
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Zulpa Siti Nurul Azizah
Judul: Pada Sebuah Kapal
Penulis: Nh. Dini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : November, 1985
ISBN: 9789792249729
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang dikenal dengan nama pena Nh. Dini lahir di Semarang, 29 Februari 1936 dan meninggal pada 4 Desember 2018. Seorang sastrawan, novelis perempuan berkebangsaan Indonesia. Nh. Dini baru menyadari bahwa bakat ke penulisannya muncul ketika gurunya di sekolah mengatakan bahwa tulisannya merupakan yang terbaik di antara tulisan kawan-kawannya. Dini sudah menulis banyak karya, seperti sajak, puisi, cerpen, novel, naskah drama, esai serta menerjemahkan karya sastra asing dari berbagai genre. Tulisan-tulisan Dini sering kali bersinggungan dengan feminisme, melalui fiksi, dini ingin menyuarakan feminisme tanpa berteriak. Hal tersebut dilatarbelakangi sebagai sikap protes terhadap ketimpangan gender yang masih mencekik perempuan-perempuan Indonesia. Tulisan-tulisan Nh. Dini sering kali mengadopsi gaya autofiksi, Dini menyajikan kisah yang memadukan elemen autobiografi dan fiksi yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya serta pergaulan kosmopolitnya di berbagai negara.
Pada Sebuah Kapal merupakan novel pertamanya yang ditulis berdasarkan latar belakang penulis dan imajinasinya. Tokoh utama novel tersebut terbagi menjadi dua bagian Sri sebagai penari dan perjalanan Sri sebagai pelaut. Pada bagian kehidupannya sebagai penari menceritakan kehidupan Sri yang merupakan anak kelima dari lima bersaudara yang setelah lulus SMA memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Sri tidak merasakan duduk di bangku kuliah seperti saudara-saudaranya ia memilih bekerja sebagai penyiar radio untuk membatu kehidupan ibunya yang menjanda. Meskipun pendidikannya hanya sampai tahap SMA, Sri memiliki bakat menari Jawa dan fasih berbicara bahasa Inggris, tak heran dia menjadi penyair radio yang berbakat.
Kehidupan Sri terus berjalan, seiring bertambahnya pengalaman dan meluasnya pergaulan Sri memutuskan untuk merantau ke kota metropolitan, di kota tersebut Sri bekerja sebagai pramugari angkatan darat yang mengantarkan Sri bertemu dengan seorang prajurit angkatan darat bernama Saputro, mereka menjalin hubungan namun saat mendekati hari pernikahan, Saputro dinyatakan gugur dalam bertugas peristiwa tersebut membawa kesedihan yang mendalam bagi Sri. Kehilangan tersebut, akhirnya membawa Sri bertemu dengan seorang diplomat Prancis bernama Charles.
Pernikahan Sri dengan Charles tidak berjalan mulus, sikap Charles yang arogan dan patriarki dan memiliki kesibukan yang padat membuat Sri dilanda rasa hampa dan kesepian, hingga pada suatu perjalanan di sebuah kapal Sri bertemu dengan kapten kapal yang berkarisma, bernama Michel. Pertemuan Sri dan Michel membangkitkan kembali cintanya namun Sri terjebak dalam hubungan yang terlarang perselingkuhan Sri di tengah kehidupan pernikahan yang rapuh, mencerminkan perjuangan perempuan mencari jati diri dan kebahagiaan di tengah tuntutan sosial, tradisi dan patriarki.
Perjalanan tokoh utama Sri memiliki kesamaan dengan pengalaman hidup pengarang, Dini merupakan anak kelima dari lima bersaudara, sebelum menjadi sastrawan dan novelis, Dini pernah bekerja menjadi penyair radio RRI Semarang dan mengikuti kursus pramugari darat di GIA (Garuda Indonesia), dari industri penerbangan mempertemukan Dini dengan jalan hidupnya. Dini menikah dengan seorang diplomat berkebangsaan Prancis bernama Yves Coffin, kisah cinta tersebut merepresentasikan dinamika cinta lintas budaya yang memiliki perbedaan tradisi, nilai moral serta keagamaan. Kesesuaian latar belakang pengarang dengan tokoh utama pada novel tersebut tidak bersifat kebetulan, melainkan memperhatikan pengalaman personal pengarang yang terwujud menjadi ide pengarang dalam menghasilkan karya yang memiliki kekayaan makna. Nh. Dini tidak menceritakan ulang kehidupannya tetapi Dini berhasil mengolah pengalaman personalnya untuk menjadi inspirasi, dan menggabungkan imajinasinya menjadi kisah yang hidup, dan menyentuh. Nh. Dini menjadikan karyanya sebagai ruang dialog antara pengalaman pribadi pengarang dan realitas perempuan dalam pencarian jati diri, kebebasan dan cinta.
Pada Sebuah Kapal merupakan novel yang mengangkat isu perempuan yang relevan dengan masa kini, kesetaraan gender yang masih menjadi permasalahan utama perempuan di Indonesia, diskriminasi dan kesenjangan dari berbagai bidang masih kerap kali dialami oleh kaum perempuan tak jarang perempuan masih dirundung ketakutan dan kekhawatiran dalam memilih jalan hidup. Novel Pada Sebuah Kapal merepresentasikan mengenai diskriminasi, kesetaraan gender dan budaya patriarki yang dihadapi kaum perempuan.
“Aku menghendaki kesederhanaan, tidak suka kepada wanita-wanita yang terlalu pandai. Lelaki seperti aku memerlukan waktu untuk melepaskan diri dari pekerjaan dengan istirahat yang mutlak. Dengan seorang perempuan yang terlalu banyak bicara, dengan seorang perempuan yang suka berbincang, suasana tidak menemukan tempatnya yang pasti.”
Kutipan tersebut menggambarkan kehidupan patriarki yang dialami oleh Sri sebagai kaum perempuan. Perempuan yang pandai dianggap sebagai penghalang bagi kaum laki-laki, realitas tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih dianggap sebelah mata. Fenomena tersebut menunjukkan budaya patriarki yang masih kuat dan sangat mengakar. Melalui karyanya Dini berhasil menyuarakan hak-hak perempuan dan memberikan ruang kebebasan berpendapat bagi perempuan, Dini telah mendobrak asumsi patriarki dan kesetaraan gender yang dihadapi kaum perempuan.












Tinggalkan Balasan