
[Sumber gambar: https://rspp.co.id/]
Penulis: Najla Zahidah
Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. Dengan adanya media sosial, mereka saling terhubung, membangun relasi dan mengekspresikan diri. Namun kebiasaan yang dialami remaja masa kini sering kali tidak disadari adalah fear of missing out (FoMO), yaitu perasaan takut tertinggal informasi, pengalaman, atau pengakuan sosial yang dialami orang lain. Psikolog Andrew Przybylski menjelaskan bahwa FoMO berkaitan dengan kebutuhan akan keterhubungan sosial yang tidak terpenuhi secara optimal.
Hal ini membentuk cara remaja memandang dirinya sendiri. Apa yang mereka lihat di media sosial dijadikan tolak ukur untuk menilai apakah diri mereka cukup menarik, aktif, atau diterima. Ketika merasa tidak berada di posisi yang sama, muncul perasaan takut tertinggal, cemas, bahkan takut tidak dianggap. Dalam kondisi ini, FoMO sebagai kegelisahan emosional yang memengaruhi rasa percaya diri dan kenyamanan siswa dalam berinteraksi.
Perasaan ini tidak selalu muncul dalam bentuk kegelisahan yang disadari sepenuhnya. Sering kali, FoMO hadir lewat keinginan mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan, atau kebutuhan menampilkan diri agar tetap terlihat “ada”. Tanpa disadari, remaja mulai menyesuaikan perilaku dan citra dirinya demi menjaga posisi dalam lingkaran sosial, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Dari percakapan dengan guru BK di sekolah, terlihat bahwa interaksi antarsiswa tidak berhenti di ruang kelas. Relasi pertemanan justru berlanjut di media sosial, yang terus memantulkan dinamika pergaulan sehari-hari. Siapa yang dianggap populer, siapa yang sering terlihat bersama kelompok tertentu, hingga siapa yang aktif di media sosial, perlahan membentuk pola pergaulan yang memengaruhi rasa percaya diri remaja. Dalam situasi seperti ini, FoMO semakin meningkat, karena siswa merasa perlu terus menyesuaikan diri agar tidak tertinggal dari teman-temannya.
Tekanan semacam ini membuat sebagian remaja berusaha keras untuk tidak terlihat berbeda. Ada yang memaksakan diri mengikuti tren, ada juga yang memilih menarik diri karena merasa tidak mampu mengejar standar pergaulan di sekitarnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi rasa percaya diri dan membuat relasi sosial terasa melelahkan, karena dijalani bukan atas dasar kenyamanan, melainkan takut dikucilkan.
Dalam situasi seperti ini, remaja sering kesulitan memisahkan kapan harus hadir sebagai siswa dan kapan sebagai pengguna media sosial. Dorongan untuk tetap terhubung sering kali lebih dominan dibandingkan kesadaran akan aturan dan etika yang berlaku di sekolah. Akibatnya, batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin samar, sementara tekanan untuk selalu “online” terus membayangi keseharian mereka.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat remaja merasa lelah secara emosional. Mereka terus berusaha memenuhi ekspektasi yang berubah-ubah, baik dari lingkungan sosial maupun dari citra ideal yang mereka lihat di media sosial. Dimana media sosial seharusnya menjadi ruang berekspresi, justru berubah menjadi sumber tekanan yang mengurangi rasa aman dan kenyamanan dalam menjalani keseharian.
Dalam kondisi psikososial yang demikian, peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) menjadi sangat penting. Guru BK berada di posisi strategis untuk membaca dinamika psikososial siswa, termasuk gejala-gejala FoMO yang sering kali tidak diungkapkan secara langsung. FoMO jarang datang sebagai masalah yang diungkapkan secara langsung, tetapi seringkali hadir melalui perubahan perilaku, penurunan fokus belajar, atau konflik relasi sosial.
Pendekatan guru BK dalam menghadapi FoMO tidak dapat dilakukan dengan hanya penerapan aturan. Remaja yang mengalami FoMO tidak membutuhkan larangan semata, melainkan pemahaman dan pendampingan. Oleh karena itu, pendekatan edukatif dan psikoedukatif menjadi kunci utama.
Melalui edukasi, guru BK membantu siswa memahami etika bermedia sosial, konsekuensi dari perilaku digital, serta pentingnya menjaga citra diri dan nama baik sekolah. Namun lebih dari itu, psikoedukasi berfokus pada kesadaran diri siswa: mengapa mereka merasa perlu selalu terhubung, dari mana rasa cemas itu muncul, dan bagaimana cara mengelolanya secara sehat.
Pendampingan seperti ini mengajak siswa untuk melihat dan memahami pengalamannya sendiri, bukan menyalahkan mereka. Guru BK hadir sebagai tempat berdialog, bukan hanya sosok yang memberi batasan. Dalam suasana yang aman dan mendukung, siswa pun lebih leluasa bercerita tentang pengalaman bermedia sosialnya, termasuk tekanan dan kegelisahan yang mereka rasakan.
Strategi komunikasi dialogis menjadi fondasi penting dalam proses ini. Pertanyaan terbuka, empati, dan sikap yang tidak menghakimi membantu membangun kepercayaan antara siswa dan guru BK. Ketika siswa merasa didengar dan dipahami, mereka lebih terbuka untuk berbagi cerita serta perasaan yang selama ini mereka alami.
Komunikasi yang suportif membantu siswa menyadari bahwa nilai diri mereka tidak hanya bergantung pada jumlah likes, komentar, atau perhatian di media sosial. Perlahan, siswa diajak mengalihkan fokus dari pencarian pengakuan di luar diri menuju penguatan dari dalam, seperti mengenali perasaan sendiri, belajar mengelola emosi, dan menghargai pengalaman pribadi yang mereka jalani.
Di tengah penggunaan gawai yang semakin menjadi bagian dari keseharian siswa, layanan BK perlu terus menyesuaikan diri. FoMO muncul seiring perubahan cara remaja berinteraksi di era digital, sehingga penanganannya tidak bisa dilepaskan dari konteks tersebut. Guru BK dituntut untuk lebih peka membaca perubahan-perubahan kecil pada siswa, baik yang tampak di ruang kelas maupun yang tercermin dari perilaku mereka di dunia digital.
Inovasi layanan BK di era digital dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari bimbingan kelompok bertema literasi digital, diskusi reflektif tentang kesehatan mental, hingga pemanfaatan media digital sebagai sarana edukasi yang lebih ramah bagi siswa. Pendekatan yang bersifat preventif menjadi semakin penting agar FoMO tidak berkembang menjadi tekanan psikologis yang lebih serius dan berkepanjangan.
Penanganan FoMO bertujuan membantu remaja membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital. Sekolah melalui peran guru BK memiliki tanggung jawab penting untuk menghadirkan ruang aman bagi remaja dalam memahami diri mereka di tengah derasnya arus informasi. Dengan pendampingan yang empatik dan menyesuaikan kebutuhan siswa, mereka dapat belajar bahwa tidak semua hal perlu diikuti, tidak setiap momen harus dibagikan, dan tidak semua rasa berharga harus datang dari pengakuan orang lain.
Pada akhirnya, mengelola FoMO berarti membantu remaja memahami bahwa tidak semua hal harus dihadiri dan tidak semua momen harus dijalani. Di tengah tuntutan kehadiran yang terus-menerus, kemampuan untuk berkata “cukup” menjadi keterampilan hidup yang bernilai. Di sinilah pendidikan, konseling, dan literasi digital berperan untuk mendampingi remaja agar mampu hidup lebih sehat dalam dunia digital yang mereka hadapi.
Selain berdampak pada relasi sosial, FoMO juga memiliki implikasi terhadap proses belajar remaja di sekolah. Dorongan untuk terus memantau perkembangan di media sosial sering kali mengganggu konsentrasi belajar dan kemampuan mengelola waktu. Remaja menjadi lebih mudah terdistraksi, sulit fokus dalam jangka waktu yang lama, dan cenderung merasa gelisah ketika tidak dapat mengakses gawai. Dalam konteks ini, tekanan FoMO tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga berpengaruh pada aspek akademik dan kedisiplinan siswa.
Kondisi tersebut kerap menimbulkan dilema bagi remaja. Di satu sisi, mereka dituntut untuk hadir secara optimal sebagai siswa yang mengikuti aturan sekolah. Di sisi lain, mereka juga merasa perlu mempertahankan eksistensi sosial di ruang digital agar tidak tertinggal dari lingkungan pergaulan. Ketegangan antara tuntutan akademik dan kebutuhan sosial ini sering kali tidak diungkapkan secara terbuka, tetapi muncul dalam bentuk kelelahan emosional, penurunan motivasi belajar, atau sikap acuh terhadap lingkungan sekolah.
Di sinilah layanan Bimbingan dan Konseling memiliki peran yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga pengembangan. Guru BK tidak sekadar hadir ketika masalah sudah tampak jelas, melainkan sejak awal membantu siswa mengenali dinamika emosional yang sedang mereka alami. Dengan memahami bahwa FoMO merupakan bagian dari tantangan perkembangan remaja di era digital, layanan BK dapat menjadi ruang yang relevan dan dekat dengan realitas kehidupan siswa sehari-hari.
Pendekatan edukatif dalam konteks ini tidak berhenti pada penyampaian informasi atau aturan penggunaan gawai. Edukasi yang diberikan perlu menyentuh pengalaman nyata siswa, misalnya melalui diskusi tentang bagaimana media sosial memengaruhi perasaan, cara berpikir, dan relasi mereka dengan teman sebaya. Ketika siswa diajak merefleksikan pengalaman tersebut, mereka mulai menyadari bahwa rasa cemas atau takut tertinggal yang dialami bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan pola penggunaan media digital.
Sementara itu, pendekatan psikoedukatif memberikan ruang yang lebih dalam bagi siswa untuk memahami diri mereka. Melalui proses ini, siswa diajak mengenali emosi yang muncul ketika melihat unggahan orang lain, memahami kebutuhan akan pengakuan sosial, serta belajar membedakan antara keinginan yang realistis dan tekanan yang sebenarnya tidak harus dipenuhi. Proses ini membantu siswa membangun kesadaran bahwa tidak semua hal di media sosial mencerminkan realitas, dan tidak semua perbandingan perlu dijadikan standar untuk menilai diri sendiri.
Pendampingan yang dilakukan guru BK dalam suasana dialogis memungkinkan siswa merasa lebih aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan. Ketika siswa merasa diterima apa adanya, mereka lebih mampu membuka diri dan melihat permasalahan yang dihadapi dengan sudut pandang yang lebih jernih. Dari sinilah proses perubahan perlahan dapat terjadi, bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran yang tumbuh dari dalam diri siswa.
Komunikasi yang empatik dan suportif juga membantu siswa memahami bahwa pengalaman setiap individu berbeda-beda. Apa yang terlihat menyenangkan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Dengan pemahaman ini, siswa mulai belajar mengurangi kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan dan lebih menghargai proses serta pengalaman personal yang mereka miliki. Nilai diri tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa sering mereka muncul di media sosial, tetapi dari bagaimana mereka mengenali dan menerima diri sendiri.
Dalam konteks sekolah, upaya ini perlu didukung oleh lingkungan yang konsisten dan peduli terhadap kesehatan mental siswa. Kolaborasi antara guru BK, guru mata pelajaran, pihak sekolah, dan orang tua menjadi penting agar pesan yang diterima siswa tidak saling bertentangan. Ketika sekolah mampu menghadirkan iklim yang mendukung keseimbangan antara kehidupan akademik dan digital, siswa akan lebih mudah belajar mengelola FoMO secara sehat.
Pemanfaatan media digital oleh layanan BK juga dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menjangkau siswa. Guru BK dapat memanfaatkannya sebagai sarana edukasi yang lebih dekat dengan keseharian remaja. Konten reflektif, pesan-pesan penguatan, atau diskusi ringan tentang kesehatan mental dapat membantu siswa merasa bahwa sekolah hadir dan memahami dunia mereka, termasuk dunia digital yang mnjadi bagian hidup mereka sehari-hari.
Dengan mempertimbangkan berbagai dinamika perilaku dan tekanan sosial yang telah dijelaskan, pada akhirnya FoMO memang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Namun, dengan pendampingan yang tepat, FoMO dapat dikelola agar tidak berkembang menjadi tekanan yang merugikan. Remaja perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, mengenali batas diri, dan memahami bahwa ketidakhadiran dalam suatu momen bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari pilihan hidup yang wajar. Dengan cara ini, remaja dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya terhubung secara sosial, tetapi juga nyaman dan percaya diri dengan dirinya sendiri di tengah derasnya arus informasi.













Tinggalkan Balasan