
[Sumber gambar: https://um.ac.id/]
Penulis: Nazwa Nurulia Assyfa
Kemajuan teknologi digital telah membuat media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan remaja. Bagi siswa sekolah menengah pertama, khususnya kelas IX, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk berinteraksi, membangun citra diri, dan menyalurkan perasaan. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan dan tidak terkontrol dapat membawa dampak negatif, terutama terhadap kemampuan remaja dalam mengatur emosinya.
Regulasi emosi merupakan kemampuan individu untuk memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi. Pada masa remaja, kemampuan ini masih berkembang sehingga mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal. Media sosial menjadi salah satu faktor yang cukup kuat karena menyajikan berbagai konten dan interaksi sosial secara terus-menerus. Akibatnya, remaja sering mengalami perubahan suasana hati secara cepat, misalnya dari perasaan biasa saja menjadi sedih, cemas, atau marah setelah mengakses media sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkaitan dengan kesulitan remaja dalam mengelola emosi negatif. Komentar yang bersifat negatif, konten yang memicu perbandingan sosial, serta interaksi yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, seperti kesal, tersinggung, atau minder. Emosi-emosi tersebut kerap sulit dikendalikan dan berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk konsentrasi belajar dan hubungan sosial di lingkungan nyata.
Selain itu, ketergantungan terhadap respons sosial di media sosial juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Banyak remaja menilai harga diri mereka berdasarkan jumlah like atau komentar yang diterima. Ketika respons yang didapat tidak sesuai dengan harapan, muncul perasaan cemas dan kurang percaya diri. Sebaliknya, respons positif hanya memberikan kepuasan emosional sementara. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi emosi remaja masih sangat dipengaruhi oleh penilaian orang lain di dunia digital.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, sekolah memiliki peran yang sangat penting, terutama melalui layanan bimbingan dan konseling. Sekolah dapat memberikan edukasi literasi digital agar siswa memahami dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan emosional. Selain itu, layanan bimbingan dan konseling juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan regulasi emosi, seperti mengenali emosi, mengelola perasaan negatif, serta bersikap lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Dengan demikian, media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap regulasi emosi remaja. Apabila digunakan secara tepat, media sosial dapat memberikan manfaat, namun jika digunakan tanpa kontrol, dapat mengganggu kestabilan emosional siswa. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif sekolah dan kesadaran siswa agar penggunaan media sosial dapat mendukung perkembangan emosional yang sehat di era digital.












Tinggalkan Balasan