Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Pelita dari Kota untuk Budisari

[Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Eneng Reni]

Penulis: Eneng Reni

Pagi Ini Terasa Sangat lebih dingin dari biasanya, waktu baru menunjukan pukul 4.30 pagi ia sudah bersiap-siap  dimana Sebagian orang masih ada yang berselimut mimpi, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan Bandung Barat,bu Yani sudah bergegas menyusuri jalan gang rumah nya yang berada di daerah Kota cimahi.

Bu Yani adalah seorang Guru yang tidak lagi muda ya.. sebentar lagi bu yani akan memasuki usia pensiun,sudah hampir 30 tahun  mengabdi di Sekolah Dasar Negri Budisari Sekolah yang berada di antara Pegunungan, kebun, dan jalan berbatu yang tak ramah bagi kendaraan tetapi disana banyak tersimpan harapan dan cita-cita anak bangsa. Langkah Bu yani tidak pernah goyah atau berhenti sedikit pun ia terus berjalan menuju tempat dimna dia bisa memberikan cahaya Pendidikan.Tiga jam perjalan harus di  tempuh dari kota cimahi, dan itu bukan lah hal yang mudah tetapi itu semua tidak menjadi alasan untuknya menyerah.

Setelah sampai di daerah cililin ia harus melanjutkan perjalanan dengan naik ojeg sekitar sepuluh menit jalan yang cukup terjal kala itu tahun 1996 dimana jalan masih belum bisa di akses dengan mudah masih berbatu tubuhnya berguncang hebat melewati jalan berbatu, licin, dan terjal. Di musim hujan, lumpur menempel di roda dan membuat motor sering tergelincir. Tak jarang ia harus turun, menuntun motor bersama tukang ojeg agar bisa melewati jalan menanjak. Namun di balik rasa lelah, ada semangat yang tak pernah padam.

 Sesampainya di sekolah, wajah-wajah polos muridnya menyambut. Mereka datang dengan pakaian seadanya, beberapa bahkan tanpa alas kaki. Namun sorot mata mereka memancarkan sesuatu yang membuat Bu Yani semakin bersemangat untuk memberikan pendidikan terbaik.

Dari tahun ke tahun, wajah murid-murid itu berganti, tetapi semangat Bu Yani tidak pernah luntur. Sejak 1996 hingga 2025, ia menjadi saksi bagaimana anak-anak yang dulu belajar di ruang kelas sederhana itu kini tumbuh dewasa. Bahkan saat ini banyak guru-guru di sekolah itu yang dulu nya mereka adalah murid – murid bu yani.

“Jika bukan karena  Bu Yani, mungkin saya tidak bisa membaca,” kata seorang alumni yang kini sudah berkeluarga. Kata-kata itu seperti obat yang membangkitkan semangat Bu Yani dan bisa menghapus semua rasa lelah dari perjalanan panjangnya.

Memasuki tahun 2000-an, dunia mulai berubah. Telepon genggam masuk ke pelosok, jalanan sedikit diperbaiki meski masih jauh dari layak. Namun semangat Bu Yani tetap sama.

Setiap kali melewati jalan terjal, ia berbicara dengan tukang ojeg langganan nya, yang semakin lama semakin seperti keluarga sendiri.

“Bu, kalau pensiun nanti, Ibu pasti lega. tidak perlu lagi jauh-jauh begini.”

Bu Yani hanya tersenyum. “Kalau saya berhenti, siapa yang akan mengajar anak-anak Budisari?”

Terkadang ada pertanyaan “ Bu kenapa tidak minta pindah saja, kasian ibu capek pulang pergi dengan jarak yang tidak dekat dan jalan yang cukup terjal”

“ saya kasian sama anak-anak dan sekolah disni PNS hanya saya dan Kepala sekolah”

Selalu ada rasa menyayangi dan mencintai dari seorang guru Bernama bu yani ini, ia terlalu mencintai pekrjaannya sehingga apapun yang mejadi tantangan membuatnya semakin mencintai pekerjaan nya.

Dua puluh Sembilan tahun sudah  mengajar di Budisari. Rambutnya mulai beruban, namun suaranya tetap tegas di depan kelas.  masih semangat mengajar meski kadang badannya tidak sekuat dulu, akhir-akhir ini ia sering berobat kerumah sakit karna pandangan nya yang sudah tidak bagus, kondisi lutut nya yang tidak sekuat dulu, padahal dulu ia adalah seorang guru yang kuat sebelum ada transportasi seperti ojeg  berjalan kaki sekitar 4km.

Perjalanan tiga jam itu bukan sekadar lintasan. Ia menjadi saksi bisu perjuangan. Hutan, sawah, bukit, semuanya sudah akrab. Terkadang ia sering membeli makanan kucing ia sangat menyayangi mahluk yang di sayangi nabi tersebut dimana pun  bertemu kucing liar ia sering memberi mereka makanan.

Alam seakan menjadi sahabat yang menemaninya sepanjang perjalanan pengabdian.

Bu Yani pun adah saksi dimana waktu itu baru ada kendaran Bus yang di beri nama “MADONA” ramainya dan sesaknya kendaran tersebut  ia alami setiap hari hingga saat ini sampai kendaraan umum itupun semakin sepi, terkadang saking lelahnya  sering ia mengantuk dan tertidur dalam kendaraan dan terbawa sampai keterminal leuwi Panjang.

Ketika pandemi datang, segalanya berubah. Sekolah ditutup, murid belajar dari rumah. Namun bagaimana dengan Budisari yang sinyal internet pun nyaris tak ada? Bu Yani kembali mengambil peran. Ia menyiapkan buku pelajaran dan mempersiapakn soal untuk siswanya kerjakan, ia sering membagikan dari rumah ke rumah. Kadang ia harus berjalan kaki lebih jauh karena ojeg tak bisa masuk.

“Bu, maaf kalau kami tidak bisa beli kuota,” kata seorang orang tua murid.

“Tidak apa-apa, Pak. Belajar itu tidak harus dengan internet. Yang penting semangat anak-anak tetap hidup,” jawab Bu Yani.

Kini, tahun 2025. Hampir tiga dekade sudah Bu Yani mengabdi. Usianya tak lagi muda, rambut putih semakin jelas terlihat. Namun semangatnya tak pernah padam.

Suatu pagi, ia kembali menempuh perjalanan tiga jam. Angin dingin, jalan berlumpur, semua terasa biasa. Sesampainya di sekolah, anak-anak menyambut dengan tawa riang.

“Bu Guru datang!” seru mereka.

Bu Yani berdiri di depan kelas, menatap murid-murid dengan penuh kasih.

“Anak-anakku, jangan pernah menyerah. Jalan kalian mungkin terjal, tapi ilmu akan membawa kalian ke tempat yang lebih baik.”

Di sudut kelas, ia melihat foto-foto murid lama yang kini sudah sukses. Dari situlah ia tahu: pengorbanannya tak sia-sia.

Dia mengingat Kembali semua kenangan di masa lalu dia masih ingat waktu pertama dia mendapatakn Surat Keputusan untuk mengajar di SD Budisari,kala itu  Bu Yani memeluk erat map biru berisi SK penugasan. Ia baru saja diangkat sebagai guru di SDN Budisari. Teman-temannya yang lain menertawakan, “Kenapa mau mengajar di tempat sejauh itu? Jauh dari kota, jalannya terjal, gajinya pun kecil.”

Hari itu, halaman SDN Budisari dipenuhi wajah-wajah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Bu Yani. Murid-murid lama datang, beberapa sudah membawa anak mereka sendiri. Rekan-rekan guru berdiri di sampingnya, menahan haru.

Dengan suara bergetar, Bu Yani berkata: “Anak-anakku, hari ini adalah hari terakhir Ibu berdiri di sini sebagai guru kalian. Sejak 1996, hampir tiga puluh tahun, ibu menempuh perjalanan panjang—tiga jam setiap hari—demi sampai di sekolah ini. Banyak yang bilang jalan itu berat, terjal, dan melelahkan. Tapi bagi ibu, setiap langkah adalah doa, setiap guncangan di atas ojeg adalah tanda bahwa ibu masih diberi kesempatan untuk bertemu kalian.

Kini, saatnya ibu berpamitan. Bukan karena lelah, tapi karena waktunya sudah tiba. Ibu percaya, generasi yang ibu ajar akan menjadi penerus yang lebih kuat, lebih pintar, dan lebih berani menghadapi jalan terjal kehidupan.

Ingatlah selalu, ilmu adalah cahaya. Meski jalan menuju ilmu tidak mudah, jangan pernah menyerah. Seperti ibu yang tidak pernah menyerah menembus jalan Budisari, kalian pun jangan pernah menyerah menembus jalan menuju masa depan.”

Air mata jatuh, namun senyumnya tetap hangat. Murid-murid  bertepuk tangan, beberapa berlari memeluknya. Hari itu, Bu Yani bukan hanya berpamitan sebagai seorang guru tetapi beliau meninggalkan warisan abadi: sebuah pengabdian tanpa batas untuk pendidikan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

4 tanggapan untuk “Pelita dari Kota untuk Budisari”

  1. Avatar
    Anonim

    MasyaAllah sangat menyentuh hati 🥹

  2. Avatar Anak didikmu
    Anak didikmu

    Masyaallah sangat menginspirasi untuk kami anak muda yang sering mengeluh, beliau merupakan sosok guru yang ikhlas dan mulia beliau selalu menjadi penyulut semangat kami anak muda, terimakasih untuk inspirasi nyata yang takan pernah kami lupakan❤️

  3. Avatar
    Anonim

    Masya Allah, selamat berkarya dan jangan berhenti menulis agar dunia literasi terus berkembang semangat

    1. Avatar Ayumi
      Ayumi

      Masya Allah
      Sangat inspiratif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *