh waktu dan pemahaman tentang materi pelajaran. Di sisi lain, beberapa orang tua lebih fokus pada penyediaan fasilitas belajar tanpa dukungan emosional dan akademis yang memadai. Situasi ini menciptakan dinamika yang menarik dalam praktik pembelajaran di rumah.

Dalam studi pendidikan kontemporer, keterlibatan orang tua dipahami tidak hanya sebagai bantuan akademis tetapi juga sebagai dukungan emosional dan sosial yang membentuk motivasi dan sikap belajar anak. Jeynes (2012), melalui meta-analisisnya, menyimpulkan bahwa dukungan emosional orang tua memiliki pengaruh yang lebih konsisten terhadap motivasi dan sikap belajar daripada bantuan akademis langsung. Temuan ini menunjukkan bahwa peran orang tua sebagai motivator dan pemberi penguatan emosional sangat penting, terutama untuk anak-anak usia sekolah dasar yang masih sangat bergantung pada penguatan eksternal.

Dalam konteks pembelajaran di rumah, orang tua umumnya memainkan beberapa peran kunci, yaitu sebagai fasilitator, pendamping belajar, motivator, dan pengawas. Peran-peran ini diwujudkan melalui penyediaan sumber daya dan infrastruktur pembelajaran, seperti buku, alat tulis, perangkat digital, dan akses internet. Fasilitas belajar yang memadai merupakan prasyarat dasar untuk proses pembelajaran yang sukses. Lingkungan rumah yang rapi, nyaman, dan bebas gangguan juga memainkan peran penting dalam membantu anak-anak berkonsentrasi saat belajar.

Selain berperan sebagai fasilitator, orang tua juga berperan sebagai pendamping belajar atau mentor. Dukungan ini meliputi membantu anak-anak memahami materi pelajaran, membantu mereka mengerjakan tugas, dan memberikan penjelasan tambahan ketika mereka mengalami kesulitan. Namun, peran ini seringkali menghadirkan tantangan bagi orang tua, terutama ketika materi pelajaran dianggap sulit atau tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Hill dan Tyson (2009) menekankan bahwa keterlibatan orang tua dalam aspek akademik sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kepercayaan diri orang tua dalam membantu anak-anak mereka belajar.

Peran orang tua sebagai motivator merupakan aspek paling menonjol dalam homeschooling. Dorongan verbal, nasihat, pujian, dan bentuk dukungan emosional lainnya telah terbukti dapat mempertahankan antusiasme anak-anak untuk belajar, terutama ketika mereka mengalami kebosanan karena rutinitas homeschooling. Motivasi belajar anak usia sekolah dasar masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat mereka, sehingga sikap positif orang tua terhadap pembelajaran akan secara langsung berdampak pada sikap anak mereka. Uno (2016) menjelaskan bahwa motivasi belajar anak pada usia ini cenderung ekstrinsik dan membutuhkan penguatan yang konsisten dari orang dewasa.

Selain itu, orang tua juga berperan sebagai pengawas atau agen pemantau dalam kegiatan belajar anak-anak mereka. Pengawasan ini meliputi penetapan jadwal belajar, pemantauan penyelesaian tugas, dan pengendalian penggunaan perangkat. Peran pengawasan ini sangat penting mengingat anak-anak usia sekolah dasar masih kurang memiliki keterampilan pengaturan diri yang kuat. Tanpa pengawasan yang memadai, anak-anak rentan terhadap gangguan, penundaan, dan penurunan disiplin dalam belajar.

Keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar anak di rumah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor kuncinya adalah ketersediaan waktu. Orang tua dengan beban kerja yang berat seringkali kesulitan menemukan waktu untuk mendukung pembelajaran anak-anak mereka secara intensif. Slameto (2015) menyatakan bahwa peran ganda orang tua sebagai pekerja dan pendidik di rumah seringkali menyebabkan konflik peran, yang berdampak pada kualitas dukungan untuk pembelajaran anak-anak mereka.

Faktor berpengaruh lainnya adalah pemahaman orang tua tentang materi pelajaran dan strategi pembelajaran. Literasi pedagogis yang rendah dapat melemahkan kepercayaan diri orang tua dalam membantu anak-anak mereka belajar, sehingga mereka menyerahkan proses pembelajaran sepenuhnya kepada sekolah. Namun, pembelajaran di rumah membutuhkan sinergi antara sekolah dan keluarga untuk memastikan anak-anak menerima pengalaman belajar yang konsisten dan berkelanjutan.

Motivasi dan karakteristik anak juga memengaruhi tingkat keterlibatan orang tua. Anak-anak yang menunjukkan kebosanan, kesulitan belajar, atau cenderung mudah teralihkan perhatiannya membutuhkan dukungan yang lebih intensif. Sebaliknya, anak-anak yang lebih mandiri cenderung membutuhkan pengawasan yang lebih sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua bersifat dinamis dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik anak.

Implikasi keterlibatan orang tua terhadap motivasi dan perilaku belajar anak tampak cukup signifikan. Anak-anak yang menerima dukungan dan bimbingan yang konsisten cenderung memiliki jadwal belajar yang lebih teratur, tingkat penyelesaian tugas yang lebih tinggi, dan sikap yang lebih positif terhadap pembelajaran. Lingkungan rumah yang mendukung membantu anak-anak merasa aman secara emosional, sehingga mereka lebih siap menghadapi tantangan belajar. Temuan ini sejalan dengan Teori Penentuan Diri Ryan dan Deci (2000), yang menekankan bahwa dukungan sosial dari lingkungan terdekat dapat memperkuat motivasi intrinsik dan keterlibatan belajar anak.

Sebaliknya, minimnya keterlibatan orang tua berpotensi mengurangi fokus dan disiplin anak dalam belajar. Anak-anak yang belajar tanpa bimbingan dan pengawasan cenderung lebih mudah teralihkan perhatiannya dan kurang memiliki kebiasaan belajar yang terstruktur. Hal ini dapat berdampak jangka panjang pada sikap anak terhadap pembelajaran dan prestasi akademiknya.

Dari perspektif Bimbingan dan Konseling Islam, peran orang tua dalam kegiatan belajar anak memiliki dimensi yang lebih luas. Orang tua dipandang sebagai al-murabi al-awwal, yaitu pendidik utama yang bertanggung jawab atas perkembangan intelektual, emosional, moral, dan spiritual anak. Ramayulis (2013) menekankan bahwa pendidikan dalam Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter. Oleh karena itu, kegiatan belajar di rumah dapat menjadi sarana menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, disiplin, kesabaran, dan kejujuran.

Mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran di rumah dapat dicapai melalui pendekatan persuasif dan teladan. Orang tua yang mengaitkan kegiatan belajar dengan nilai-nilai agama dan tanggung jawab moral cenderung menumbuhkan motivasi intrinsik yang lebih kuat pada anak-anak mereka. Anwar (2017) menyatakan bahwa bimbingan dan konseling Islam menekankan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam proses pendidikan, sehingga anak-anak tidak hanya menjadi cerdas secara akademis tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Diskusi mengenai peran orang tua dalam pembelajaran di rumah juga menyoroti pentingnya sinergi antara sekolah dan keluarga. Sekolah tidak dapat sepenuhnya mendelegasikan tanggung jawab pembelajaran kepada orang tua, dan sebaliknya. Komunikasi yang efektif dan program dukungan orang tua diperlukan untuk memastikan orang tua memiliki pemahaman yang cukup tentang kurikulum, metode pembelajaran, dan bagaimana mendukung anak-anak mereka secara efektif. Program konseling dan pelatihan orang tua, seperti yang disarankan oleh Subakti (2025), dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas keterlibatan orang tua dalam pembelajaran di rumah.

Meskipun keterlibatan orang tua telah terbukti berdampak positif pada motivasi dan perilaku belajar anak, penting untuk menyadari bahwa keterlibatan ini tidak selalu secara langsung diterjemahkan ke dalam prestasi akademik yang terukur. Namun, keterlibatan orang tua dapat dipahami sebagai fondasi untuk mengembangkan kebiasaan belajar positif yang akan berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, peran orang tua relevan tidak hanya dalam konteks pembelajaran di rumah tetapi juga sepanjang perjalanan pendidikan anak.

Kesimpulannya, peran orang tua dalam kegiatan belajar anak usia sekolah dasar di rumah merupakan faktor kunci dalam mendukung motivasi, perilaku belajar, dan perkembangan karakter mereka. Orang tua memainkan berbagai peran sebagai fasilitator, pendamping, motivator, dan pengawas, dengan dukungan emosional sebagai faktor dominan. Meskipun keterbatasan waktu dan literasi pedagogis merupakan tantangan utama, keterlibatan orang tua tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas pembelajaran di rumah. Dengan mengintegrasikan perspektif pendidikan umum dengan nilai-nilai Bimbingan dan Konseling Islam, peran orang tua dapat dipahami secara lebih holistik sebagai pendidik utama yang berkontribusi pada kesejahteraan akademik dan psikologis anak. Esai ini menekankan bahwa penguatan peran orang tua melalui sinergi dengan sekolah merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di era pembelajaran yang semakin berorientasi pada rumah dan keluarga.

Dengan demikian, penguatan peran orang tua menjadi kunci yang strategis dalam keberlanjutan Pendidikan dasar yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan karakter anak secara berkelanjutan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *