
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Dadang Darojat
Di sebuah desa kecil, berdiri sebuah sekolah dasar dengan bangunan sederhana yang catnya mulai memudar. Di sana, setiap pagi seorang guru bernama Pak Raka selalu datang lebih awal, menyapu halaman, membuka ruang kelas, lalu menata bangku-bangku kayu yang sudah mulai reyot.
Pak Raka bukan guru tetap. Ia hanyalah guru honor yang sudah sepuluh tahun mengabdi. Gajinya tidak seberapa, bahkan seringkali habis hanya untuk ongkos perjalanan. Namun semangatnya tak pernah padam. Baginya, senyum dan tawa anak-anak adalah bayaran yang tak ternilai.
Setiap kali bel masuk berbunyi, ia berdiri di depan kelas dengan kemeja lusuh yang sudah memudar warnanya. Ia mengajar dengan hati, bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai tentang kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang.
“Pak, nanti kalau saya besar saya mau jadi guru seperti Bapak,” ucap seorang muridnya suatu hari.
Pak Raka tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Jadilah apa saja yang kamu mau, yang penting jangan lupa berbuat baik,” jawabnya lembut.
Namun di balik senyum itu, tersimpan resah yang tak pernah selesai. Sudah berkali-kali ia mendengar janji dari pemerintah tentang pengangkatan guru honor. Setiap ada kabar seleksi, hatinya berdebar. Setiap ada isu tentang peningkatan kesejahteraan, ia kembali berharap. Tapi tahun berganti, nama dan nasibnya tetap tak jelas.
Kadang, saat malam tiba dan sekolah sudah sepi, ia duduk di bangku kelas sambil menatap papan tulis yang penuh coretan kapur. Ia bertanya pada dirinya sendiri: “Sampai kapan aku harus menunggu? Apakah pengabdianku ini akan diakui?”
Namun esok paginya, semua gundah itu lenyap begitu melihat anak-anak berlari kecil menyambutnya, “Selamat pagi, Pak!” dengan suara riang. Seakan mereka berkata bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
Sepuluh tahun sudah Pak Raka menunggu kepastian, tapi semangatnya tak pernah pudar. Ia sadar, mungkin bukan jabatan atau gaji besar yang menjadi takdirnya, melainkan pengabdian yang tulus.
Baginya, menjadi guru adalah panggilan jiwa.
Dan meski nasibnya masih samar, ia tetap berdiri tegak di depan kelas, menyalakan cahaya ilmu di hati anak-anak desa.
Karena ia percaya, suatu saat nanti penantian panjangnya akan terjawab, entah lewat keputusan yang adil, atau lewat doa-doa muridnya yang terus mengiringi.












Tinggalkan Balasan